Menkeu Dukung Penegakan Hukum Terhadap Pegawai Pajak

115
Menkeu RI, Sri Mulyani Indrawati. Dok: CDN

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani mendukung upaya penegakan hukum terhadap kasus suap dua pegawai pajak yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, Jajun Junaedi (JJ) dan Agoeng Pramoedya (AP).

Bahkan mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu dengan tegas menyebut, tindakan hukum dalam proses kepegawaian juga akan dilakukan terhadap mereka. Tindakan hokum diproses kepegawaian akan langsung dilakukan setelah didapatkan cukup bukti.

“Saya kalau ada petugas pajak apakah ditangkap KPK, apakah dilakukan investigasi kejaksaan, akan menghormati saja. Dan kalau memang di dalam proses kepegawaian sudah cukup bukti untuk melakukan tindakan hukuman bagi yang bersangkutan, maka kami akan lakukan,” kata Sri Mulyani, saat ditemui di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Rabu (13/9/2017).

Penetapan tersangka Agoeng Pramudya oleh Kejaksaan Agung merupakan hasil pengembangan kasus dugaan suap oleh oknum mantan pegawai Ditjen Pajak, Jajun Junaedi, telah terlebih dahulu ditetapkan sebagai tersangka pada Mei 2017. Kasus tersebut terjadi pada kegiatan penjualan faktur pajak yang terjadi pada periode 2008 sampai dengan 2013

Terungkap kasus tersebut berawal dari karena kegiatan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Ditjen Pajak dalam mengungkap penyalahgunaan faktur pajak yang ditindaklanjuti oleh Kejaksaan Agung. Dan semenjak ditetapkan menjadi tersangka Jajun Junaedi pada Mei 2017, Agoeng Pramudya yang menjabat sebagai Kepala Seksi Pemeriksaan Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakarta Utara telah dibebaskan dari tugasnya sehari-hari untuk berhubungan dengan Wajib Pajak. Saat ini Agoeng Pramudya hanya berstatus sebagai pelaksana biasa pada kantor yang sama.

Sebelumnya, Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) menahan AP, tersangka dugaan korupsi penerimaan gratifikasi, hadiah atau janji dalam pengurusan pajak.

“Tersangka AP ditahan di Rumah Tahanan Negara Salemba Cabang Kejagung selama 20 hari ke depan terhitung 11 September 2017 sampai dengan 30 September 2017 berdasarkan surat perintah penahanan nomor: Print-24/F.2/Fd.1/09/2017 tanggal 11 September 2017,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung M Rum, di Jakarta, Selasa (12/9/2017)

AP disangkakan melanggar pasal 12 huruf a, pasal 12 huruf b, pasal 12 B, Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) KUHP. Tersangka diduga menerima dana dari pihak-pihak lain melalui rekening yang bersangkutan pada beberapa bank dengan total sebesar Rp14.162.007.605.

Selanjutnya dana atau uang yang diterima dipergunakan untuk pembelian mobil, logam mulia, dan properti. Sedangkan tersangka JJ, pasal yang disangkakan pasal 12 huruf a, pasal 12 huruf b, pasal 12 B, pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) KUHP. (Ant)

Komentar