Lahan Pertanian Sedikit Tersisa Dampak Pembangunan Tol Sumatera

202
Endo,salah satu petani yang lahannya berkurang akibat proyek JTTS/Foto: Henk Widi.

LAMPUNG — Proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar yang melintasi lahan pertanian, lahan perumahan, khususnya di paket I Bakauheni-Sidomulyo sepanjang 39,4 kilometer terus dikerjakan oleh pelaksana pekerjaan proyek paket I oleh PT Pembangunan Perumahan (PP).

Sejumlah warga ikut terdampak akibat pembangunan jalan bebas hambatan yang sebagian sudah dalam proses konstruksi pengerjaan rigid pavement dan sebagian proses pembersihan lahan (land clearing).

General Affair PT Pembangunan Perumahan (PP),Yus Yusuf dalam pertemuan di Kecamatan Penengahan dengan unsur pimpinan kecamatan mulai dari Camat Penengahan, Kapolsek Penengahan, Danramil 421-03/Penengahan dan masyarakat menegaskan proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera harus terus berjalan.

Menurut Yus Yusuf  sesuai target pada Februari 2018 JTTS sudah bisa digunakan meski dalam prakteknya pembangunan jalan bebas hambatan tersebut masih banyak kendala tekhnis di lapangan.

“Pelaksana proyek JTTS terus melakukan proses pengerjaan lahan yang sudah dibebaskan namun di beberapa titik masih ada lahan yang belum dibebaskan dan juga faktor alam berimbas pada belum selesainya pembersihan lahan sehingga perlu dukungan semua pihak termasuk masyarakat, ” ungkap Yus Yusuf, Senin (17/7/2017)

Bersama Muspika Kecamatan Penengahan terkait persoalan warga terdampak proyek JTTS Yus Yusuf bahkan meminta agar masyarakat bisa ikut membantu kelancaran proyek nasional yang melintasi wilayah Lampung Selatan tersebut.

Terkait harapan masyarakat terdampak JTTS yang mengharapkan dilibatkan dalam proses pekerjaan Yus Yusuf juga memastikan telah mempekerjakan warga dari setiap desa sesuai dengan tugas dan kemampuannya sehingga tenaga kerja bisa diberdayakan dari masyarakat sekitar.

Didampingi Kapolsek Penengahan AKP Mulyadi Yakub,camat Kecamatan Penengahan Koharuddin, Kapten Sarjo Danramil 421-03/Penengahan  Yus memastikan akan menyanggupi proposal dan harapan warga.

Permintaan  warga untuk bantuan bagi pembangunan fasilitas umum disampaikan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) selaku penyedia lahan tol. Selain itu ia mengharapkan proses pengerjaan proyek JTTS tidak dihentikan atau dihalang halangi oleh masyarakat dengan memblokir jalan atau aktivitas kendaraan yang melintas.

Masyarakat yang berada di sekitar proyek pembangunan JTTS yang tidak terimbas langsung bahkan tidak menerima uang ganti rugi. Sementara sebagian masyarakat yang menerima ganti rugi lahan juga ikut merasakan dampak langsung proyek jalan bebas hambatan tersebut. Di stasioning (STA) 17+100 hingga STA 19 Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan sebagian lahan sawah warga bahkan telah digusur termasuk perumahan warga.

Di Desa Pasuruan dan Klaten ,belasan kepala keluarga bahkan harus pindah dari tempat tinggal. Mereka harus membangun rumah pindah ke desa tetangga dan sebagian membeli lahan di desa yang sama pasca mendapat uang ganti rugi.

Sumarjo (40) bahkan harus pindah desa akibat rumahnya terkena dampak pembangunan fly over proyek JTTS sementara warga lain pindah tak jauh dari lahan sebelumnya.

“Akibat proyek tol ada sebagian dusun yang kehilangan sebagian warganya karena ada di sisi Timur jalan tol sehingga sisanya menjadi warga yang terisolir karena sebagian warga pindah ke desa lain,” ujar Budi salah satu kepala dusun setempat.

Selain dampak bagi warga yang harus pindah rumah imbas penggunaan lahan untuk proyek JTTS juga dialami petani setempat salah satunya Endo yang mengaku lahan seluas satu hektar miliknya berkurang dan tersisa seperempat hektar akibat terimbas JTTS. Berkurangnya lahan pertanian tersebut diakuinya akan mengurangi hasil padi dari sawah yang dimilikinya dan uang hasil ganti rugi lahan tol pun sudah susah dibelikan lahan sawah sejenis.

“Sudah susah mencari atau membeli lahan sawah tapi dengan adanya lahan tersisa saya tetap akan menggarapnya untuk keperluan sehari hari dari hasil menanam padi,” ungkap Endo.

Meski sebuah proyek nasional ia menyebut sebagian masyarakat terimbas secara ekonomi dan sosial diantaranya harus pindah dari desanya dan menyesuaikan dengan lingkungan baru. Sementara bagi ekonomi petani yang memiliki lahan luas dipastikan tak bisa bercocok tanam lagi akibat lahan telah digusur untuk proyek tol.

Sejumlah lahan produktif sawah bahkan berkurang menjadi lahan perumahan warga yang terkena proyek tol dan harus membuat tempat tinggal baru.

 

 

Lahan produktif sawah sebagian menjadi perumahan warga terdampak tol Sumatera [Foto: Henk Widi]
Warga tedampak tol Sumatera membangun rumah baru [Foto: Henk Widi]

Komentar