SABTU, 20 MEI 2017

YOGYAKARTA --- RM Suwardi Suryaningrat atau yang kemudian dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, merupakan salah satu tokoh penting dalam pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia di awal abad 20. Bersama tokoh lain seperti Sutomo, Ir Soekarno, Dr Tjipto Mangunkusumo, dan dr Douwes Dekker, RM Suwardi Suryaningrat, aktif melakukan berbagai kegiatan dalam menumbuhkan kesadaran nasional sebagai sebuah bangsa Indonesia. 

Ki Suwarjono.
Menurut Ketua Harian Majelis Luhur Tamansiswa, Ki Suwarjono, Suwardi Suryaningrat telah aktif dalam organisasi Budi Utomo sejak awal pendiriannya oleh Sutomo tahun 1908 hingga munculnya ikrar Sumpah Pemuda tahun 1928.

Dalam keorganisasian Budi Utomo sendiri, Suwardi Suryaningrat kala itu tergabung dalam bagian propaganda, yang bertugas mempropagandakan semangat nasionalisme baik melalui tulisan-tulisannya maupun melalui pertemuan-pertemuan dan sarasehan.

Dewantara aktif menyuarakan dan menyadarkan segenap rakyat kala itu agar memiliki kesamaan pandangan sebagai sebuah bangsa Indonesia. Sebagai orang yang terjajah, rakyat memiliki hak atas kedaulatan bangsanya.

"Setiap orang Indonesia memiliki hak untuk menempati kekuasaan pemerintahan. Dia memiliki hak untuk mengatur dan mengelola sumber daya alamnya sendiri," kata Ki Suwarjono saat ditemui Cendananews, di kantornya Sabtu (20/05/2017).

Aktif menulis di berbagai media masa, Suwardi Suryaningrat yang merupakan bangsawan Kabupaten Pakualaman ini, terkenal sangat kritis. Salah satu tulisannya di harian De Expres yang mengkritisi sikap pemerintah Hindia Belanda, bahkan membuatnya harus dibuang atau diasingkan ke negri Belanda bersama dua teman seperjuangannya yakni Tjipto Mangunkusumo dan Dowes Dekker, sehingga ketiganya kemudian sering disebut sebagai Tiga Serangkai.

Sekembali dari pengasingan, Suwardi Suryaningrat memilih jalur pendidikan sebagai jalan melakukan perjuangannya. Beliau kemudian mendirikan Perguruan Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Setelah banyak didirikan di berbagai daerah, tahun 1923, sekolah Budi Utomo digabungkan dengan Tamansiswa.

"Pada usia ke 40, Suwardi Suryaningrat kemudian, melepaskan gelar kebangsawanannya dan menggani namanya menjadi Ki Hajar Dewantara, agar lebih dekat dengan rakyat," katanya.

Dalam memperjuangkan Indonesia sebagai sebuah bangsa, Ki Hadjar Dewantara membangun sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan. Setiap ajarannya didasarkan pada tiga hal yakni kebangsaan, kepemimpinan dan budi pekerti luhur yang menjadi nilai dasar Pancasila.

Ki Hajar Dewantara dikatakan, juga selalu menanamkan rasa nasionalisme dan kebangsaan pada setiap anak didiknya. Penetapan lahirnya Budi Utomo sebagai hari Kebangkitan Nasional Indonesia dikatakan juga merupakan usulan dari Ki Hajar Dewantara.

"Ki Hajar Dewantara selalu mengajarkan agar setiap anak didiknya memiliki kedaulatan dan tidak mau dijajah," katanya.

Ajaran Ki Hajar Dewantara itulah yang hingga kini dikatakan Suwarjono, dipegang teguh oleh Majelis Luhur Tamansiswa. Yakni dengan melakukan upaya substantif berupa pembangunan moral generasi muda melalui dunia pendidikan.

Salah satunya dengan menanamkan nilai kebangsaan, dengan cara membangun empati dan simpati antar sesama warga sebangsa dan senegara. Ada yang salah dengan pendidikan kita. Sehingga saat ini banyak muncul kegaduhan, pertengkaran, perpecahan antar individu kelompok atau golongan, yang dapat mengarah pada disintegrasi bangsa.

"Karena itulah Tamansiswa, tidak pernah ikut campur dalam semua kegaduhan itu, karena kita teguh meneruskan ajaran Ki Hajar Dewantara, untuk membangun dan memperjuangkan Indonesia dengan jalur pendidikan secara luas sebagai sarana," katanya.

Patung RM Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara.
 Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours