Rokok Penyebab Utama Kemiskinan di Sumbar

and
65
Konidisi kehidupan di perdesaan/Foto: M. Noli Hendra
PADANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat merilis data profil kemiskinan di Sumatera Barat terhitung dari September 2016 hingga Maret 2017. Kepala BPS Sumbar Sukardi menjelaskan, secara prsentase, penduduk miskin di Sumatera Barat turun sebesar 0,27 poin dari periode September 2016 ke periode Maret 2017 yaitu dari 7,14 persen menjadi 6,87 persen.
Ia menyebutkan, jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat pada Maret 2017 adalah 364.513 jiwa, turun sebanyak 11.997 jiwa, dibandingkan September 2016. Apabila dilihat berdasarkan wilayah, perkotaan turun sebanyak 6.496 jiwa, dan jumlah penduduk miskin perdesaan juga mengalami penurunam sebanyak 5.501 jiwa.
“Untuk mengukur kemiskinan ini, BPS menggunakan konsep kemampuan memunuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan tersebut, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan yang diukur dari sisi pengeluaran,” ucapnya, saat merilis data BPS kepada awak media di Padang, Senin (17/7/2017).
Menurutnya, sumber data utama yang dipakai BPS untuk menghitung tingkat kemiskinan adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dengan modul konsumsi. Selain dari data Susenas, data juga dipakai dari data Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar (SPKKD), untuk memperlihatkan proporsi dari pengetahuan masing-masing komoditi pokok bukan makanan.
Namun, Sukardi juga menjelaskan, perubahan jumlah dan persentase miskin tidak terlepas dari perubahan nilai garis kemiskinan. Garis kemiskinan merupakan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan yang digunakan untuk mengklarifikasikan penduduk ke dalam golongan miskin atau tidak miskin.
Kepala BPS Sumbar Sukardi/Foto: M. Noli Hendra
Jadi, garis kemiskinan yang digunakan untuk menghitung penduduk miskin Maret 2017 adalah Rp453.612 (kapita/bulan). Sukardi menyatakan, peran komoditi makanan terhadap garis kemiskinan makanan jauh lebih besar dibandingkan komoditi non makanan.
“Pada Maret 2017 itu sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 76,47 persen,” katanya.
Kondisi tersebut, kata Sukardi, apabila dibedakan menurut daerah perkotaan dan perdesaan , maka sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan di perdesaan sebesar 80,34 persen, lebih besar dibandingkan daerah perkotaan yang hanya 71,33 persen.
Sementara itu,  Kabid Statistik Sosial  BPS Sumbar Setio Nugroho menambahkan, meski jumlah penduduk miskin di Sumbar turun, namun penyebab utama kemiskinan di Sumbar ialah belanja rokok.
“Selain beras, rokok juga menjadi penyebab kemiskinan. Karena pengeluaran masyarakat cukup besar untuk membeli rokok,” ucapnya.
Menurutnya, dengan mengetahui penyebab kemiskinan, perlu menjadi perhatian pemerintah untuk mengupayakan agar masyarakat di Sumbar tidak lagi mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli rokok.
“Data yang kita publis sekarang baru ruang lingkungpnya Sumbar, jadi September 2017 mendatang, data kemiskinan berdasarkan kabupaten/kota akan dirilis,” tutupnya.

Komentar