Antara Soekarno dan PKI, sebelum G30S/PKI 1965

--sebuah Catatan Sejarah dan Jurnalistik Oleh Eko Ismadi*

3752

Generasi muda Indonesia sekarang ini sudah sadar kembali akan manfaat dan pentingnya sejarah. Berbakai organisasi kepemudaan yang mencerminkan adanya kegiatan kesejarahan, telah menyebar di seluruh Indonesia. Ada organisasi Indonesia Militery History, Djokja 45, Magelang Kembali, Bandung History, dan Medan Area. Kita wajib bersyukur dan berbangga hati, dimasa sekarang ini, aktivitas itu mulai muncul dan berkembang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya.

Harapan kita, semoga aktivitas ini dapat berlanjut, tidak tergantung pada situasi dan kondisi politik bangsa, melainkan konsisten dengan prinsip prinsip sejarah. Bagaimanapun, sejarah akan selalu diperlukan, tak pernah ditinggalkan. Manakala kita meninggalkan sejarah itu, berarti hidup kita akan bermasalah, dan tinggal menunggu kapan masalah itu akan menjadi duri dalam hidup kita.

Sejarah memiliki pengaruh yang cukup besar dalam hidup kita, baik perorangan, organisasi berbangsa, dan bernegara. Karena sejarah pemahaman dapat berpengaruh kepada kepentingan bangsa, Ketahanan Nasional, Keamanan, Ketertiban, serta keutuhan Bangsa Indonesia. Memahami sejarah bukanlah pekerjaan sepele, atau hanya sebuah pengisi waktu. Memahami sejarah memerlukan sikap konsisten, komitmen, dan konskwen. Jika tidak, justru yang memahami sejarah, bahkan para penulis dan ahli sejarah, justru bisa memilki peran utama untuk menyelewengkan pengertian dan catatan sejarah bangsanya sendiri.

Tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan nama besar Bung Karno, atau kelompok masyarakat, atau sekelompok warga Negara. Tulisan ini semata saya utarakan, hanya untuk memberikan kesadaran dan menanamkan sebuah pembelajaran dan pelajaran dari sebuah pengalaman hidup manusia yang disebut SEJARAH. Ulasan ini memiliki tujuan, agar kita sebagai bangsa Indonesia memahami sejarah bagi kepentingan Bangsa dan Nasionalisme Indonesia. Tak ada tujuan lain.

Sebaliknya, tulisan ini bukan pula untuk membangkitkan dan menonjolkan Orde Baru, terlebih menonjolkan Soeharto dan rekan-rekannya. Motivasi kami hanyalah memantapkan peranan dan tanggung jawab kita sebagai warga Negara Indonesia. Selain itu, kami juga sedikit memberi semangat kepada komponen bangsa yang disebut TNI agar selalu memiliki komitmen kebangsaan terhadap tegak kokohnya Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, serta persatuan dan kesatuan Bangsa dalam Bhineka Tunggal Ika. Tulisan ini tetap dalam kerangka Politik Negara, fasafah kehidupan Indonesia, serta arah tujuan Nasional Indonesia.

Sikap Soekarno Menjelang Gerakan G30S/PKI

Tulisan ini saya rangkai dari berbagai kumpulan catatan dan arsip pernyataan Bung Karno di berbagai kesempatan yang dapat diliput media. Sehingga, untuk akurasi fakta, tidak diragukan lagi. Artikel akan dapat memberi gambaran, bagaimana kondisi politik saat itu, agar generasi muda sekarang yang belajar sejarah, mendapat informasi yang lengkap, tidak terputus-putus, tetapi ada rangkaian cerita yang saling berkait.

Artikel ini, harapannya juga bisa menjadi pelengkap pemahaman sejarah G30S/PKI. Generasi muda tidak hanya mendapatkan informasi tentang penanganan Gerakan G30S/PKI, tetapi juga paham dengan latar belakang yang mengiringi terjadinya peristiwa itu. Dengan demikian, generasi muda akan bersikap bijak terhadap segala peristiwa yang terjadi, cerdas menjadikan peristiwa sebagai hikmah pelajaran serta pembelajaran.

