Buku AAYD Menjawab Isu Rekonsiliasi PKI

481
Anab Afifi. Foto: Istimewa

JAKARTA – Ayat-ayat yang Disembelih (AAYD), sebuah buku yang ditulis oleh Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, saat ini banyak dicari dan dibicarakan luas di kalangan netizen, menanggapi isu rekonsiliasi keluarga PKI. Buku ini mengungkap kisah-kisah kekejaman oleh PKI kepada para kiai, santri, serta lawan-lawan politiknya. Kisah-kisah yang dimuat buku ini saat ini viral di Media Sosial.

Penulis buku ini, Anab Afifi, mengaku tidak memiliki pemikiran secara spesifik mengenai rekonsilisai keluarga dan keturunan PKI. Namun, ia telah menuliskan di dalam bukunya bahwa rekonsiliasi keluarga dan keturunan PKI dengan pihak lawan-lawannya sudah berlangsung lama dan alami.

“Rekonsiliasi dengan keluarga PKI itu sudah terjadi secara alami dan faktual. Sudah saya tulis di buku Ayat-Ayat yang Disembelih (AAYD)”ujarnya.

Menurutnya, mereka itu orang-orang kecil, orang-orang desa yang tidak mengerti politik. Mereka sudah kembali membaur.

Anab memberikan contoh kisah seorang mubaligh muda bernama Muhamad Amir yang pada malam menjelang peristiwa G30SPKI tahun 1965 dikepung Pemuda Rakyat dan akan dibunuh. Takdir mengatakan bahwa dia justru diselamatkan oleh istri gembong PKI yang akan membunuhnya malam itu.

Perempuan ini diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya menyelinap ke rumahnya memberitahu agar Amir mengungsi karena suaminya akan membunuhnya. Alasan istri PKI itu adalah karena Amir adalah orang baik. Sering memberi bantuan orang-orang miskin di desanya.

Amir selamat. Namun anak balitanya meninggal karena tidak tahan kedinginan saat malam itu berjalan menyusuri Sungai Cemani di Sukoharjo, Jawa Tengah. Empat sahabatnya sesama dai tewas dibunuh PKI.

“Apakah kemudian ia balas dendam? Anak-anak keturunan pimpinan PKI yang mau membunuhnya itu malah diopeni, dibiayai sekolahnya sampai kuliah,” terang Anab mengutip kisah dalam bukunya.

Kisah rekonsiliasi juga dipaparkan dengan halus dan indah oleh penulis ini pada peristiwa yang dialami oleh ulama besar Hamka. “Meski ulama ini difitnah dan dihina oleh kelompok kiri yang berujung dipenjara dan disiksa, Hamka tetap memaafkan,” terang Anab.

Sejarah mencatat, Hamka sebagai sastrawan dituduh maling dan plagiat oleh koran yang diasuh sastrawan kiri, Pramoeda Ananta Toer. Namun, kenyataannya Hamkalah yang mengislamkan menantu Pram. Di sisi lain Pramoedyalah yang meminta calon menantunya itu masuk Islam dan meminta Hamka untuk bersedia mengislamkan. Hamka sambut anak Pram dengan tangan terbuka.

Tidak hanya itu. Hamka juga memimpin salat jenazah saat kematian Soekarno yang dulu menjebloskannya ke dalam penjara. Presiden pertama RI ini memang menulis wasiat agar Hamka kelak yang mensalatkan di hari kematiannya.

“Itu adalah keteladanan rekonsiliasi alami yang patut dicontoh,” ujar Anab.

Kisah rekonsiliasi juga diangkat dari Cepu. AAYD menulis dengan indah apa yang terjadi antara orang PKI dan korbannya, Sutarmin. Setiap lebaran, orang PKI yang dulu menangkap Sutarmin, bersimpuh menangis meminta maaf. Walau keluarga Sutarmin marah, mereka sudah memaafkan.

Demikian juga sikap keluarga Kyai Sayid dan Kyai Abu Hasyim di Madiun yang setelah peristiwa 1948 mereka tetap merangkul anak keturunan gembong PKI di Madiun yang menangkap mereka. Kyai Sayid dan Abu Hasyim saat itu selamat.

Menurut Anab, di Jawa Timur, banyak kyai NU yang mengasuh anak turunan dan keluarga PKI. Mereka ditampung dan dididik lalu dicarikan pekerjaan. Semua sudah terjadi.

“Belajarlah kepada Hamka, Pramoedya, Soekarno dan Sutarmin. Bila rekonsiliasi didasari syarat ini dan itu, menuntut ganti rugi dan sebagainya, sudah lain cerita,” pungkas Anab.

Buku Ayat-ayat yang Disembelih, penulis Anab Afifi dan Thowaf Zuharon. Foto: Istimewa

Komentar