Ambapers Bertekad Dongkrak Kontribusi PAD Kalsel

and
66
Direktur Utama PT Ambang Nusa Persada, Syaiful Adhar/Foto: Dinanta P Sumedi.

BANJARMASIN — PT Ambang Barito Nusapersada (Ambapers) yang merupakan anak perusahaan BUMD Pemprov Kalimantan Selatan PT Bangun Banua berusaha signifikan lebih banyak menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kalsel. PT Ambapers bergerak di bidang pengaturan lalu lintas alur Sungai Barito.

Direktur Utama PT Ambapers, Syaiful Adhar, mengatakan bakal menyehatkan keuangan perseroan lewat efesiensi keungan dan restrukturisasi hutang.

“Kami sudah instruksikan menekan biaya-biaya yang tak perlu. Ini penting agar bisa membukukan laba yang lebih besar di tahun 2017,” kata Syaiful Adhar kepada wartawan, Senin (17/7/2017).

Syaiful sudah meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Rukindo, anak perusahaan PT Pelindo III perihal penjadwalan ulang hutang jatuh tempo PT Ambapers sebesar Rp1,6 miliar. Kesepakatan itu mengharuskan Ambapers membayar cicilan awal sebesar Rp600 juta dan mencicil hutang lain secara bertahap.

Syaiful berharap segala beban hutang PT Ambapers beres maksimal tahun 2019 mendatang. “Dengan begitu, tentunya laba yang diperoleh PT Ambapers tidak perlu lagi sebagian dialokasikan membayar hutang, namun bisa dimaksimalkan untuk menyumbang PAD bagi daerah,” dia melanjutkan.

Pada tahun buku 2016, ia mengatakan Ambapers berkontribusi terhadap PAD Kalsel sebesar Rp 24 Miliar. Syaiful optimistis perseroan sanggup mencetak laba minimal setara capaian tahun 2016.

“Walau pada 2017 ini kondisi alur barito sempat tidak begitu stabil pasca penutupan portal di awal tahun,” ujar Syaiful Adhar sambil menambahkan masih mengkaji wacana revisi perjanjian kerja dengan PT SDM dan menambah item pungutan alur barito selain batubara.

Pihaknya mesti melibatkan banyak pihak dengan waktu yang relatif lama. Misalnya merevisi kontrak dengan PT SDM dalam hal penyesuaian bagi hasil, tentu harus melibatkan ahli hukum, pemerintah daerah dan mengkaji perjanjian kerja menyesuaikan aturan di atasnya.

Hal itu menghindari wanprestasi yang justru merugikan PT Ambapers. Selain itu, ia akan melibatkan pihak eksekutif dan legislatif untuk merivisi perda atas rencana menabah item pungutan lainnya yang memungkinkan dan prospektif.

“Walau memang agak berat, kami tetap usahakan.  Hanya saja jika terus-terusan hanya mendapatkan bagi hasil pengerukan alur yang sedikit, maupun item yang dipungut terbatas hanya batu bara saja, tentunya akan sulit bagi PT Ambapers bisa terus eksis perusahaan di masa depan,” kata Syaiful.

Komentar