Yang pertama adalah sikap Bung Karno pada Persiapan Konfrensi Asia Afrika di Aljazair. Sikap itu diucapkan beberapa waktu sebelum diselenggarakan Konferensi Asia Afrika Bulan Juni 1965 di Aljazair yang menyatakan,”Saudara-saudara, sebagaimana pernah kukatakan beberapa hari lalu di hadapan para Panglima, MEREKA PUNYA RENCANA ITU … Sedapat mungkin sebelum Aljazair; Soekarno, Yani, Soebandrio Cs dibunuh! Kalau tidak bisa sesudah Aljazair, ini akan diadakan limited attack. Limited itu artinya terbatas, bukan kecil kecilan, tetapi yang terbatas. Bukan hantam seluruhnya, tetapi ya hanya sebagian, limited! Attack artinya gempuran. Sesudah Aljazair nanti direncanakan, diadakan limited attack. Tentu sedikit kacau, pikir mereka. Dalam kekacauan itu, antek-antek imperialis akan bertindak dan menggulingkan Soekarno, Subandrio, dan Yani Cs.”

Sikap dan penjelasan Bung Karno di atas, menurut beberapa kalangan yang mengerti sejarah dan pakar komunikasi politik, merupakan sikap yang sudah tergoda oleh hasutan PKI. Yang bermaksud ingin memutuskan hubungan baik dengan TNI, Kamulflasi yang dilakukan adalah menyertakan nama Jenderal Ahmad Yani dalam pernyataannya. memiliki dua tafsiran. Yaitu agar tidak terlihat terpisah dari gerakan yang akan dilaksanakan, atau sebagai penegasan, atau kode tanda restu (ini kita serahkan kepada mereka yang mengkorelasikan sejarah).

Yang kedua adalah komentar dan sikap Bung Karno tentang AIDIT. Komentar Bung Karno kepada Oei Tjoe Tat Ketika oei melaporkan kepada Bung Karno perihal Aidit yang mendesak Presiden untuk membentuk kabinet berporoskan NASAKOM (Dikutip dari Memoar Oei Tjoe Tat halaman 134). ”Idea man is brilliant, tapi kurang matang, Naiknya terlalu cepat. Political wisdom-nya kurang! Het stijgt zo’n beetje naar zijn hoofd. I heb het te zeggen en zeker niet hij.”

Keterangan kalimat di atas, Idea man is brilliant = Ide orang itu cemerlang. Political wisdom = Kurang Bijaksana. Het stijgt zo’n beetje naar zijn hoofd = Sedikit besar kepala. Sedangkan makna I heb het te zeggen en zeker niet hij =akulah yang menyusun kabinet, bukan dia.

Dalam hal ini, komunikasi politik Soekarno demikian lugas dan jelas, menggambarkan akan kedekatan Soekarno sebagai pemimpin pemerintahan yang dekat dengan komunisme dan PKI.

Yang ketiga adalah sikap Bung Karno pada Peringatan HUT RI ke-20. Amanat Bapak Soekarno pada peringatan HUT ke-20 RI, atau masa menjelang peristiwa Pemberontakan G30S/PKI. Presiden Soekarno sempat menyampaikan Pidato yang sangat menyinggung perasaan dan jiwa corps TNI, terutama TNI AD pada peringatan ke-20 HUT RI, pada 17 Agustus 1945 yang menyeru dengan nada setengah mengancam, ”Sekalipun Engkau Jenderasl Petak pejuang tahun 1945. Kalau engkau tidak mendukung kebijakanaan dan memecah persatuan Revolusioner dan mengacaukan program FRONT NASAKOM, dan memusuhi SOKO GURU REVOLUSI ……..)”

Yang keempat adalah pertemuan Gubernur seluruh Indonesia. Yang berikutnya pada tanggal 13 Desember 1965, dalam acara pembukaan Konferensi Gubernur TKI seluruh Indonesia mengatakan, ”Kita ini adalah anak anak yang harus setia pada induknya, sebab kalau anak anak itu tidak setia, maka akan dimakan oleh induknya sendiri.”

Yang kelima adalah kemarahan Soekarno kepada Jenderal Achmad Yani. Peristiwa itu terjadi pada saat ada latihan TNI yang mengumpamakan Musuh Dari Utara. Soekarno langsung marah kepada Letnan Jenderal Achmad Yani! Apalagi, Jenderal Achmad Yani juga mengingatkan tentang bahaya komunis. Tak pelak, saat itu, Achmad Yani langsung disentak oleh Presiden Soekarno.

