AM Fatwa: Soeharto Pemimpin yang Tegas

717
Kika: Mahpudi, A.M Fatwa, Soenarto-Soedarno. -Foto: M Fahrizal

JAKARTA – Keberhasilan Presiden Kedua RI, H.M Soeharto, di bidang swasembada pangan, diacungi jempol oleh negara-negara asing. Berkat kinerja Soeharto, Indonesia yang semula merupakan negara pengimpor menjadi negara pengekspor.

AM Fatwa. -Foto: M Fahrizal

Penulis buku ‘50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia dan Dunia’, Mahpudi, menjelaskan, isi buku itu menceritakan para founding father telah memiliki platform tentang mengapa Indonesia pertama merdeka, kemudian Indonesia dibentuk, dan lain sebagainya, dikarenakan mereka merumuskannya dengan apa yang disebut dengan cita-cita peradaban. Dan, semua dituntut berkontribusi dalam pembentukan cita-cita tersebut.

Menurut Mahpudi, bicara tentang kontribusi, tentu tak lepas dari peranan Soeharto yang telah banyak memberikan kontribusi kepada negara ini. Peninggalan-peninggalan kontribusinya, suka atau tidak suka, sudah menjadi bagian dari peradaban saat ini. Dari ratusan pemikiran dan gagasan Soeharto, beberapa di antaranya sangat terasa jejaknya dan implementasinya semakin mendekatkan bangsa Indonesia kepada cita-cita peradabannya.

Kiprah Soeharto sebagai seorang presiden dalam menyampaikan pokok pikiran, kemudian mengimplementasikannya, bahkan menjadi peninggalan yang menarik. Dari 50 inisiatif ada beberapa poin menarik. Pertama, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila. Soeharto berhasil menghilangkan PKI yang berusaha mengubah cita-cita peradaban bangsa dengan ideologi komunismenya.

Ada 4 yang menjadi pilihan dalam buku 50 inisiatif Pak Harto. Pertama, dalam konteks politik ideologi merupakan inisiatif Pak Harto yang luar biasa, karena membubarkan PKI. Kedua, dari sisi ekonomi, Indonesia yang hancur dan banyak hutang kemudian dengan strategi ekonomi yang dikembangkan Soeharto dengan pembangunan nasional jangka panjangnya menjadikan Indonesia kembali normal. Ketiga menyangkut masalah pemerataan pembangunan keadilan sosial dengan puncaknya dikembangkannya trilogi pembangunan, dan yang keempat adalah peran Indonesia dalam konteks dunia.

“Bila ditarik kesimpulan, Pak Harto berusaha mengembalikan Indonesia kepada cita-cita peradabannya yang telah digariskan dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar, dan itu berhasil dilakukan. Apa yang disebut era tinggal landas seharusnya berjalan dengan lancar, bila tidak dipenggal di 1996, dan bila tidak terpenggal, Indonesia akan melaju dengan cepat,” jelas Mahpudi, usai diskusi buku ‘5o Inisiatif Pak Harto’, di Jakarta, Jumat (8/9/2017).

Sejumlah peserta Diskusi Buku 50 Inisiatif Pak Harto. -Foto: M Fahrizal

Sementara, politisi A.M. Fatwa, melihat, terlalu sedikit bila hanya 50 inisiatif yang hanya ditampilkan, ide dan kebijakan-kebijakan Soeharto masih banyak yang bisa dijadikan atau dipakai sekarang ini. Menurutnya, walaupun dirinya tidak terlalu dekat dengan Pak Harto, namun dirinya pernah melakukan perlawanan politik terhadap Soeharto. Dirinya dianggap tidak bersalah dalam segi hukum, tetapi dianggap mempunyai suatu beban politik bagi pemerintah dan inteligen Negara, karena perbedaan pandangan dalam politik.

Menurut Fatwa, warisan yang paling penting dari seorang Soeharto adalah ketegasan dalam kepemimpinannya dan keyakinannya itu suatu pendirian. Ketika peralihan dari Soekarno ke Soeharto, dan ketika beliau diberikan tanggungjawab keamanan Negara, dilaksanakan dengan betul-betul konsisten dan menerima konsekuensinya.

“Seperti kita ketahui, beliau memenuhi aspirasi tuntutan rakyatnya pada waktu itu. Walaupun saya berseberangan dalam hal politik, tetapi saya bukanlah musuh politik beliau, melainkan pernah menjadi lawan politik beliau, dan resiko itu saya terima dengan tuntutan hukuman seumur hidup. Namun, perlu disampaikan bahwa hubungan pribadi saya dan beliau terjalin dengan baik. Jadi, yang perlu kita lihat dari sosok Soeharto adalah ketegasan dalam kepemimpinannya,” katanya.

Soenarto Soedarno, mantan Asisten Sekretaris Negara Urusan Khusus, menilai dari konsepsi pembangunan, bahwa harus dilihat dari alur strategi yang dilakukan Pak Harto dalam konsep pembangunan. Ketika tampuk kepemimpinan beliau terima, pertumbuhan penduduk Indonesia dapat dikatakan dalam kondisi yang sangat parah. Beliau dengan idenya mencoba melahirkan ikon baru, yakni Orde Baru, yang merupakan tatanan kehidupan masyarakat bangsa dan negara yang ingin melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen.

“Ide itu lahir, karena beliau mengetahui, bahwa Indonesia merupakan ajang pertentangan ideologi. Jika pertentangan itu terjadi, maka Indonesia tidak akan bisa membangun dan rakyat tidak akan menjadi makmur. Maka, beliau tetap menjalankan ide tersebut dengan melakukan pembangunan yang sangat panjang, dengan dilakukan secara bertahap dan harus meningkat. Konsep itulah yang sekarang ini kita kenal dengan Repelita, dan itu merupakan inisiatif beliau dalam membangun kehidupan negara ini,” jelasnya.

Komentar