Triyoso Yusuf Tonjolkan Javanese Art Lewat Distorsi Anatomi

56

SENIN, 15 MEI 2017

SURABAYA — Sebagai orang Jawa asli yang juga berprofesi sebagai seniman lukis, Triyoso Yusuf seringkali membuat karya dengan tema kebudayaan daerahnya. Sama halnya dengan puluhan lukisan hasil karyanya yang ditampilkan dalam sebuah pameran bertajuk ‘Javanese Art’ di Galeri Dewan Kesenian Surabaya pada tanggal 10 hingga 16 Mei 2017.

Pengunjung menikmati karya Triyoso dengan saksama

Pria yang akrab disapa Triyoso ini sengaja menampilkan kebudayaan Jawa sebagai obyeknya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan pengunjung tentang keberagaman yang ada. Mayoritas dalam karya Triyoso mengangkat kehidupan sehari-hari dan aktivitas orang Jawa, mulai dari spiritual, hiburan, pekerjaan hingga kebiasaan. Uniknya, Triyoso menuangkan semua gagasan di karyanya dalam ruang lingkup distorsi anatomi.

Triyoso menjelaskan bahwa arti dari distorsi anatomi sendiri adalah perusakan anggota tubuh. Bukan berarti Triyoso menampilkan gambar sadisme atau potongan tubuh rusak, tetapi ukuran dan warna yang digunakan tidak pada umumnya. Hal ini justru menarik minat pengunjung karena masih dalam batas wajar dan proporsi.

“Maksudnya di sini saya memainkan warna, bentuk dan ukuran dari anggota tubuh. Contohnya ada yang lehernya panjang, kepala kecil, dahinya lebar, jari kecil dan beberapa ukuran lain yang sebenarnya janggal atau tidak semestinya, namun masih enak dilihat. Selain itu kalau warna juga, ini ada yang tangan kanan biru, tangan kiri cokelat. Terus ada kulit warna hijau dan masih banyak lagi,” ungkap Triyoso.

Salah seorang pengunjung, Dimas Faturrahman, mengaku tertarik dengan salah satu ciri khas lukisan karya Triyoso. Jika dilihat, seluruh lukisan yang ada dalam pameran ini menampilkan karakter manusia dengan mata tertutup. Menurut dimas, karakter tersebut dapat meningkatkan nilai dari lukisan yang bersangkutan.

“Unik sih semuanya merem atau tidak membuka mata. Awalnya tidak sadar, tetapi lama-lama setelah memperhatikan semuanya baru ngeh. Tidak ada satu lukisan pun yang menampilkan mata terbuka atau melek. Kalau secara keseluruhan sih karya mas Triyoso unik karena berwarna warni dan menonjolkan kebudayaan,” kata Dimas.

Triyoso Yusuf

Menanggapi hal ini, Triyoso memberikan alasan tersendiri mengapa dirinya selalu menggambarkan manusia dengan mata tertutup di setiap lukisannya. Hal tersebut dilandasi dengan sebuah falsafah kuno Jawa tentang menerima segala sesuatu alias bersyukur.

“Kalau secara kultural orang merem itu kan artinya suda tidak mau melihat kemana-mana. Ia akan tentram, damai, ikhlas menerima segala sesuatu yang ada di hadapannya. Ya seperti falsafah orang Jawa gemah ripah loh jinawi, tidak ingin kesana kemari, apa yang ada dimanfaatkan dan disyukuri,” jelas Triyoso.

Yang menarik dalam acara pembukaan beberapa waktu lalu, Triyoso justru mengundang beberapa murid taman kanak-kanan untuk didaulat sebagi pembuka. Mereka juga ikut membuat karya lukisan sesuai kemampuan masing-masing dan hasilnya turut dipamerkan kepada pengunjung.

Jurnalis: Afif Linofian / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto: Afif Linofian

Source: CendanaNews

Komentar