Drainase Disalahgunakan Penyebab Utama Banjir di Padang

139
Ilsutrasi drainase – Foto: Dokumentasi CDN

PADANG — Banjir yang merendam wilayah Kota Padang, Sumatera Barat, hari Sabtu pekan lalu membuat Kota Padang lumpuh. Hampir seluruh kawasan di Padang direndam banjir yang ketinggiannya mancapai satu meter. Berdasarkan hasil kajian Pemerintah Kota Padang, banjir yang terjadi disebabkan oleh drainase yang disalahgunakan oleh masyarakat.

Wali Kota Padang Mahyeldi mengatakan setelah dilakukan kajian atau pemeriksaan di lapangan, pihaknya menemukan penyumbatan drainase akibat sampah, terutama draina yang berada di sepanjang jalan perkotaan. Sampah yang ditemukan pada drainase itu, diduga dari kurang sadarnya masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya.

“Kita menemukan adanya bangunan permanen milik masyarakat di atas drainase. Jika kondisi seperti ini akan menyulitkan untuk melakukan pembersihan drainase tersebut. Jadi, untuk menyelesaikan persoalan itu, Pemko Padang dalam dekat ini umenata ulang bangunan-bangunan yang ada di atas drainase, serta melakukan penggerukan drainase-drainase yang tersumbat sampah,” katanya, Rabu (13/9/2017).

Selain itu, ucap Mahyeldi, untuk rencana penanganan jangka panjang, Pemko Padang melakukan pembenahan terhadap saluran-saluran yang ada, baik di perkotaan, maupun di lingkungan masyarakat.

Ia menegaskan, banjir atau pun genangan air yang terjadi disejumlah titik di Kota Padang bisa di atasi, jika drainase-drainase yang ada benar-benar bagus. Untuk itu ia mengimbau kepada masyarakat, jangan membuang sampah ke dalam drainse.

Wali Kota Padang Mahyeldi/Foto: M. Noli Hendra

Prediksi banjir di Kota Padang itu, bisa dilihat dari intensitas hujan yang turun dalam kondisi sedang-lebat dengan rentang waktu dari pagi-siang. Hal demikian, dapat dipastikan akan terjadi pada isejumlah titik di jalan perkotaan genangan air, dan sungai mulai meluap hingga memasuki pemukiman warga. Seperti hal yang tejadi, di Komplek Jondul Rawang, Kecamatan Padang Selatan, yang merupakan salah satu kawasan yang cukup rawan terjadi banjir dengan ketinggian bisa mencapai dada orang dewasa.

Berbicara banjir di Jondul, Pengamat Lingkungan Hidup Padang, Desriko Malayu Putra menjelaskan persoalan banjir yang terjadi di Komplek Jondul Rawang akibat dari buruknya drainase serta tidak maksimalnya pembuangan saluran air. Apalagi dulunya, kawasan Jondul Rawang yang dulunya merupakan daerah persawahan yang kini dialih fungsikan menjadi daerah perumahan.

“Karena dulunya sawah, maka resapan air sangat minim. Sebenarnya kondisi yang demikian bisa di atasi, apabila saluran airnya bagus dan memadai. Akan tetapi di Jondul sendiri, sudah resepana airnya minim, drainase pun buruk,” ucapnya.

Menurutnya, terkait persoalan drainse, perlu adanya kajian lebih banyak lagi yang harus dilakukan oleh Pemko Padang. Terutama bagi pengelolaan tata ruang, yang dalam hal ini menjadi pihak yang berperan untuk memastikan kondisi tata ruang agar tidak berakibat buruk terhadap lingkungan.

“Tata ruang dalam hal ini jangan asal kasih izin membangun saja, tapi perlu dikaji dulu, apakah kawasan yang akan didirikan pembangunan perumahan itu sudah selayaknya atau belum,” ujarnya.

Desriko menilai, khusus di kawasan Jondol Rawang tersebut, saat ini perumahan yang sudah cukup padat. Dengan kondisi hanya ada satu drainase, maka sangat kecil kemungkinan disetiap blok rumah bisa mendapatkan saluran air yang bagus. Untuk itu, ia menyebutkan perlunya solusi yang sangat efektif dalam penanggulangan banjir di Padang.

Komentar