”Kamu jangan komunisto Poby, Lihat Mereka ! Mereka mengahargai saya! Mereka menyanjung saya! Dan Mereka pula yang membantu saya!” begitulah dampratan Soekarno kepada Jenderal Ahmad Yani.

Ketika mengalami kenyataan tersebut, Jenderal Achmad Yani hanya bisa menahan diri. Terlebih, saat itu, beliau menyusun latihan militer dengan anggapan, musuh dari Utara yang dimaksud adalah China. Sehingga, Presiden Soekarno langsung marah besar.

Yang keenam adalah cuplikan Pidato Bung Karno di Senayan pada 30 September 1965.
Pidato tersebut berlangsung di Istora Senayan Jakarta yang dikemas dalam pertemuan Musyawarah Besar Teknisi Indonesia, dan dilaksanakan pada malam hari. Kira-kira, beberapa jam sebelum Letkol Untung memulai Gerakan G30S/PKI.

Saat itu, Presiden Soekarno berpidato, ”ini cerita Mahabharata, yaitu sebuah cerita tentang pertentangan hebat dua Negara. Antara negara Hastina dan negara milik Pandawa. Dua Negara ini konflik hebat. Sekalipun panglima pasukan kedua Negara ini masih memiliki hubungan persaudaraan dan kekerabatan antara Hastina dan pandawa. Arjuna yang berusaha mempertahankan Negara pandawa, sebenarnya merasa berat dan tidak enak hati. Yang berarti harus bertempur dengan saudaranya sendiri, bahkan bisa dengan anaknya sendiri.”

“Arjuna berat dia punya hati, karena ia melihat di barisan tentara-tentara hastina itu, banyak ipar-iparnya. Karena istri Arjuna itui banyak Lho !!!” (Apa maksud Lho disini? Hanya orang cerdas yang bisa menerjemahkan dengan baik, sekalipun hanya kata Lho).

“Bahkan, gurunya ada disana, yaitu guru perangnya yang bernama Durno. Arjuna lemas, lemas, lemas, lemas. Bagaimana aku harus membunuh kawan kawanku sendiri dan bagaimana akau harus membunuh guruku sendiri, juga aku harus membunuh saudara kandungku sendiri. Karena Suryoputro sebetulnya keluar dari satu ibu. Arjuna lemas,” begitulah paparan Presiden Soekarno.

Kemudian, Khresna justru memberi nasihat kepadanya. ”Arjuna, Arjuna. Engkau ini Ksatria. Tugas Ksatria adalah berjuang, tugas Ksatria adalah bertempur bila diperlukan. Tugas Ksatria adalah menyelamatkan dan mempertahankan tanah airnya. Ya, disana yang engkau punya saudara sendiri, engkau punya guru sendiri. Mereka itu mau menggempur negeri Pandawa, gempur mereka kembali. Itu adalah tugas kewajibanmu tanpa hitung untung rugi. Kewajiban, kerjakan!”

Pidato Soekarno yang beraroma dongeng tragis tersebut pernah ditulis oleh Victor M. Fic dalam bukunya, Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Study Tentang Konpirasi, 2005, halaman 12-13. Pidato itu seolah memberi pesan kuat bagi kelompok Untung agar segera melakukan aksinya.

Antonie Dake, dalam bukunya “Soekarno File” halaman 78, menambahkan dalam amanat, seperti yang disebutkan oleh Victor Fic, yaitu sebuah pernyataan yang berbunyi, ”Saudara-saudara sekarang boleh pulang dan pergi tidur istirahat. Sedangkan Bapak masih harus banyak bekerja menyelesaikan soal soal yang berat, mungkin sampai jauh malam nanti.”

Kemudian, ada yang mengembangkan sebuah spekulasi, pidato Soekarno tersebut diisyaratkan sebagai pesan implisit, bahwa Soekarno masih harus mengurusi dan mengawasi kegiatan G30S/PKI yang dipimpin oleh Letkol Untung.

TNI dalam Posisi Sulit

Secara kepemimpinan, ketika menghadapi situasi yang demikian ini, kepemimpinan TNI sangat bingung. Organisasi TNI disusun dalam bentuk Departemen dan dikepalai oleh seorang Menteri.

