Kerupuk Eyek-eyek, Kuliner Tradisional Khas Berbasis Singkong

and
37
Rusmiatun memarut singkong bahan pembuatan kerupuk eyek-eyek. [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG – Produksi singkong atau ubi kayu di Kecamatan Sragi membuat hasil pertanian tersebut bisa menjadi bahan baku pembuatan tepung tapioka, misalnya bagi perusahaan bahan baku pembuatan kue. Sebagian dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pembuatan makanan tradisional keripik dan makanan tradisional jenis lain.

Rusmiatun (37) salah satu ibu rumah tangga di Desa Way Sidomukti, Kecamatan Ketapang, menjadi salah satu warga yang memanfaatkan ubi kayu atau singkong sebagai bahan baku pembuatan makanan tradisional yang dikenal dengan kerupuk eyek-eyek. Kerupuk warna merah putih yang renyah setelah digoreng dan menjadi camilan masyarakat, banyak dijual di sejumlah pasar tradisional di Lampung Selatan.

Rusmiatun yang menyebut asli dari Kabupaten Lampung Timur mengaku, awal mula menekuni usaha pembuatan kerupuk eyek-eyek tersebab pengaruh keahlian dari sang ibu di wilayah Labuhan Maringgai yang membuat kerupuk eyek-eyek sebagai bahan camilan. Ia menyebut ,selain mudah memperoleh bahan dari sejumlah petani, pembuatan kerupuk tersebut masih sederhana dan bisa dikerjakan sebagai penghasilan tambahan membantu sang suami yang bekerja sebagai pengumpul pasir.

“Saya belajar dari ibu membuat kerupuk eyek-eyek dan setelah memiliki keluarga, usaha ini saya lanjutkan dengan memproduksi kerupuk eyek-eyek menggunakan mesin sederhana. Juga memanfaatkan sinar matahari untuk menjemur sebelum dijual,” terang Rusmiatun, salah satu warga Desa Way Sidomukti yang ditemui Cendana News tengah melakukan proses pembuatan kerupuk eyek-eyek di rumahnya, Minggu sore (16/7/2017).

Mendapatkan bahan baku singkong atau ubi kayu diakuinya cukup mudah karena dari Desa Sumberagung Kecamatan Sragi dirinya mendapat pasokan untuk sekali produksi membutuhkan minimal 60 kilogram hingga 100 kilogram. Bahan baku singkong yang langsung dipasok oleh pemilik kebun dibeli dengan harga Rp1.000 per kilogram sehingga dirinya mengeluarkan modal untuk bahan baku sebanyak Rp100.000, menghasilkan sekitar 50 kilogram bahan kerupuk eyek-eyek.

Setelah bahan baku disiapkan dengan proses penggilingan elektrik, dirinya mulai menyiapkan saringan dari kain karena kunci cita rasa kerupuk eyek-eyek memiliki kelezatan dari proses penyaringan parutan singkong yang harus dalam kondisi bersih. Maka, harus disaring berkali-kali. Proses penyaringan berkali-kali tersebut meminimalisir rasa kecut sebelum bahan diuleni atau dibentuk menjadi bulatan kerupuk eyek-eyek yang akan dijemur.

Setelah proses penyaringan menghasilkan tepung aci dan tepung singkong kasar selanjutnya dipres dalam karung khusus untuk mengeringkan adonan yang sudah diparut. Butuh waktu sekitar delapan jam dari proses pemarutan, penyaringan, pengepresan hingga proses pencetakan kerupuk eyek-eyek buatannya meski menggunakan peralatan tradisional.

Setelah adonan selesai dipres, ia melanjutkan proses pencetakan didahului dengan proses pencampuran bumbu-bumbu untuk penambah cita rasa di antaranya garam, ketumbar, penyedap rasa dan bawang putih. Selanjutnya adonan dicetak dengan alat khusus. Pencetakan dengan alat khusus tersebut langsung diletakkan dalam para-para yang terbuat dari bambu sekaligus menjadi tempat untuk menjemur kerupuk eyek-eyek selama satu hingga dua hari sampai kering.

Sekali proses pembuatan kerupuk eyek-eyek dengan bahan baku singkong rata-rata menghasilkan ratusan buah kerupuk yang dijual dengan sistem kiloan ke pedagang yang mengambil kerupuk eyek-eyek tersebut di rumah. Ia menyebut, setiap kali pengambilan, pedagang mengambil sebanyak 50 kilogram yang akan dijual ke pasar tradisional di wilayah Kecamatan Ketapang hingga ke Lampung Timur.

Kerupuk eyek-eyek dijual ke pengepul yang mengambil ke rumahnya sepekan sekali dengan harga Rp15.000 per kilogram dengan jumlah 50 kilogram atau sebanyak Rp750.000 diperoleh. Digunakan sebagai modal selanjutnya, serta sebagian ditabung untuk kebutuhan tiga anak yang masih duduk di bangku sekolah.

“Dari saya selanjutnya akan dijual ke pasar dan dibeli oleh para pedagang pengecer. Jadi, saya sudah siapkan kerupuk dalam bungkus setengah kiloan sebelum dijual,” terangnya.

Satu plastik dengan sebanyak 30 kerupuk ukuran setengah kilogram banyak diminati oleh kaum ibu rumah tangga yang menyukai kerupuk eyek-eyek untuk kegiatan arisan atau camilan sehari-hari. Meski memiliki usaha pembuatan kue tradisional yang sudah jarang ditemui tersebut, ia menyebut menggunakan modal seadanya tanpa mendapatkan bantuan dari pihak manapun dalam usaha menekuni industri rumahan.

Selain bisa dikerjakan dengan tetap melaksanakan kewajiban sebagai seorang ibu dan istri, Rusmiatun mengaku, pembuatan kerupuk eyek-eyek tersebut tetap menjadi sumber penghasilan yang digunakan membantu sang suami. Selama bahan baku masih bisa diperoleh ia akan terus menekuni usaha pembuatan makanan tradisional kerupuk eyek-eyek yang sudah dilakoni beberapa tahun terakhir.

Kerupuk eyek-eyek dijemur. [Foto: Henk Widi]

Komentar