Terdampak Bencana Asap, Sumbar Dipasangi Alat Pemantauan Kualitas Udara

and
77
Alat Pemantauan Kualitas Udara
Alat Pemantauan Kualitas Udara (Air Quality Monitoring System/AQMS) yang terpasang di Jalan Jenderal Sudirman Padang - [Foto: M. Noli Hendra]

PADANG — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI memasang satu unit Alat Pemantauan Kualitas Udara (Air Quality Monitoring System/AQMS) di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK RI, Dasrul Chaniago mengatakan, alasan KLHK memilih Padang untuk ditempatkan AQMS tersebut, karena daerah di Sumbar merupakan daerah terdampak bencana kabut asap.

“Selama ini yang merilis data-data kualitas udara di Sumbar ialah BMKG. Mungkin banyak masyarakat yang tidak tahu informasi kualitas udara,” katanya, di Padang, yang hadir pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Senin (17/7/2017).

Dasrul mengakui, daerah rawan terjadi bencana kabut asap memang menjadi prioritas KLHK untuk menempatkan alat pemantauan kualitas udara tersebut. Karena, alat tersebut tidak hanya sekedar mengetahui kualitas udara di suatu daerah, akan tetapi juga bisa menjadi tolak ukur pemerintah di daerah untuk mengambil kebijakan, terkait ancaman bencana kabut asap.

Menurutnya, AQMS sudah cukup banyak tersebar di Indonesia yang alatnya dipasang langsung oleh KLHK, seperti Jambi, Palembang, Palangka Raya, Pontianak, Banjarmasin, dan Pekanbaru. Sementara alat yang dipasangkan oleh Pemerintah Daerah melalui APBD, yakni Kalimantan Timur.

Alat pemantauan kualitas udara ini, tidak hanya diadakan oleh KLHK, akan tetapi Badan Meteorologi dan Geofisika juga memiliki alat pemantauan kualitas udara yang jumlahnya sebanyak 21 unit.

“KLHK menargetkan 45 unit alat pemantauan kualitas udara bisa terpasang di seluruh daerah di Indonesia. Meski sebagian daerah di Indonesia tidak merupakan daerah bencana kabut asap, akan tetapi AQMS tersebut juga bisa menjadi acuan pemerintah untuk mengetahui kondisi polusi udara di daerahnya, akibat dari aktifitas kendaraan dan juga industri,” ungkapnya.

Di sisi lain, KLHK juga berharap agar perusahaan industri besar yang ada di sejumlah daerah melaui CSR nya, juga berinisiatif untuk membeli alat AQMS tersebut. Contohnya saat ini AQMS yang tepasang di pusat kota Padang, akan sulit untuk menjangkau kualitas udara yang di daerah Indarung.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK RI, Dasrul Chaniago/Foto: M. Noli Hendra

“Di Sumbar memang baru ada satu titik pemasangan AQMS. Jadi KLHK berharap seperti PT. Semen Padang berinisiatif untuk membeli AQMS ini untuk dipasang di daerah Indarung,” ujarnya.

Ia berpendapat, apabila nanti dari PT. Semen Padang memiliki AQMS tersebut juga akan terkoneksi dengan KLHK langsung. Tidak hanya berharap kepada PT. Semen Padang, Dasril juga berharap kepada perusahaan industri lainnya, untuk melakukan inisiatif memiliki AQMS.

Dasrul juga mengatakan, setelah kini Sumbar telah terpasang AQMS, kedepan KLHK akan memasang alat yang sama di Provinsi DKI Jakarta bersama dengan Kepuluan Riau, Manado, dan Makassar. Sedangkan daerah yang telah mengajukan permintaan pemasangan alat pemantauan kualitas udara, yakni Aceh, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Utara.

Sementara itu, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan, belum ada rencana untuk melakukan penambahan pemasangan AQMS, meski di Sumbar memiliki daerah yang dekat dari provinsi tetangga yang sering terjadi kebakaran hutan dan lahan, seperti Dharmasraya yang dekat dari Provinsi Jambi, dan Kabupaten Limapuluhkota dan Kota Payakumbuh yang dekat dengan Provinsi Riau.

“Untuk saat ini memang baru ada satu di Sumbar, saya rasa cukup satu ini dulu,” tegasnya.

Komentar