Musim Panen, Mesin Perontok Jagung Banjir Order

and
47
Proses perontokan jagung menggunakan mesin. [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG – Musim panen jagung di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung memberi dampak positif. Khususnya bagi pemilik mesin perontok atau pemipil jagung yang menyewakan alat tersebut untuk merontokkan jagung dari janggel atau tongkol jagung sebelum dijual ke agen pembelian jagung.

Taman (39) mengaku, memiliki alat perontok jagung sejak lima tahun terakhir dengan dua alat yang dipergunakannya untuk menyediakan jasa perontokan jagung bagi petani yang ingin merontokkan jagung. Taman menyebut, petani memiliki dua pilihan untuk merontokkan jagung mulai dari masih berada di lokasi areal perkebunan hingga jagung sudah dalam kondisi dibawa ke rumah warga untuk dijual ke agen.

Taman mengaku, dirinya memiliki mesin perontok jagung sejak ongkos jasa perontokan jagung masih berkisar Rp5 per kilogram atau Rp5.000 per ton hingga kini mencapai Rp20 per kilogram atau upah sebesar Rp20.000 per ton dengan berkeliling ke beberapa kecamatan di Lampung Selatan sekaligus membeli jagung dari petani. Ia menyebut, memiliki mesin perontok jagung berikut lima karyawan yang bekerja dan dirinya juga sekaligus menjadi pembeli jagung dari petani dengan sistem gelondongan. Selanjutnya digiling dan dijual ke pabrik pengolahan jagung.

Taman, pemilik mesin perontok jagung sekaligus pelaku bisnis jual beli jagung. [Foto: Henk Widi]
“Kami memiliki dua mesin perontok jagung yang digunakan untuk memisahkan jagung dari janggel. Selanjutnya dijual ke pabrik pengolahan jagung menjadi pakan atau diolah menjadi produk lain. Terutama saat ini tengah puncak panen jagung. Dalam sebulan kami tak pernah sepi order jasa perontokan jagung,” terang Taman, salah satu pemilik mesin perontok jagung di Desa Tamansari, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Minggu (16/7/2017).

Upah perontokan jagung yang terbilang murah tersebut, diakuinya seiring dengan harga jual jagung yang turun di tingkat petani sehingga dengan ongkos perontokan yang murah bisa menekan biaya operasional pengolahan jagung sebelum dijual. Selain menggunakan mesin perontok jagung untuk aktivitasnya jual-beli jagung, ia mengaku, sebagian petani jagung juga menggunakan jasanya untuk membantu merontokkan jagung.

Beberapa petani diakuinya memilih merontokkan jagung di kebun dengan mempertimbangkan biaya produksi yang murah tanpa harus mengeluarkan biaya ekstra untuk jasa ojek jagung karena mobil bisa masuk ke kebun. Bagi pemilik jagung yang kebunnya berada di lokasi yang dijangkau alat perontok jagung dipastikan harus menggunakan jasa pengojek jagung untuk membawa jagung gelondongan dalam karung dengan upah Rp5.000 per karung.

“Petani jagung memang membutuhkan biaya operasional yang tinggi mulai dari pengolahan lahan hingga masa panen sehingga ongkos upah perontok jagung sebisa mungkin ditekan,” ungkap Taman.

Seperti pengalaman tahun sebelumnya, setiap hari ia mengaku mengirim sebanyak 1 mobil truk berisi sebanyak 15 ton jagung dalam kondisi sudah dirontokkan ke salah satu perusahaan pengolahan jagung di Lampung Selatan dengan kondisi kering. Pada bulan Juli ini sebanyak 100 pemilik kebun jagung dengan rata-rata pemilik kebun jagung merontokkan sebanyak 5-10 ton jagung atau upah merontokkan jagung bisa mencapai Rp2 juta.

“Memiliki mesin perontok jagung sebetulnya ikut membantu petani dan mempercepat perontokan karena jika ongkosnya mahal kasihan para petani dengan harga jual jagung murah,” ungkap Taman yang menyebut alat perontok jagung miliknya berbahan bakar solar.

Ardianto, salah satu pemilik kebun jagung pengguna jasa mesin perontok jagung mengungkapkan, keberadaan mesin perontok jagung sangat membantu petani yang menjual jagung dengan sistem pipilan karena sistem gelondongan per karung seharga Rp30 ribu. Biaya operasional penanaman jagung yang masih berkisar Rp4 juta dengan hasil sekitar 9 ton jagung bisa mencapai 10 ton diakuinya masih belum sebanding dengan harga jual yang rendah.

“Harga jagung saat ini masih rendah tapi kalau tidak ditanami jagung lahan kami jadi belukar sehingga tidak produktif,” terang Ardianto.

Ia memilih membawa jagung panennya dengan upah merontokkan jagung Rp200.000 sebanyak 10 ton dengan harga jual per kilogram saat ini mencapai Rp4.000 di tingkat agen yang sekaligus menyediakan mesin perontok jagung. Meski mendapat hasil kotor mencapai Rp40 juta namun ia menyebut biaya tersebut masih harus dipotong dengan pembelian pupuk,obat-obatan, ongkos tanam, ongkos mengolah tanah, upah panen, dan upah ojek jagung.

“Nominalnya memang terlihat besar namun jika dikurangi biaya operasional hasilnya juga hanya cukup untuk kebutuhan terutama anak-anak yang masuk tahun ajaran baru sekolah,” ungkapnya.

Ia berharap, harga jagung yang saat ini cukup murah di tingkat petani bisa meningkat agar petani jagung juga bisa meningkatkan kesejahteraan hidup. Namun diakuinya kenaikan harga jagung juga dipengaruhi permintaan pakan ternak ayam yang menurun. Naik saat harga pakan juga naik.

Komentar