Bala Museum, Setia Kawal Museum Ranggawarsita

and
78
Nara Riyanti Pangastika. Foto: Khusnul

SEMARANG — Museum Ranggawarsita Semarang memiliki relawan museum yang selalu mengawal disebut Bala Museum. Bala museum ini terdiri dari 150 anak muda yang bertugas untuk membantu kegiatan museum serta mempromosikan museum.

Anak-anak muda seringkali menganggap museum sebagai tempat yang tidak modern dan tidak gaul. Hal ini membuat pengunjung museum dari kalangan anak muda jumlahnya sangat sedikit. Permasalahan inilah yang melatarbelakangi munculnya ide dari pengelola Museum Ranggawarsita untuk menjadikan anak muda sebagai relawan Museum Ranggawarsita.

Salah satu bala museum, Nara Riyanti Pangastika, mengatakan, Museum Ranggawarsita telah mengadakan rekrutmen relawan. Kemudian pada Bulan Februari Museum Ranggawarsita mengukuhkan 150 relawan yang sudah mendaftar dengan nama Bala Museum. Tujuan utama dari adanya bala museum adalah untuk merangkul anak muda supaya ikut andil dalam mempromosikan Museum Ranggawarsita.

“Seperti yang diketahui, anak muda adalah kalangan yang paling banyak menggunakan media sosial. Di zaman yang serba online ini, promosi museum juga perlu dilakukan melalui media sosial,” ujar Nara saat ditemui, Minggu (16/7/2017).

Menurut laki-laki yang akrab dipanggi Nara, museum juga merekrut banyak relawan anak muda yang berasal dari komunitas-komunitas yang ada di Semarang. Ini dilakukan agar bala museum bisa ikut mengajak komunitas-komunitas di Semarang untuk berpartisipasi dalam acara museum. Seperti halnya kegiatan “dolan museum” yang pernah diadakan Museum Ranggawarsita yaitu menonton wayang dan mewarnai wayang. Acara tersebut berhasil mendatangkan 200 peserta yang sebagian dari kalangan anak muda dan sebagian lainnya adalah adik-adik binaan komunitas sosial yang ada di Semarang.

“Kami seringkali mengajar komunitas-komunitas yang ada di Semarang untuk ikut andil dalam kegiatan museum. Untuk komunitas sosial yang memiliki anak-anak binaan biasanya sangat antusias mengikuti kegaitan di museum. Sebab selain menyenangkan, menurut mereka kegiatan di museum juga bersifat edukatif. Selain itu dengan gencarnya promosi melalu media sosial, semakin banyak anak muda yang tertarik ikut kegiatan di museum,” imbuh Nara.

Sementara, pengunjung Museum Ranggawarsita, Ngadiman, yang juga salah satu Ketua Komunitas Efata, mengaku sangat senang beberapa kali diundang di kegiatan Museum Ranggawarsita. Seperti kegiatan “dolan museum” yang bertema menonton wayang dan mewarnai wayang, dirinya membawa anak binaan sebanyak 22 orang. Anak-anak tersebut sangat antusias mengikuti kegiatan di museum.

“Komunitas Efata adalah komunitas yang membina anak-anak di bidang modelling, tari, dan lukis. Dengan kegiatan mewarnai wayang seperti yang diadakan di Museum Ranggawarsita, anak-anak yang memiliki bakat melukis bisa mengasah bakat,” ujar Ngadiman, Minggu (16/7/2017).

Ngadiman mengaku, mendapat undangan dari temannya yang menjadi anggota dari bala museum untuk mengikuti kegiatan di Museum Ranggawarsita. Dirinya mengapresiasi pihak Museum Ranggawarsita yang sering mengadakan kegiatan dan mengundang komunitas-komunitas di Semarang.

“Saya sangat senang bisa mengajak anak-anak binaan ikut acara di Museum Ranggawarsita. Selain gratis, fasilitas dan konsep acara yang dibuat oleh pihak Museum Ranggawarsita dan bala museum sangat memuaskan pengunjung. Tentu saya akan menyempatkan waktu jika memang mendapat undangan lagi dari Museum Ranggawarsita,” tutup Ngadiman.

Sementara itu sebagai bala museum, Nara berharap, Museum Ranggawarsita bisa sesering mungkin mengadakan kegiatan untuk anak muda. Dirinya juga mengharapkan stigma museum yang usang dan tua itu tidak melekat lagi di museum, khususnya Museum Ranggawarsita.

Ngadiman. Foto: Khusnul

Komentar