Ipda Nurull Pernah Berada di Tengah Teror Bom

158
Katim Satgas Srikandi Polresta Depok Ipda Nurul Kamila Wati melakukan sosialisasi. -Foto: Istimewa/Makmun Hidayat.

DEPOK – Memori ingatan Polisi wanita (Polwan) yang satu ini langsung tertuju pada kejadian serangan bom di kawasan Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, 14 Januari 2016, lalu, saat berada di tempat kejadian perkara (TKP) yang suasananya begitu mencekam.

Kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat diserang sekelompok teroris yang melakukan pengeboman disertai dengan penembakan. Serangkaian ledakan menewaskan sejumlah orang, dan terjadi baku tembak antara polisi dan beberapa orang yang diduga pelaku.

Situasi dapat dikuasai dalam waktu lebih kurang 20-30 menit pasca-peristiwa yang terjadi lebih kurang jam 10.50-10.55 WIB itu. Peristiwa terjadi diawali dengan serangan di Starbucks Cafe, yaitu masuknya satu orang pelaku dan diawali dengan ledakan bom bunuh diri.

Pada saat yang sama, ada dua orang yang menyerang Pospol Lalu Lintas di Simpang Sarinah. Saat itu, ada satu orang anggota Polsek Menteng yang sedang bertugas di sana. Pospol diserang dengan bom bunuh diri, sehingga anggota polisi terluka, sementara pelakunya meninggal dunia.

“Waktu kejadian bom Thamrin, saya ada di lokasi. Waktu itu, saya menyadari menjadi polisi risikonya taruhan nyawa, tapi kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Saya tidak terlepas dari Tuhan, jadi tidak ada perasaan takut atau apa,” kisah Nurull Kamila Wati kepada Cendana News.

Dalam kehidupan saya, lanjut perempuan kelahiran Wonosobo, 11 Juli 1993 itu, semua atas seizin dan kehendak Tuhan. Masuk Akademi Kepolisian (Akpol) gratis, begitu lulus penempatan dinas di Sabhara Polda Metro Jaya.

“Semuanya itu adalah campur tangan Tuhan. Jadi, true story saya semuanya atas kehendak Tuhan didukung dengan kemauan kuat saya,” ujar Polwan berpangkat inspektur polisi dua (Ipda) yang kini bertugas di Polresta Depok.

Nurull mengaku menjadi seorang Polwan merupakan jalan hidupnya untuk bisa mengabdi kepada nusa, bangsa dan negara dalam institusi POLRI. Baginya, menjadi Polwan adalah sesuatu yang membanggakan. Ia juga tidak segan untuk selalu berkomunikasi dengan masyarakat.

“Boleh dibilang, ya ini jalan saya. Karena apa, tidak dipungkiri cita-cita saya dulu adalah tidak ingin membebankan orang tua dan saya ingin mencari sekolah yang gratis. Lalu, diterima di Akpol, dan akhirnya saya tertata dengan jalan menjadi seorang polisi,” ujar Nurull ,penuh syukur, doa yang dipanjatkan, keinginan kuat dan cita-citanya sewaktu SMA yang tidak ingin membebankan orang tua dikabulkan Tuhan.

Saat menjadi Duta Wisata Wonosobo pada 2010, Nurull sempat mengutarakan keinginannya untuk masuk di Akpol. Ia mengaku memang punya cita-cita ingin menjadi seorang Polwan.

Nurull diterima masuk Akpol pada 2011, dan menyelesaikan pendidikan selama empat tahun. Putri dari pasangan Masrukhin-Supriyati Lestari, lulusan Akpol 2015 itu masuk 10 besar perwira berprestasi di Akpol, dan menjadi taruni terbaik dari 44 perwira perempuan di kampus yang sama dengan indeks prestasi 3,6.

Bersama 389 perwira lainnya, anak dari seorang polisi dan guru sekolah SMA itu, dilantik oleh Presiden Joko Widodo serta mengucap sumpah sebagai anggota POLRI.

Nurull bukan saja seorang Polwan yang tegas, namun juga gemulai dalam gerakan tari. Dia mengaku beberapa kali menampilkan tari di hadapan beberapa pejabat kepolisian. Di Akpol dulu, Nurull juga sering menari Gambyong menyambut Kapolri.

