Tuntut Kesejahteraan, Ribuan GTT di Karanganyar, Dzikir Bersama

46

KAMIS, 18 MEI 2017

SOLO — Ribuan Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) di lingkup dunia pendidikan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menggelar Dzikir dan Doa Bersama di Masjid Agung Karanganyar, sebagai bentuk  protes terhadap Pemerintah Daerah setempat, yang dinilai masih menganak-tirikan mereka. 

Ribuan GTT dan PTT di Karanganyar gelar doa dan dzikir bersama.

Aksi yang dituangkan dalam Dzikir dan Doa bersama ini juga menghadirkan seorang kyai. Setidaknya, aksi protes yang dibalut dengan acara relegi ini diikuti oleh 2.000 GTT dan PTT yang ada di Karanganyar. Diharapkan, Pemerintah Kabupaten Karanganyar, memberikan perhatian kesejahteraan kepada mereka.

“Selama ini, baru pegawai yang berstatus Kategori 2 (K2) yang mendapat perhatian dengan adanya santunan. Sementara untuk GTT dan PTT yang jumlahnya lebih banyak dan memiliki masa kerja yang lama, belum ada sama sekali,” ucap ketua kegiatan, Edi Pamiluwardi, kepada Cendana News, Kamis (18/5/2017).
 
Disebutkan, GTT dan PTT di lingkup dunia pendidikan di Karanganyar, hingga kini berjumlah lebih dari 2.000 orang. Mereka telah bekerja sejak 2006-2017. Ironisnya, GTT dan PTT belum ada sama sekali santunan dari Pemkab Karanganyar. “Karena itu, aksi yang kita lakukan adalah dengan menyerahkan kepada yang menciptakan manusia sebagai mahluk-NYA. KIta berharap dengan Dzikir dan Doa bersama ini pejabat yang bersangkutan dapat terketuk hatinya,” kata Edi.

GTT dan PTT memilih aksi relegi dibanding aksi di lapangan dengan berorasi, karena lebih santun. Terlebih, dengan aksi yang dilakukan di Masjid, membuat acara yang digelar terasa lebih dingin.  Pihaknya berharap, Pemkab Karanganyar memberi kebijakan yang adil kepada tenaga honorer,  tanpa membedakan dengan istilah  K1, K2 maupun lainnya.

“Kami ingin membangun pendidikan dengan memuliakan pendidikan dan tenaga pendidikan. Apalagi di acara dzikir dan doa bersama ini tidak hanya diikuti mereka yang beragama Islam. Dari 5 agama yang ada di Karanganyar juga menghormati dan menghargai perbedaan dengan ikut kegiatan ini,” tandasnya.

Edi Pamiluwardi

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Juliatmono, yang sempat mengikuti jalannya dzikir dan doa bersama, menyatakan, pihaknya saat ini masih mengumpulkan data GTT maupun PTT. Pemkab Karanganyar juga mulai menghitung anggaran untuk meningkatkan kesejahteraan bagi mereka. “Kalau data kami sudah ada. Kami hanya perlu menyempurnakan masa pengabdian masing-masing.  Saat ini mencari regulasi untuk memberikan santunan, apa menggunakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau APBD,” jelas Bupati.

Pemkab Karanganyar  juga mengapresiasi aksi yang dilakukan GTT dan PTT dengan menggelar dzikir dan doa bersama. Menurut Bupati,  kegiatan yang diselenggarakan ribuan GTT dan PTT merupakan  bentuk aksi demo. “Bagus ini,  aksi demo religi. Karanganyar masih banyak kekurangan guru. Jangan khawatir, Pemerintah pasti akan memikirkan kesejahteraan guru,” pungkasnya.

Jurnalis: Harun Alrosid/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Harun Alrosid

Source: CendanaNews

Komentar