‘MIRAGE’ Dalami Potensi Gempa Samudera Hindia

116

JAKARTA – Sejumlah akademisi dan lembaga riset dari Indonesia, Prancis, dan Singapura akan mengadakan ekspedisi MIRAGE untuk mempelajari potensi gempa bumi di wilayah Samudera Hindia.

Ekspedisi ‘Marine Investigation of the Rupture Anatomy of the 2012 Great Earthquake’ (MIRAGE) merupakan proyek riset maritim internasional yang diprakarsai Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP) Prancis, Institut Polaire Francais Paul-Emile Victor (IPEV), Earth Observatory of Singapore (EOS), dan Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

“Penelitian akan dilakukan di atas Kapal riset terbesar dunia milik pemerintah Prancis, R/V Marion Dufresne, selama 30 hari di wilayah barat Pulau Sumatera dan selatan Pulau Jawa, Samudera Hindia,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin, di Institut Francis Indonesia (IFI), Jakarta, Minggu (24/9/2017).

Ekspedisi kedua MIRAGE tahun ini difokuskan untuk mengambil dan mempelajari data seismik, guna mengetahui struktur dasar dan retakan atau kerak di Samudera Hindia.

“Harapannya, data dan pengetahuan baru itu nantinya dapat membantu peneliti memahami struktur dan perubahan yang telah terjadi di perairan tersebut. Dengan demikian, temuan yang dihasilkan dapat menjadi landasan bagi para peneliti dan pembuat kebijakan untuk mengantisipasi bencana gempa bumi dan tsunami di kawasan Samudera Hindia,” terang Zainal.

Sementara itu, kepala ekspedisi dan pakar geofisika kelautan dari Institut de Physique du Globe de Paris, Satish Singh, mengatakan latar belakang diadakannya penelitian MIRAGE adalah peristiwa gempa tektonik 9,1 Skala Richter (SR) dan tsunami pada Desember 2004, disusul adanya guncangan hebat berkekuatan 8,6 SR di pesisir barat Provinsi Sumatera Barat.

“Dalam ekspedisi tahun ini, kami ingin melihat citra permukaan samudera lebih dalam lagi,” kata Satish di atas Marion Dufresne, kapal milik Institut Polaire Francais Paul-Emile Victor (IPEV), di Pelabuhan Tanjung Priok, Minggu.

“Pertanyaan terbesar ekspedisi ini, bagaimana lempeng baru itu terbentuknya dan parameter apa saja yang menentukan hal tersebut. Kemudian, bagaimana gempa hebat pada 2012 lalu dapat membuat retakan di struktur dasar laut, dan sudah berapa lama hal itu terbentuk”, jelas Satish.

Pemetaan laut demi menjawab pertanyaan tersebut, Satish menjelaskan, tim peneliti akan menggunakan teknik pemetaan laut mulai dari kedalaman 5.000 meter sampai dengan 40 kilometer di bawah permukaan laut.

Dalam kesempatan berbeda, salah seorang peneliti LIPI yang berkesempatan mengikuti ekspedisi MIRAGE 2, Nugroho Hananto, menjelaskan, penelitian tersebut akan menjelaskan mengapa guncangan hebat di pesisir Sumatera Barat 2012 lalu tidak menyebabkan tsunami.

“Tahun ini sebenarnya sudah ada dua gempa tektonik cukup besar, pertama berkekuatan 6,6 SR dan 7,8 SR. Getarannya, dikabarkan terasa hingga Singapura,” kata Nugroho.

Adanya peristiwa gempa itu, menurut peneliti LIPI itu, menjadi alasan pentingnya kolaborasi riset antarbangsa dilakukan. Kawasan Asia merupakan wilayah yang paling banyak memiliki aktivitas tektonik. Dengan begitu, penelitian ini penting demi menemukan gempa semacam apa yang dapat berpotensi tsunami, dan mana yang hanya guncangan biasa.

“Hasilnya nanti dapat membantu peneliti, tentunya juga para pemuat kebijakan untuk mengatasi bencana di masa depan nanti, karena seluruh informasi dan data yang dikumpulkan dari ekspedisi ini, seperti peta dasar laut beresolusi tinggi, akan dipublikasikan untuk para periset dan organisasi terkait di seluruh dunia,” tambahnya.

Di samping penelitian mengenai potensi gempa di Samudera Hindia, ekspedisi MIRAGE 2 juga akan diisi oleh program kuliah singkat yang diikuti mahasiswa dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.

Dalam program kuliah yang diadakan Komisi Oseanografi Internasional Pasifik Barat (IOC-WESTPAC), mahasiswa akan mendapat pelatihan teknis dan substantif mengenai penelitian seismik di dasar laut.

“Dalam kegiatan ini para peserta diwajibkan mengikuti beberapa mata kuliah dan dilibatkan langsung dalam akuisis data, berikut prosesnya. Dengan demikian, mereka mendapat pengalaman langsung melakukan penelitian. Harapannya pelatihan menumbuhkan semangat dan kemampuan generasi muda di kawasan untuk menjadi pemimpin pengembangan riset geosains kelautan di masa depan,” kata Nugroho, yang akan menjadi salah satu pengajar program kuliah tersebut.

Berdasarkan data penyelenggara, setidaknya ada 15 orang mahasiswa yang akan dilibatkan dalam program kuliah dan penelitian di atas Kapal Riset Marion Dufresne. “Mahasiswa tersebut berasal dari Indonesia, Myanmar, Vietnam, Meksiko, Timor Leste, Prancis, Malaysia, dan China,” tambahnya. (Ant)

Komentar