Menikmati Pesona Malam di Kuta dengan Andong

and
54
Wisatawan Cina sedang menaiki dokar/foto: Sutan Babillah

DENPASAR — Selain dikenal sebagai tempat wisata dengan pantai yang indah dengan ombaknya yang bikin para surfer baik lokal maupun mancanegara penasaran untuk menjajalnya, wisata malam di kuta juga memiliki daya tarik sendiri. Deretan café atau restoran bertaburan di tempat wisata kelas dunia tersebut, selain itu alternatif wisata lain yakni menaiki andong atau dokar yang sayang untuk dilewati.

Puluhan dokar ini biasa dijumpai oleh wisatawan di sepanjang jalanan kuta, Kartika plaza serta jalan legian. Seperti yang terlihat di depan hardrock kuta, beberapa kusir andong tersebut mencoba menawarkan jasa transportasi tradisonal kuno kepada para wisatawan, baik lokal maupun wisatawan asal manca negara yang lalu Lalang di jalan kuta.

Harga yang dipatok untuk bisa menaiki andong tersebut relatif cukup murah, wisatawan cukup hanya merogeh kocek sebesar 50 hingga 100 ribu rupiah sekali jalan dengan durasi waktu 20 menit, sedangkan untuk wisatawan mancanegara para kusir biasa menerapkan harga tiga kali lipat dari harga tarif lokal.

Muhammad Hanafi, salah seorang kusir andong mengaku, dalam sehari dirinya bisa mengantar tamu sebanyak dua hingga tiga kali dengan rute sekitar jalanan Kuta memutar ke jalan Melasti dan menuju ke jalan Legian dengan rute akhir kembali ke jalan Kuta.

“Saya kebetulan shif malam untuk menarik penumpang mas, sekali keluar saya bisa mengantar tamu paling banyak tiga kali tarikan,” ungkapnya.

Hanafi mengaku, dirinya dan sesama rekan kusir andong tergabung dalam persatuan dokar denpasar [Perdoden] Bali. Paguyuban tersebut berjumlah 41 peserta.

Selain diminati oleh wisatawan lokal, wisata andong ini juga menarik simpati wisatawan manca negara, baik wisatawan asal Australia, Cina, Jepang dan Arab.

“Didominasi oleh wisatawan Australia dan Cina, Mas, tapi ada juga wisatawan dari nengara lain seperti Jepang dan Malaysia serta Thailand”.

Dibutuhkan keahlian Bahasa inggris

Hanafi yang menjadi kusir dokar sejak 1989 silam tersebut mengaku membutuhkan keahlian khusus untuk menjadi kusir andong di kuta, selain mahir mengendalikan andong serta kudanya, dia juga minimal bisa berbahasa Inggris. Selain Bahasa Inggris, bahasa Cina dan Arab.

Muhammad Hanafi dengan dokarnya/foto: Sutan Babillah

Keahlian berbahasa Inggris Hanafi dan beberapa rekannya diperoleh bukan dari bangku sekolah, kuliah apalagi kursus, melainkan belajar secara otodidak di lapangan pada saat menarik menumpang.

“Ya kan disini kebanyakan tamunya dari luar negeri, Mas, maka saya dan teman-teman harus bisa bahasa mereka, kami biasanya belajar dan tahu sendiri, terutama mau kemana, berapa tarifnya serta dimana tempat hotel tamu menginap,” imbuhnya.

Seperti profesi pekerjaan lainnya, pasti terdapat suka maupun duka dalam bekerja dalam menawarkan paket wisata naik andong tersebut kepada wisatawan. Dukanya kadang ada wisatawan yang mabuk tidak membayar ongkosnya, namun sukanya jika mendapat tamu yang meberi ongkos lebih, bahkan sering kali mendapatkan uang secara cuma-cuma saat menunggu wisatawan di pangkalan.

“Kadang sering tidak dibayar oleh wisatawan mabuk dan mereka langusng kabur biasanya, tapi kadang ada rezeki tak terduga lainnya,” jelasnya.

Berharap disediakan tempat untuk mangkal di Kuta

Sejak beroperasi tahun 1986 silam, keberadaan wisata andong ini mendapat respon positif dari para wisatawan, namun kurang didukung oleh fasilitas parkir untuk andong atau dokar marker.

Minimnya lahan parkir di kuta menjadi persoalan sendiri bagi komunitas dokar kuta ini, pasalnya mereka terpaksa harus mangkal persis di pinggir jalan, hal tersebut tentu sangat membahayakan karena padatnya kendaraan yang melewati pusat wisata di Bali tersebut.

Seperti yang dirasakan oleh Sofyan Fitrayadi, dia mengaku terpaksa mangkal di pinggir jalan, karena tidak adanya tempat khusus yang disediakan untuk memakirkan andongnya.

Dia berharap kedepannya ada perhatian secara khusus dari pihak terkait, karena secara tidak langsung wisata naik andong atau dokar ini sudah menjadi bagian dari destinasi wisata yang berada di Bali khsusunya di wilayah Kuta.

“Semoga disediakan tempat untuk bisa markir atau mangkal dokar, terus terang saja kami resah jika mangkalnya persis di bahu jalan raya yang notabene banyak kendaraan berlalu Lalang,”.

Sofyan juga menambahkan, selain minimnya tempat parker dokar, kendala yang sering dihadapi adalah kondisi kemacetan yang ada di jalan Kuta dan sekitarnya, tambah tahun kendaaran semakin banyak. Hal tersebut mau tidak mau harus tetap bertahan ditengah kondisi tersebut.

“Mau gimana lagi, Kuta sekarang sudah tambah macet,” imbuhnya.

Kusir dengan dokarnya sedang mangkal di jalan Kartika Plaza Kuta/foto: Sutan Babillah

Seperti yang diketahui, wisata menaiki andong dapat dijumpai ole wisatawan saat berlibur di pulau seribu pura tersebut. Tidak hanya malam hari, wisatawan juga dapat menjumpainnya di siang hari, karena mereka terbagi dua shif saat menarik penumpang, yaitu siang dan malam.

Jika anda ingin berlibur ke Bali bersama keluarga, mungkin wisata naik andong di malam hari atau siang hari keliling Kuta dan Legian menjadi salah satu alternatifnya.

Komentar