Haryono Suyono: MDGs di Indonesia Kurang Berhasil

291
Haryono Suyono, saat ditemui di Universitas Trilogi, Jakarta, Senin (25/9/2017). -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Mantan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Haryono Suyono, mengatakan,  program Pembangunan Abad Millenium (Millenium Develompmet Goals/MDG’s) telah berakhir pada 2015.

“MDGs di Indonesia kurang begitu berhasil, karena tingkat kemiskinan tidak menurun secara drastis. Begitu pula dengan tingkat kesehatan ibu dan anak yang berhubungan dengan kematian ibu hamil dan bayi tidak menurun, malah naik,” ungkap Haryono kepada Cendana News, saat ditemui di Universitas Trilogi, Jakarta, Senin (25/9/2017).

Selain itu, lanjut dia, tingkat pendidikan juga tidak menyolok keberhasilannya. Itulah segelintir program MDGs yang belum menyentuh Indonesia dengan bagus. Hal ini tentunya terjadi juga di negara-negara berkembang lainnya.

Karena itu, dengan berakhirnya MDGs, melalui sidang PBB di New York yang dihadiri 193 negara anggota, termasuk Indonesia, diputuskan program kelanjutannya melalui kesepakatan program pembangunan global dengan sasaran yang lebih komprehensif sustainable development goals (SDGs) untuk masa 15 tahun mendatang.

Disampaikan Haryono, program ini menempatkan pengentasan kemiskinan dan bebas dari kelaparan sebagai sasaran utama. Pada 2030 penduduk dunia diharapkan bebas sama sekali dari kemiskinan dan kelaparan.

”Alias angka kemiskinan dan kelaparan sama dengan nol. Indonesia harus mampu menurunkan tingkat kemiskinan, mempersempit kesenjangan, dan menghapus kelaparan hingga 2030 mendatang,” kata mantan menteri negara koordinator kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan itu.

Melalui SDGs, Haryono mengimbau, agar  Indonesia pandai membaca dan mengembangkan strategi operasional yang memberi kesempatan yang lebih banyak kepada keluarga miskin, keluarga dengan ekonomi rendah untuk lebih dulu diberi kesempatan dan menikmati partisipasi dalam pembangunan melalui pemberdayaan.

Misalnya, program yang fokus kepada pendampingan dan penguatan terhadap keluarga miskin dalam upaya mencapai peningkatan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan.

“Melalui program yang menyasar masyarakat miskin dengan melatih mereka untuk bekerja, diharapkan dalam kurun waktu 15 tahun yang datang akan dapat terwujud kemiskinan dan kelaparan di tanah air menjadi nol dan kesenjangan sosial menyempit,” tegasnya.

Dalam upaya peningkatan pendidikan, menurutnya, anak dari keluarga miskin yang ingin sekolah harus memperoleh sekolah gratis, tentu dengan komitmen pemerintah dan pihak sekolah. Sehingga akan terwujud pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang lebih cerdas dan trampil. Karena pembangunan SDM menempati posisi yang paling penting.

Karena itu, dunia pendidikan bagi anak-anak miskin harus mendapat perhatian. Yakni, anak-anak perempuan harus diizinkan sekolah. Lulusan sekolah daripada anak perempuan juga harus seimbang dengan anak laki-laki, tidak ada jurang lagi.

Haryono mengakui pembangunan SDM saat ini memang sudah bagus. Tapi, menurutnya, untuk 15 tahun yang akan datang pemerintah harus lebih memberikan perhatian. Karena SDM itu aset yang sangat penting dalam pembangunan negara-negara yang menganut sistem SDGs.

Apalagi, kata dia, SDGs ini mempunyai target-target yang jauh lebih luas dibandingkan dengan MDGs. Maka, dengan sendirinya target SDGs ini memperhatikan kekurangan pembangunan millenium abad pertama. Misalnya, selain yang disebutkan terdahulu, juga masalah lingkungan harus menjadi perhatian.

”SDGs ini sifat programnya harus berkelanjutan sampai masa yang akan datang. Semua negara  yang menjadi anggota harus berkomitmen membangun negaranya lebih bagus dalam segala sektor, utamanya mengentaskan kemiskinan, kelaparan, dan pendidikan,” pungkas Haryono.

Komentar