Posdaya Edelweys Serut, Dusun Percontohan Nasional asal Bantul

and
309
Ilustrasi peternak – Foto: Dokumentasi CDN

YOGYAKARTA – – – Mungkin masih banyak masyarakat yang tak mengenal dusun Serut, yang berada di desa Palbapang, Kecamatan, Bantul, Yogyakarta. Desa kecil yang terletak tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten ini, selama ini memang tak banyak mendapat publikasi dari media massa.

Padahal Serut, merupakan desa percontohan nasional, yang telah memiliki segudang prestasi. Bahkan telah banyak dikunjungi sebagai tempat studi kegiatan pemberdayaan masyarakat desa.

Tak hanya berbagai daerah dari seluruh wilayah Indonesia saja. Namun juga berbagai negara, dari empat belahan benua di dunia pernah berkunjung untuk belajar dan meneliti dusun ini.

Adalah Posdaya Edelweys, mesin sekaligus roda penggerak berbagai kegiatan pemberdayaan di dusun Serut. Berdiri sejak awal tahun 2007, pasca Gempa Bantul, didirikan sebagai inti seluruh program kegiatan desa. Serut sendiri, merupakan dusun seluas 57,2 hektar yang memiliki 1.600 peduduk, serta 525 kk.

“Gempa 2006 benar-benar menghancurkan dusun Serut. Dari sekitar 287 rumah yang ada saat itu, sebanyak 280 rumah hancur dan 14 orang warga meninggal,” ujar Dukuh Serut, Rahmad Tobadiana (50).

Sebagai upaya memulihkan kondisi masyarakat pasca gempa bumi, penggerak dusun Serut pun mulai menggelar berbagai program kegiatan pemberdayaan. Salah satu sosok yang paling berperan, tak lain adalah dukuh Serut sekaligus Ketua Posdaya Edelweys, Rahmad Tobadiana, sendiri.

“Yang pertama menjadi fokus kita saat itu adalah pembangunan Sumber Daya Manusia. Karena ini yang paling penting,” ujar Toba yang telah diangkat menjadi Dukuh Serut sejak umur 23 tahun itu.

Yang membedakan dusun Serut dengan desa lainnya mungkin adalah seluruh program kegiatannya yang selalu melibatkan partisipasi setiap warga. Setiap orang didorong untuk bisa mandiri dan peduli satu sama lain dengan cara bergotong-royong, bersama.

“Yang kita lakukan adalah mengajak warga belajar. Bagaimana menghadapi situasi dan kondisi yang ada. Yakni dengan menjalankan delapan fungsi keluarga. Mulai dari agama, sosial, cinta kasih, pendidikan, kesehatan, lingkungan dan ekonomi,” jelasnya.

Sejumlah program pemberdayaan dijalankan Posdaya Edelweys di antaranya program pemberdayakan masyarakat di bidang lingkungan. Pasca gempa terjadi, masyarakat langsung diajak untuk menanam pekarangan masing-masing dengan berbagai jenis sayur-sayuran dan buah-buahan organik. Setiap pekarangan warga juga dibuat kolam-kolan ikan.

“Warga juga kita ajak membuat pupuk organik sendiri dari hasil pengolahan sampah. Termasuk membuat pakan ikan. Semua itu agar kebutuhan pangan dan gizi warga terpenuhi. Sehingga dapat mendukung bidang kesehatan dan pendidikan,” katanya.

Program Posdaya Edelweys di bidang pendidikan sendiri digerakkan oleh warga desa mulai dari Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, Bina Keluarga lansia, hinggga penyelenggaraan PAUD dan pendirian pendirian perpustakaan dusun. Dusun Suren bahkan juga memiliki pusat pelatihan pertanian dan pedesaan. Dimana setiap warga bisa berlajar bagaimana bertani secara organik dari tahap awal hingga pasca panen.

Di bidang kesehatan Posdaya Edelweys memiliki berbagai program mulai dari posyandu, balita, lansia, ibu hamil, pemeriksaan, deteksi dini dan penyuluhan kesehatan gratis, hingga tim pemantau jemantik. Setiap warga yang memiliki jenis penyakit tertentu uga dikumpulkan dalam satu kelompok, untuk menjaga kondisi kesehatan bersama.

“Selain itu kita juga memiliki Pos Obat Desa. Dimana seluruh masyarakat setiap kali pertemuan mengumpulkan uang Rp200, untuk membeli obat jika ada warga yang sakit. Kita juga ada Kelompok Komunitas Donor darah serta memiliki mobil siap antar jika sewaktu-waktu ada warga yang harus diantar ke rumah sakit,” katanya.

Untuk meningkatkan ekonomi warga, Posdaya Edelweys melatih warganya mendirikan sejumlah Usaha Menengah Kecil Mikro dengan mendatamgkan tenaga pelatih. Saat ini sejumlah usaha sudah berdiri di dusun Serut, mulai dari usaha parik tahu, tempe, industri kubah masjid, olahan makanan seperti emping, keripik, jasa pembuatan las, mebel, batako, tekstil baju, hingga homestay.

Dukuh dusun Serut sekaligus Ketua posdaya Edelweys Rahmad Tobadiana – [Foto : Jatmika H Kusmargana]
Selain banyak warganya yang memelihara ternak mulai dari ayam, itik, ikan, hingga kambing di halaman rumah masing-masing, Dusun Serut, bahkan memiliki kelompok ternak sendiri. Mulai dari ternak kambing PE, ternak ayam petelur hingga kelompok ternak sapi brahman dan budidaya ikan nila, lele serta gurami di desa mereka.

“Hasil ternak itu bisa menjadi tabungan warga jika sewaktu-waktu membutuhkan, misalnya ternak ayam petelur untuk makan sehari-hari, kambing untuk biaya sekolah, sedang sapi untuk tabungan mengkuliahkan atau menikahkan anak,” katanya.

Berkat berbagai upaya tersebut, hampir semua warga di dusun Serut memiliki penghasilan tambahan. Mereka bahkan mampu mengkuliahkan anak-anaknya, meski secara formal hanya bekerja sebagai buruh pekerja atau tani dengan lahan garapan yang sempit.

“Memang untuk bisa mengajak warga berdaya dan mandiri butuh waktu. Dan yang terpenting harus ada bukti terlebih dahulu. Secara otomatis nanti warga akan mengikuti,” katanya.

Bicara soal prestasi, dusun Serut dengan Dukuhnya Rahmad Tobadiana, tercatat telah mengkoleksi berbagai penghargaan. Mulai dari ayasan Damandiri tingkat nasional tahun 2010, kampung iklim nasional tahun 2012, penghargaan kalpataru, kampung hijau, kampung sehat, kampung ketahanan pangan dan gizi serta sederet penghargaan lainnya.

Usaha ternak warga dusun Serut – [Foto : Jatmika H Kusmargana]
Meski enggan disebut sebagai desa wisata, namun dusun Serut, setiap minggu selalu dikunjungi ratusan bahkan ribuan orang dari berbagai daerah. Mereka biasa menginap selama beberapa hari bahkan hingga beberapa minggu, untuk berwisata sekaligus belajar berbagai hal di dusun ini. Mulai dari kelompok perorangan dua tiga orang, hingga kelompok besar dari lembaga atau instansi.

“Banyak, hampir setiap hari ada. Dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dan berbagai negara di dunia. Jerman, Inggris, Australia, Korea, Jepang, Afrika, pernah. Bahkan kita pernah sampai bingung karena ada 1000 orang yang menginap disini hampir sebulan,” katanya.

Komentar