TadeusTara, Sang Pelestari Tenun Flores

115

MINGGU, 14 MEI 2017

MAUMERE — Bagi masyarakat Flores, NTT dan khususnya Kabupaten Sikka,kain tenun merupakan sebuah karya warisan nenek moyang yang hingga kini tetap dilestarikan dan menjadi sebuah kebanggaan karena kain tenun ikat tersebut kini mulai mendunia.

Tadeus Tara dan koleksi tenunnya.

Adalah Tadeus Tara (64), warga Desa Egon Gahar Kecamatan Mapitara Kabupaten Sikka  mulai tekun berjualan kain tenun sejak t2015 silam. Dia mempunyai  keinginan melestarikan adat dan budaya sebagai tujuan utamanya berdagang selain mencari sedikit keuntungan.

Kepada Cendana News yang menyambanginya Minggu (14/5/2017) siang di tempat berjualannya bernama Toko Sarung Adat Ina Kotin Mapitara di Pasar Alok Maumere. Tadeus mengaku senang bisa berjualan kain sarung tenun ikat dari berbagai wilayah di NTT.

Kain Tenun Dicuri

Tadeus mengaku dirinya awalnya sebagai petani di kampung.  Namun dia bakat berdagang di dalam dirinya dan membuat  ayah 5 orang anak ini bersama sang isteri mulai berdagang sejak sekitar 1980-an.

“Saya awalnya berjualan di Pasar Tingkat Maumere dengan menjual sayur-sayuran dan aneka hasil kebun lainnya dengan menggelar dagangan di tanah hingga memiliki los ala kadarnya,” ucapnya.

Di sela-sela menjual aneka sayuran dan buah-buahan, lelaki yang hanya berpendidikan sekolah dasar ini menyelipkannya dengan berjualan satu dua lembar sarung tenun yang dibelinya dari masyarakat di kampungnya maupun orang yang datang menawarkan kepadanya.

Lama kelamaan sebut Tadeus, minat masyarakat kota Maumere untuk membeli kain tenun kian besar sebab di Kota Maumere sudah tidak banyak lagi yang menenun. Banyak pendatang yang juga membutuhkan kain tenun untuk dipergunakan saat ritual adat, perkawinan hingga dibuatkan pakaian.

“Saya mulai tekun jualan kain tenun setelah melihat semakin jarang masyarakat di kampung menenun padahal warisan nenek moyang ini harus dipertahankan,” tegasnya.

Tadeus pun berani menyewa dua los di pasar Alok yang kosong sejak 2016 dan tekun menjual kain tenun ikat di pasar terbesar di kota Maumere ini hingga membuatnya mulai terkenal sebagai penjual kain tenun.

Tadeus Tara di depan tokonya.

Dua los pasar yang disewanya diperbaiki dengan merombak total bangunan sederhana dari kayu ini dengan bangunan tembok dan ditata dengan lebih baik agar bisa memajang kain tenun yang dijualnya dengan lebih baik dan tertata.

“Saya terpaksa merombak total bangunan yang ada dengan menggunakan dana sendiri sebab bulan lalu kain tenun saya dicuri saat malam hari. Saya menderita kerugian seratus juta rupiah lebih,” terangnya.

Bagi pria asal Mapitara ini, kerugian yang dialaminya merupakan sebuah tantangan bagi dirinya untuk tekun bekerja namun diriny menyesal atas sikap pengelola pasar dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sikka yang tidak memberikan pelayanan keamanan kepada pedagang di Pasar Alok.

Tadeus tidak menyesal harus mengeluarkan uang biaya sewa sebesar 250 ribu rupiah sebulan bahkan lebih asal berbagai fasilitas yang dibutuhkan pedagang termasuk jaminan keamanan agar kiosnya tidak dimasuki pencuri dipenuhi pemerintah selaku pengelola pasar.

