Kue Singgang Khas Minang, Nikmat dan Tanpa Pengawet

PADANG — Seiring banyaknya bermunculan makanan-makanan modern atau makanan luar negeri, ternyata tidak membuat makanan-makanan tradasional hilang dari pasaran. Seperti halnya makanan khas daerah Sumatera Barat, yakni kue singgang. Hingga kini, kue khas Minangkabau ini masih laris manis di pasaran.

Eri tengah memasak kue singgang yang dimasukan ke dalam satu per satu cetakan yang telah dialas dengan daun waru. -Foto: M. Noli Hendra

Namun, bicara kue singgang ini, mungkin di beberapa daerah ada kemiripan bahan ataupun tampilannya. Di Padang sendiri, kue singgang ada yang menyebutkannya kue bika atau kue bakar. Nah, kalau di daerah lain seperti Medan, juga ada kue bika, tapi bukan kue bika yang dipanggang, melainkan disebut dengan Bika Ambon. Nama memang ada kemiripan, tapi soal bahan dan pengeloaannya jauh berbeda.

Lalu, bagaimana cara membuat kue singgang ini?

Salah seorang penjual kue singgang di Padang, Eri menjelaskan, untuk membuat kue singgang khas Minang tidaklah terlalu rumit, apalagi makanan olahan khas Minang hanya menggunakan bahan-bahan yang sangat mudah didapatkan.

Bahan-bahan yang digunakan, yakni tepung beras, tape singkong, garam, gula pasir, santan kelapan, dan parutan kelapa muda. Sementara untuk membungkus bahan-bahan itu, agar tergabung ke dalam satu rasa, dibutuhkanlah selembar daun, seperti daun waru dan ada juga yang menggunakannya dengan daun jati.

“Jadi, bila bahan telah lengkap, diaduklah hingga semua bahan menjadi menyatu. Lalu, sehelai demi sehelai daun dimasukkan ke dalam cetakan, dan baru dituangkan ke dalam cetakan yang ada tersebut,” katanya, Sabtu (16/9/2017).

Nah, untuk memasak kue singgang ini, tidaklah dibakar di atas api, ataupun menggunakan pemasak oven. Melainkan dipanggang di atas bara sabut kelapa yang telah dibakar. Waktu untuk menunggu kue singgang matang juga tidak terlalu lama, hanya perlu menunggu kuenya terlihat agak menguning dan tidak lagi lembek.

Menurut Eri, alasan dianjurkannya memakan kue singgang di waktu lagi hangat, karena untuk mendapatkan rasa yang ‘wah’, makanan yang dalam kondisi hangat akan sangat terasa perpaduan bahan-bahan yang digunakan. Seperti kue singgang yang menggunakan bahan tepung, tape singgkong, dan parutan kelapan. Maka, rasa asam tape dan kasatnya rasa parut kelapa, akan membuat rasa kue singgang sangat enak dimakan.

Mengingat bahan-bahan dan cara memasaknya masih secara tradisional, sehingga aroma dan rasa kue singgang memang tiada tandingnya. Untuk harganya, per satu kue singgang dijual di Padang hanya Rp1.000. Terkadang, bila dibeli dalam jumlah yang banyak, Eri memberikan jumlah yang lebih, seperti dengan nilai Rp10.000, maka yang membeli akan mendapatkan 12 buah kue singgang dari seharusnya bila dibeli dengan jumlah satu, yakni 10 buah.

Eri mengaku, dirinya sudah cukup lama menjual kue singgang. Bahkan, dari sekian tahun dirinya menjual singgang, bisa dikatakan rata-rata per hari Eri mampu menjual 500-800 kue singgang, yang dibuka dari pagi hingga siang hari. Hal ini, menurutnya karena masih tinggi peminatnya. Apalagi, tidak semua tempat di Padang yang ada menjual kue singgang tersebut.

Penyebab laris manisnya kue singgang di pasaran di era bermunculannya makanan-makanan modern, karena masyarakat menilai masakan tradisional lebih aman ketimbang makanan yang modern atau makanan-makanan luar negeri.

Hal ini dikatakan oleh pembeli kue singgang, Nirina. Menurutnya, ia datang ke pasar ada sekira dua kali dalam seminggu. Di waktu ia datang ke pasar, kue singgang sudah menjadi oleh-oleh untuk anak dan keluarganya yang ada di rumah.

“Suami dan anak-anak saya suka dengan kue singgang ini, makanya tiap saya ke pasar, kue singgang seakan sudah menjadi belanja wajib saya,” katanya dengan nada canda.

Ia menyebut, selain rasa kue singgang yang lezat, harganya juga sangat terjangkau. Karena ukuran kue singgang sebesar tinju, hanya perlu memakan dua kue singgang, rasa lapar sudah bisa dihilangkan.

“Saya sangat khawatir juga dengan makanan-makanan yang dicampur zat-zat kimia itu. Makanya, kue-kue yang dimasak secara tradisional ini saya pilih, karena bahan-bahan yang digunakan tidak neko-neko, dan kuenya harus habis sehari. Ini buktinya, makanannya tidak ada pengawet atau sejenisnya, jadi kue singgang aman untuk dimakan,” ujar Nirina.

 

Lihat juga...