Transjakarta Rekrut Sopir Khusus untuk Koridor Tertinggi

61

SELASA, 16 MEI 2017

JAKARTA — Jalur Koridor XIII Transjakarta berbeda dengan koridor yang lain. Koridor ini merupakan koridor yang paling tinggi dari permukaan tanah, sekitar 23 meter dari permukaan tanah.

Direktur Operasional PT Transjakarta, Daud Joseph.

Melihat itu, PT Transjakarta menyatakan akan sangat ketat dalam menyeleksi pengemudi atau sopir yang akan mengoperasikan bus Transjakarta di jalan layang non tol koridor XIII. Hanya sopir dengan pengalaman dan jam terbang tinggi saja yang bakal mendapatkan ijin untuk mengendarai bus di rute yang akan diresmikan pada 22 Juni.

Selain itu, PT Transjakarta juga akan mengatur batas maksimal kecepatan bus. Jika normalnya laju kecepatan bus Transjakarta di jalur reguler bisa mencapai 50 kilometer per jam. Tetapi untuk bus Transjakarta yang melaju di jalan layang koridor ini Transjakarta akan memberlakukan aturan kecepatan baru.

“Dengan ketinggian jalan yang mencapai 23 meter, laju kecepatan bus tidak bisa cepat, paling maksimal hanya 40 km/jam,” ujar Direktur Bidang Operasional PT Transjakarta, Daud Joseph, saat dihubungi Cendana News, Jakarta, Selasa (16/5/2017).

Ia menambahkan, batasan kecepatan bus itu diatur dan memiliki standar yang berbeda dengan koridor lain setelah menimbang ketinggian jalan layang non tol koridor XIII. Sebagian besar mencapai ketinggian hingga 20 meter dari permukaan tanah.

“Jalan layang ini kan tinggi banget, ada yang sampai 23 meter (di sekitar CSW). Kondisi jalur itu juga ada banyak tikungan, jadi sangat dibutuhkan kewaspadaan yang tinggi. Makanya untuk koridor ini, akan direkrut pengemudi yang sudah senior dan master saja untuk menjaga keamanan penumpang,” tambah Joseph.

PT Transjakarta juga akan melakukan ujicoba. Pada tiga bulan operasional pertama akan dilihat peminat bus ekspres dulu, jika pengguna cukup banyak PT Transjakarta akan menambah jumlah armada yang beroperasi melayani pengguna di koridor itu.

“Dengan sistem tap in dan tap out yang selama ini sudah dijalankan kan sebenarnya bisa dibaca jumlah penumpang yang menggunakan fasilitas ini dan bisa dilihat juga perjalanan setiap penumpang. Kalau ternyata banyak penumpang ‘batu’, yang artinya memang naik dari ujung ke ujung (Ciledug-Tendean), bisa jadi 50 persen bus yang beroperasi adalah bus ekspres,” kata Joseph.

Berbeda dengan bus ekspres, bus reguler akan berhenti di semua atau 12 halte koridor XIII dan ditargetkan bisa menempuh waktu 20 menit dari Ciledug ke Tendean.

Bus reguler dan bus ekspres nantinya disiapkan juga untuk melayani penumpang Transjakarta di koridor ini. Untuk bus ekspres, PT Transjakarta menargetkan jarak Ciledug-Tendean bisa ditempuh hanya dalam waktu 10 menit.

Target waktu tempuh itu ditetapkan karena bus ekspres hanya berhenti di dua halte saja dari total 12 halte yang berada di sepanjang koridor XIII. Kedua halte yang menjadi titik pemberhentian adalah Halte CSW (Centrale Stichting Wederopbouw) dan Velbak.

Halte CSW dan Halte Velbak juga diprediksi menjadi dua dari empat halte Transjakarta paling sibuk.

Bus Transjakarta Express.

Halte CSW bakal ramai dengan penumpang karena terintegrasi dengan Koridor I (Blok M-Kota). Apalagi, dalam waktu dua tahun mendatang, halte ini akan jadi salah satu halte Transjakarta yang langsung terintegrasi dengan halte Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta.

Sementara Halte Velbak terintegrasi langsung dengan Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni) dan stasiun Commuter Line Kebayoran Lama.

 Jurnalis: Bayu A. Mandreana / Editor: Satmoko / Foto: Bayu A. Mandreana

Source: CendanaNews

Komentar