Dalam hierarki kepemimpinan, Pimpinan TNI terbentur pada aturan kesatuan komando, loyalitas, dan tanggung jawab. Namun, TNI tetap tidak bisa berbuat banyak terhadap situasi yang berkembang. Dalam menghadapi masalah ini, TNI tidak memiliki sinegisitas dan polarisasi pola pikir dalam satu kesatuan. Tapi, diam-diam, di dalam TNI juga terbentuk perbedaan yang bisa menghambat pelaksanaan tugas itu sendiri.

Di sisi lain, aturan dalam kehidupan prajurit diberi kebebasan untuk bertindak diluar aturan dan norma keprajuritan itu sendiri. Ketika prajurit atau TNI diperbolehkan berpolitik, maka jatidiri dan kepribadiannya sudah terkontaminasi dengan kepentingan partai yang mereka ikuti. Akibatnya, hubungan prajurit dan pimpinan seperti diadudomba, demikian pula hubungan antara prajurit yang satu dengan yang lain.

Sebenarnya, tidak hanya hal di atas. Presiden sebagai pemimpin nasional justru terkesan mengharapkan terbentuknya Angkatan ke V melalui buruh dan tani. Dapat dibayangkan, bagaimana ruwetnya kemelut politik dan keberadaan TNI pada masa itu.

ANALISA FAKTA SEJARAH

Sebagai bangsa Indonesia, kita tahu, dalam suksesi kepemimpinan nasional Indonesia, Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 adalah alat yang kokoh dan kuat, serta sarana yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Proklamasi Negara Indonesia telah dilandasi oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Ketika menghadapi Pemberontakan PKI Muso di Madiun pada 1948, Soekarno-Hatta juga menggunakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Konflik kebangsaan pada 1959 juga dapat diatasi dengan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Ketika bangsa Indonesia menghadapi Pemberontakan G30S/PKI, TNI dan Rakyat Indonesia juga menghadapinya dengan Pancasila. Bahkan, pada peristiwa terdekat, ketika terjadi Reformasi 1998, bangsa Indonesia juga tidak meninggalkan Pancasila.

Harapan saya, dengan adanya fakta sejarah ini, bangsa dan rakyat Indonesia dapat menginterprestasikan, mengimplementasikan, dan mengaktualisakan fakta sejarah tersebut, berlandaskan kepentingan Nasional bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang dasar 1945.

Pertemuan Saya dengan Para Tentara PKI

Setelah Eks Serma Bungkus dan Eks Laksamana Oemar Dhani dibebaskan dari penjara, saya sempat bertemu dengan kedua orang tokoh ini. Yang pertama bertemu saya adalah Eks Serma Bungkus yang tergabung dalam Team Pasopati yang ditugaskan untuk menculik Mayjend Haryono MT.

Eks Serma Bungkus mendatangi kantor saya dengan bangga dan mengatakan, ”Saya ini Prajurit! Saya melakukan itu hanya karena perintah! Saya loyal dan saya Taat! Apa saya salah?”

Saat itu, saya tidak mengiyakan dan saya juga tidak menentangnya. Hanya kemudian, saya menyampaikan pertanyaan, ”Bapak loyal kepada Siapa? Bapak melaksanakan perintah itu dalam rangka kepentingan tugas Negara atau satuan? Atasan mana yang memerintah Bapak? Atasan yang beridiologi komunis dan PKI atau Nasionalisme Indonesia? Tolong tunjukkan kepada saya! Kalau PKI siapa, kalau nasionalis siapa? Kalau demi kesatuan TNI, TNI apa?”

Setelah mendengar berbagai lontaran pertanyaan dari saya, Eks Serma Bungkus hanya diam dan memandang saya. Ia tidak mengeluarkan satu patah kata pun, lalu pergi bersama teman-temannya. Bagaimana mungkin, seorang Serma diberi tugas dan beban tanggung jawab yang disetarakan dengan gerakan revolusi?

Sikap yang saya sampaikan di atas, merupakan bentuk implementasi dan interprestasi sejarah nasionalisme Indonesia. Sedangkan yang disampaikan oleh Eks Serma Bungkus adalah intepretasi sejarah menurut Komunis dan PKI. Bangsa dan Rakyat Indonesia harus paham atas hal itu.

Kewajiban kita sebagai Bangsa Indonesia, yaitu mempertahankan dinamika sejarah yang searah, sejalan, dan selaras dengan Pancasila dan kepentingan Nasional Indonesia. Dengan adanya dinamika sejarah tidak akan timbul kegaduhan dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Terjadinya dinamika sejarah tidak akan mengancam keberadaan Pancasila, adat tradisi, budaya, kehidupan beragama, serta penyelenggaraan politik Negara Indonesia yang sudah mapan.

Sebaiknya, kita menghindari terjadinya rotasi sejarah. Sebab, Rotasi sejarah akan mengubah seluruh sendi kehidupan Bangsa Indonesia dengan sendi kehidupan yang baru. Artinya, sendi kehidupan yang lama, sama sekali dianggap tidak berguna dan perlu diganti.

Padahal, kita tahu, masa lalu adalah pengalaman yang berharga. Inilah yang akan menjadi sumber permasalahan. Sebab, yang biasa melakukan rotasi sejarah adalah para komunis. Kita lihat, yang memiliki keinginan membuat rotasi berlanjut, dan yakin dengan pendiriannya hingga sekarang, hanya PKI. Maka, PKI sering disebut sebagai bahaya laten bagi bangsa Indonesia.

Peristiwa G30S/PKI telah menjadi kenangan sejarah kelam bangsa Indonesia yang tidak layak untuk terulang dan diulang lagi. Semoga, Tuhan Yang Maha Esa tetap melindungi dan memberikan rahmat serta karunianya untuk mendapat keselamatan dan kesejahteraan selamanya. NKRI Harga Mati!

DAFTAR PUSTAKA
1. Alek Dinuth, ed Dokumen Trepilih Sekitar G 30 S/PKI, Penerbit Intermasa, Jakarta, Tahun 1997
2. Antonie C.A. Dake, Berkas Berkas Soekarno, 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan, Penerbit Aksara Karunia, Jakarta, tahun 2005
3. Bernhard Dahm, Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan, LP3ES, Jakarta, Tahun 1997
4. Harsutejo, G 30 S Sejarah Yang Digelapakan: Tangan Berdarah CIA Dan Rejim Soeharto, Hasta Mitra, Jakarta, Tahun 2003.
5. Hermawan Sulistya, Palu Arit Di Ladang Tebu, Sejarah Pembantaian Massal Yang Terlupakan( Jombang- Kediri, 1965-1967), Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Tahun 2000.
6. Oei Tjoe Tat, Memoar Oei Tjoe Tat Pembantu Presiden Soekarno, Jakarta, Hasta Mira, Tahun 1995.
7. Victor M Fic Kudeta 1 Oktober 1965, Sebuah Study tentang konspirasi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta Tahun 2005
8. Willem Oltmans Dibali Keterlibatan CIA, Bung Karno Dikhianati ? Aksara Karunia, Jakarta, 2001.
9. 40 HARI KEGAGALAN”G 30 S PKI” 1 Oktober – 10 Nopember 1965, Departemen Pertahanan R!, Lembaga Sejarah, Jakarta, 1966.
10. Tidak Ada Penulisnya, Bung Karno Tentang Gerakan 30 September 1965, Benarkah Gerakan 30 September 1965 ? Kumpulan Pernyataan, Media Pressindo, Jogyakarta, Tahun 2006.
11. Djanwar, Mengungkap Pengkhianatan Pemberontakan G 30 S/PKI Dalam Rangka Mengamankan Pancasila Dan Undang Undang Dasar 1945, YRAMA, Bandung, Tahun 1986.
12. Bambang Widjanarko, Sewindu Dekat Bung Karno, Penerbit Gramedia Jalan Pamerah Selatan No 22 Jakarta, Tahun 1988.
13. Sulastomo, Hari Hari Yang Panjang 1963-1966, Haji Masagung, Jakarta MCM Tahun 1989.
14. A. DOAK BARNETT, COMMONIST CHINA, The Early Years, 1949-1955, Charlotte Wellington, England, Arnold Walfers, Tahun 1966.

*Eko Ismadi adalah Pemerhati Sejarah dan Sosial Politik

Komentar