Biaya Kuliah Anak

Nama Ina Kotin Mapitara dipilih Tadeus untuk menamakan kios miliknya sebab Ina Kotin merupakan seorang nenek di kampungnya yang selalu setia menenun meski di usia renta sementara nama Mapitara merupakan nama daerah asalnya.

Kain tenun yang dijual Tadeus tergolong lengkap sebab selain berasal dari berbagai wilayah yang ada di Kabupaten Sikka dengan berbagai motif dan warna. Dirinya juga menjual kain tenun dari berbagai wilayah lain di Provinsi NTT.

“Semua kain tenun saya beli dari masyarakat di kampung-kampung,dari penjual dari desa yang datang menjualnya di Pasar Alok maupun masyarakat yang datang menjualnya sendiri kepada saya,” ungkapnya.

Terdapat ribuan kain tenun di kios miliknya dan menarik perhatian pengunjung  Tadeus mengakui semua uang hasil penjualan dalam sehari langsung dibelikan kain tenun lagi sebab dia tidak mau menyimpan uang di bank dan lebih memilih menyimpan kain tenun yang diakuinya sebagai aset.

Dari hasil berjualan kain tenun, pria humoris yang juga sangat fasih menjelaskan motif dan asal kain tenun serta filosofi di balik kain tenun yang dijual ini bisa menyekolahkan dua anaknya hingga bangku kuliah.

“Seorang anak  saya sudah tamat kuliah dan bekerja di rumah sakit di Jakarta, sementara dua lainnya, satu sedang kuliah di Jakarta dan satu lagi sudah tamat sekolah dan menjadi biarawati” terangnya.

Tadeus mengakui, dua anak lelakinya tidak mau bersekolah dan lebih memilih berdagang sementara tiga anak perempuannya memilih melanjutkan penddikan hingga bergelar sarjana dan bekerja.

Dirinya juga membiayai tiga anak dari saudara dimana seorang sedang berkuliah di Ende dan satunya sudah tamat SMA dan ingin melanjutkan kuliah dan yang seorang lagi masih sekolah di Maumere juga.

Kain tenun yang dijual di kios Ina Kotin harganya bervariasi antara 100 ribu rupiah hingga jutaan rupiah.  Selendang dibandroll seharga 100 ribu sebuah sementara kain tenun berkisar antara 400 ribu rupiah untuk kain tenun dari benang pabrikan dan pewarna sintesis hingga 3 juta rupiah yang menggunakan kapas dan pewarna alami.

Selain kain tenun, juga pakaian, tas dan dompet berbahan baku tenun ikat serta gelang dan cincin gading serta Tadeus juga menjual tempat tidur kayu yang diletakan di depan kiosnya hanya untuk sekedar menambah penghasilan.

Saat disambangi Cendana News seorang pembeli asal Jakarta bernama Citta yang bekerja di sebuah perusahaan asing di Jakarta Selatan mampir ke kios miliknya dan membeli 3 kain tenun dari bahan kapas dan pewarna alami serta  4 buah selendang.

Citta yang mengaku asli Solo ini tertarik membeli kain tenun untuk dijahit menjadi pakaian dan dikenakan sebab kain tenun saat ini sedang menjadi tren dan dirinya mengaku sangat tertarik menggunakan kain tenun.

“Saya membelinya untuk buat dibagikan ke keluarga dan juga sekalian ingin mencari partner sebab saya ingin membuka toko online menjual kain tenun juga sebab saya selama ini menjual kain batik juga,” ungkapnya.

Dirinya mengakui selalu mengirimkan kain tenun ke Jakarta, Surabaya, Magelang dan Bali padahal pembelinya tidak pernah datang ke Maumere tapi selama ini urusan bisnis berjalan lancar sebab kedua pihak saling menjaga hubungan baik.

Aneka tas dan kerajinan tangan dari kait tenun ikat di kios Ina Koting Mapitara di Maumere.

 Jurnalis: Ebed de Rosary/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Ebed de Rosary

Source: CendanaNews

Komentar