MINGGU, 7 MEI 2017

MALANG --- Kayutangan merupakan salah satu kawasan bersejarah yang berada di kota Malang. Pada  masa  penjajahan Belanda kawasan menjadi pusat perekonomian, bisnis dan gaya hidup. Toko-toko utama seperti Onderling Belang,  Warenhuis Weissberg (kemudian menjadi Toko Oen pada 1930), salon untuk pria yang biasanya diusahakan orang Jepang  seperti yang diungkapkan de Malanger 17 Juni 1929. 

Pusat kegiatan A Day to Walk.
 Tidak heran jika sampai saat ini masih ada beberapa bangunan tua bersejarah yang terdapat di kawasan tersebut. Melihat adanya potensi sejarah tersebut, Komunitas "A Day to Walk" yang digawangi oleh Sindi Asta, Gaharu Jabal dan Lintang ingin mencoba melestarikan sekaligus menghadirkan alternatif wisata di tengah kota.

Kegiatan ini  berupa walking tour (berwisata dengan jalan kaki) wisata sejarah Kampung Kayutangan melalui acara 'Waktu Ruang Kayutangan'. Acara yang berlangsung selama dua hari tersebut (6-7/5/2017) di gelar di Jalan Basuki Rahmat  (nama Jalan Kayutangan sekarang) RW 01 dan RW 09 serta di Pasar Talun.

"Jadi kegiatan Waktu Ruang Kayutangan adalah usaha kami agar masyarakat Malang tidak asing dan tersesat di kotanya sendiri. Karena kita bertiga dari Komunitas "A Day to Walk" merupakan orang asli Kota Malang," jelas koordinator acara, Sindi Ata kepada Cendana News, Minggu (7/5/2017).

Acara waktu ruang ini adalah acara yang sengaja digagas untuk mengangkat sejarah Kayutangan melalui lokalitas warganya. Kami membuat acara di pasar Talun ini untuk nantinya proyeksi ke depan adalah ingin menjadikan kawasan Kayutangan ini sebagai heritage tourism, itu impian kami, ucapnya.

Salah satu kegiatan untuk anak-anak.

Namun begitu Sindi mengaku bahwa acara "Waktu Ruang" ini hanya sebagai langkah awal untuk mencapai impian tersebut.

"Kita harus memulainya dari langkah kecil dulu yakni membuat acara di kampung yang melibatkan warga kampung. Jadi kita tidak hanya ingin berkolaborasi dengan komunitas tapi kita ingin juga melibatkan sepenuhnya warga kampung. Mulai dari anak-anak, remaja, sampai bapak-bapak dan ibu-ibu," ungkapnya.

Karena mau tidak mau dibutuhkan kesiapan yang matang dari warga maupun dari kampung itu sendiri untuk dijadikan kawasan wisata, tandasnya.

Ditambahkan oleh Gaharu Jabal, nantinya potensi yang bisa diangkat untuk dijadikan walking tour lebih kepada bangunan-banguna bersejarah. Karena kawasan Kayutangan dulunya adalah jalan pita untuk pusat perekonomian. Selain itu juga berfungsi sebagai jalan utama ke daerah Blitar maupun ke Surabaya.

"Saat menyusuri koridor Kayutangan, akan banyak ditemui bangunan kuno yang masih eksis diantaranya Toko Riang, Toko Modern, Toko Lido, Taman Tembakau hingga puing-puing bioskop Merdeka," jelasnya.

Tidak sampai di situ, ketika memasuki Kampung Kayutangan juga akan di temukan Pasar Talun yang dulunya merupakan tempat parkir Dokar. Kemudian ada kanal sungai dan beberapa bangunan lawas di kawasan Kayutangan.

"Jadi nanti potensi-potensi ini yang akan kita konsep ke depannya untuk walking tour," ujarnya.

Sementara itu disebutkan pula berbagai kegiatan dalam rangkaian acara Waktu Ruang diantaranya pameran foto karya anak-anak Kayutangan. Diskusi dengan perwakilan Disbudpar, Ketua Yayasan Inggil, lurah dan sesepuh kampung. Kemudian ada pula fashion street.

Sindy Asta.
 Jurnalis: Agus Nucrhaliq/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours