Banjir dan Serangan Virus, Budidaya Udang Vaname Merugi

and
47
Udang panen dini akibat banjir dan virus white spot syndrome. [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG – Ratusan pemilik lahan tambak budidaya udang jenis vaname di Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, mengalami kerugian akibat curah hujan tinggi yang berimbas meluapnya air ke areal pertambakan yang berada di saluran primer atau tanggul pengairan dari pantai pesisir timur Lampung tersebut.

Hendri, salah satu pemilik lahan tambak di Dusun Bunut Selatan, Desa Bandaragung, menyebut, kejadian banjir kerap terjadi pasca lebaran Idul Fitri 2017 (1438 Hijriyah) mengakibatkan lahan tambaknya terkena limpasan air hujan yang menggenang dan tak bisa dibuang melalui saluran drainase. Imbasnya udang jenis vaname yang sudah ditebar umur 25 hari mengalami kematian dan sebagian terkena penyakit white spot syndrome (WSS).

Penyakit white spot syndrome, ungkap Hendri, merupakan penyakit dengan jenis penyakit bintik putih pada udang dan berimbas udang jadi berenang ke permukaan dan bahkan sebagian mati. Selain akibat faktor cuaca dan menyebabkan perkembangan virus yang dikenal dengan WSS ia menyebut, kematian pada udang yang sudah ditebar disebabkan karena kualitas air yang kurang bagus dan tidak stabilnya operasi kincir air yang ada pada tambak. Selain merugikan petambak dengan bibit yang cukup banyak ditebar mati, dampak virus tersebut rentan menyebar ke petambak lain melalui perputaran air yang ada di saluran tambak dengan sistem penggunaan saluran air masih satu pintu.

“Perubahan cuaca dengan curah hujan tinggi berimbas pada kualitas air sehingga kami berikan kapur untuk memperbaiki kualitas air, namun faktor saluran air tidak bisa keluar ke saluran pembuangan,” terang Hendri, salah satu pemilik tambak udang jenis vaname yang tengah melakukan panen dini pada lahan seluas dua hektar miliknya, Minggu (16/7/2017).

Panen dini diakuinya terpaksa dilakukan untuk menghindari kerugian lebih besar dengan umur 60 hari sudah dipanen dengan size 50. Meski normal untuk hasil panen yang maksimal ukuran udang jenis vaname mencapai size 80 hingga 100 dengan umur mencapai 77 hari. Kerugian diakuinya mencapai 30 persen dari total sebanyak 5 petak tambak miliknya yang biasanya menghasilkan sekitar 3 ton hanya menghasilkan 1,8 ton untuk luasan lahan sekitar 2 hektar.

Ia juga menyebut selain serangan virus white spot syndrome atau dikenal penyakit panu pada jenis udang vaname yang berimbas pada penurunan produksi, saat ini harga udang jenis vaname dengan size cukup murah hanya mencapai Rp65.000 per kilogram untuk size 80 (14 gram) sementara sebelumnya bisa mencapai harga Rp85.000 per kilogram.

Hasil panen udang jenis vaname usia 77 hari tersebut langsung dimasukkan ke dalam kotak busa yang akan dikirim ke Jakarta memenuhi permintaan sejumlah pasar untuk dijual oleh para pengecer. Selain dikirim ke Jakarta, sebagian hasil panen udang jenis vaname dikirim ke sejumlah kota di Provinsi Lampung diantaranya Kota Metro dan Pringsewu. Ia berharap kondisi cuaca yang kerap hujan cepat berganti sehingga tambak udang miliknya terbebas dari virus mematikan bagi udang tersebut.

Upaya meminimalisir kerugian akibat virus dampak dari cuaca tersebut, pemilik lahan tambak lain di Dusun Umbul Besar, Desa Bandaragung, Apriadi bahkan membuat saluran sendiri yang tidak terhubung dengan saluran air milik petambak lain. Saluran air menggunakan pipa-pipa pvc tersebut dibuat untuk memisahkan sumber air buangan dari tambak yang sudah terkena virus white spot.

“Budidaya udang jenis vaname memang rentan dengan penyakit white spot, karena meski hanya terkena limpasan air dari tambak yang sudah terkena virus itu, tambak yang masih sehat pun bisa tertular,” ungkap Apriadi.

Apriadi mengaku untuk tambak miliknya seluas dua hektar terpaksa dipagar permanen dan saluran pembuangan dilakukan dengan menggunakan mesin pompa, demikian juga dengan saluran air pengisi tambak. Bagi pemilik tambak yang memiliki modal besar seperti dirinya langkah tersebut dilakukan dengan sistem intensif, termasuk penggunaan kincir air.

Petambak udang jenis vaname dengan sistem tradisional bahkan menggunakan sistem penebaran bibit udang bersama dengan ikan bandeng yang berperan sebagai pengatur sirkulasi air pada tambak. Meski membudidayakan udang vaname dengan sistem tradisional, dirinya mengaku masih tetap melakukan panen udang usia 60 hari sebelum sebagian petambak lain terserang virus white spot syndrome.

Saluran air pembuangan dan sumber air tambak. [Foto: Henk Widi]

Komentar