Perempuan bertinggi badan 167 cm itu, juga hobi renang, jalan-jalan, dan mengoleksi sepatu high heels. Hobi koleksi sepatu berhak tinggi itu disebutkan Nurull sejak dirinya menjadi Duta Wisata Wonosobo pada 2010.

Ipda Nurull yang kini menjabat Kasubdit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Polresta Depok dan Katim Srikandi, menyebutkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun-tahun sebelumnya yang cenderung meningkat. Untuk itu, selain upaya represif, pihaknya juga melakukan upaya pre-emtif dan preventif.

“Untuk tindakan represif, kita melakukan razia rutin di wilayah hukum Polresta Depok. Razia difokuskan lebih banyak kepada anak-anak yang bekerja di bawah umur,” ujar Nurull.

Bersama Tim Srikandi berjumlah delapan personel, lanjut Nurul, juga melakukan kegiatan preemtif dan prefentif dengan memberikan sosialisasi, menyampaikan imbauan-imbauan. Kegiatan ini juga melibatkan stakeholder dan instansi terkait.

Dikatakan Nurull, orang tua itu tidak mungkin mendampingi anak 24 jam, karena ada lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, lingkungan teman, dan lingkungan rumah. Untuk itu, upaya paling tepat untuk mencegah tindak kekerasan dari diri anak itu sendiri.

Menurut Ipda Nurull, anak-anak juga harus diberi pelajaran tentang sex education. Dan itu, ada tarafnya ketika memberikan sosialisasi kepada anak-anak. Usia 3 tahun, TK sampai SD kelas 3, diberikan sex education yang simpel.

“Kita memberikan makna umum kepada anak-anak bagian mana tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain, meskipun itu ayah sendiri, misal. Baik laki-laki ataupun perempuan ada bagian-bagian tubuh yang tidak boleh mereka sentuh,” jelas Ipda Nurul.

Cukup sesimpel itu saja pemahamannya. Nurull menegaskan kepada anak-anak, ketika ada yang menyentuhnya agar teriak, lari, dan lapor. “Harapannya sih ini bisa masuk ke ingatannya, bahwa Bu Polisi yang memberitahu,” imbuhnya.

Ketika polisi yang datang, harapannya menjadi ingatan anak, sehingga ketika ada kejadian bisa respon. Dan buktinya, kata Ipda Nurull, ada beberapa kasus yang dilaporkan, si anaknya itu sudah bisa berontak. Jadi, tindak pidana itu tidak terjadi.

Kemudian untuk taraf kelas 5-6 SD maupun SMP, Satgas Srikandi lebih memfokuskan terkait penggunaan handphone yang baik dan benar, kemudian situs-situs pornografi ataupun hal negatif lainnya.

“Mereka sudah bisa mengetahui ini benar itu salah, yang mengganggu masa depan dan hari ini tidak terasakan. Itu kita berikan pemahaman tentang sex education, kita kadang juga selingi materi bahaya narkoba. Jadi, kita beri sex education, tentang pacaran yang benar. Tentunya jangan sampai ada kelahiran dari anak yang di bawah umur. Banyak sekali kasus seperti ini, anak umur rentang 14-16 tahun,” jelas Ipda Nurull.

Ipda Nurull juga mengimbau kepada semua pihak untuk bersama-sama membangun generasi bangsa yang terbebas dari trauma kejahatan di masa kecilnya.

Selain menanamkan sex education, pengawasan terhadap anak perlu lebih di perketat lagi, baik saat di luar ataupun di dalam rumah, karena kejahatan seksual, kata Nurull, faktanya keluargannya sendiri pun ada yang menjadi tersangka, pelaku.

“Dan tidak kalah pentingnya, bisa memposisikan diri menjadi teman bagi anak-anak. Biar anak-anak mau menceritakan segala apa yang dihadapi. Takutnya jika jaraknya terlalu jauh dengan keluarga, tidak punya teman, larinya ke pasar, atau mungkin dia jadi pemulung, dan gampang menjadi korban dari suatu tindak kejahatan,” pungkasnya.

Komentar