UNIYAP Teliti Ekowisata Mangrove di Teluk Youtefa

and
139
Tim peneliti sedang memeriksa kadar air di Teluk Youtefa. -Foto: Indrayadi T Hatta.

JAYAPURA – Mahasiswa Universitas Yapis Papua (Uniyap) melakukan penelitian ekowisata mangrove di Kampung Engros, Kota Jayapura. Penelitian ini bertujuan mendata luas area mangrove dan kualitas air yang ada di Teluk Youtefa.

Kepala Kampung Engros (kiri) menerima tim peneliti dari Universitas Yapis Papua. -Foto: Indrayadi T Hatta

Penelitian didampingi langsung dosen Fakultas Perikanan Ilmu Kelautan (FPIK) Uniyap, Satuan Keamanan Laut (Satkamla) Lantamal X Jayapura serta perpanjangan pemerintah Kota Jayapura di kampung tersebut.

Kepala Kampung, Orgenes Meraudje, mengatakan penelitian ini butuh dukungan dan partisipasi dari masyarakat setempat, terutama akademisi dalam pengembangan kampong, yang mana kampung Engros menjalankan delapan prinsip dan semua berasal dari kampung serta kembali lagi kekampung.

“Delapan prinsip kampung ini masing-masing tinggal di kampung, hidup, duduk, bicara, konsep, usul, kerja, dan uang ada di kampong”, tegas Kepala Kampung, Meraudje, Senin (17/7/2017).

Dirinya berkeinginan masyarakat lebih sejahtera dan mandiri serta hidup lebih bersih agar dicontohi kampung lainnya.

“Data penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai data awal yang menunjukkan, bahwa Kampung Enggros perlu diperhatikan, terutama dengan adanya aturan-aturan adat, misalnya perempuan-perempuan mangrove di Kampung Enggros yang perlu dilestarikan,” kata Meraudje.

Sementara itu, Dekan FPIK, Dahlan, S.Kel, M.Si mengatakan, penelitian ini terdiri dari kegiatan penelitian dosen dan mahasiswa yang sifatnya pendampingan dan pengembangan ekowisata mangrove di Kampung Engross.

“Data yang dikumpulkan adalah data luas area mangrove serta kualitas air yang ada di Teluk Youtefa,” kata Meraudje.

Selain itu juga dibutuhkan data atau masukan dari masyarakat Kampung Enggros, untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang fungsi dan manfaat mangrove. Juga diharapkan masyarakat dapat mengelola mangrove tersebut.

“Data-data tersebut diharapkan nantinya dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan pemerintah tentunya,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Annita Sari, S.Pi, M.Si., mengaku beberapa lokasi di perairan Teluk Youtefa sudah mengalami kerusakan, khususnya pada kawasan muara Kali Acai yang saat ini dijadikan lokasi wisata Teluk Youtefa.

“Kualitias perairan juga tercemar oleh limbah rumah tangga dan sedimen di area ini. Warna air hitam dan mengeluarkan bau yang menyengat,” kata Annita.

Saat ditanya data dan hasil penelitian, Annita mengatakan, jika hari ini baru dilakukan pengambilan sampel dan belum diolah. Di mana, sampel air untuk logam berat itu dianalisis di Surabaya. “Karena lab untuk analisis logam berat di Kota Jayapura belum mendukung,” tuturnya.

Komentar