Mushala Berarsitektur China di Lombok Ramai Kunjungan

111

LOMBOK BARAT – Selain obyek wisata pantai dan pegunungan, bangunan unik dan bernilai sejarah juga banyak ditemukan di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai salah satu tujuan wisata.

Salah satu bangunan unik dan bernilai sejarah yang ramai dikunjungi wisatawan adalah Mushala berarsitektur Tiong Hoa, China, di Dusun Jurang Malang, Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat.

Sebuah bangunan mushala bernama Mushola Ridwan, dengan ornamen campuran China dan Arab, berdiri megah di atas perbukitan dikelilingi taman dan pohon cemara yang mengitari sekeliling mushola dari bawah sampai atas.

Mengingat bangunan mushala terletak di atas perbukitan setinggi 20 meter dengan luas bangunan sekitar 10 meter persegi, sehingga untuk bisa mencapai mushola harus menaiki puluhan anak tangga.

Berdasarkan catatan sejarah yang terdapat di dinding mushala, bangunan mushala berarsitektur China di desa Pakuan didirikan oleh pasangan suami istri mu’alaf keturunan Tiong Hoa, Ang Thian Kok, dan istrinya, Tee Mai Fung, dengan nama Islam Muhammad Maliki dan Siti Maryam dan memeluk agama Islam 18 Mei 1989.

“Bangunannya sangat unik dengan arsitektur sangat indah, wajar banyak dikunjungi masyarakat maupun wisatawan, karena bangunan semacam mushala berarsitektur Tiong Hoa tidak terdapat di tempat lain”. kata Hasan, warga asal Kota Mataram, Minggu (24/9/2017).

Menurutnya, bangunan unik dan bernilai sejarah seperti mushala berarsitektur Tiong Hoa kalau dikelola secara serius bisa menjadi salah satu obyek wisata religi yang bisa memberikan dampak ekonomi bagi pemerintah maupun masyarakat.

Karena selain unik, mushola tersebut juga sebagai simbol toleransi beragama di NTB, bahwa meski NTB dikenal dengan mayoritas masyarakat muslim, khususnya Pulau Lombok yang dikenal dengan Pulau Seribu Masjid, tapi entnis lain juga bisa hidup damai di tengahnya.

Ali Nurdin, wisatawan asal Pati Pulau Jawa, mengatakan, meski hanya berupa bangunan mushola kecil, tapi arsitektur bangunan dan konsep penataan bangunan dan taman sekitar yang bagus, menjadikan bangunan mushala mengundang daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.

“Kalau dari bawah bangunan musholanya mirip villa, selain lokasi tinggi, taman dan pohon cemara yang mengelilingi, menambah keindahan mushala”, katanya.

Ali Nurdin mengaku pertama kali mengetahui mushala berarsitektur Tiong Hoa tersebut dari foto yang diposting temannya di media sosial dan baru sekarang bisa datang langsung.

Selain Mushala Ridwan, Ang Thian Kok dan Tee Mai Fung juga membangun dua mushola lain sebagai pusat kegiatan dakwah di Sangiang, Desa Langko Lingsar, dan satu mushola bernama Athaaillah di rumahnya Selagalas Mataram.

Kini, setiap libur akhir pekan Mushala berarsitektur Tiong Hoa di desa Pakuan selalu ramai kunjungan, baik untuk mampir solat maupun sengaja datang menyaksikan langsung keindahan bangunan sambil berfoto.

Menariknya, lokasi mushala juga tidak jauh dari obyek wisata hutan, sungai dan kolam pemandian Sesaot Narmada, sehingga selain bisa mengunjungi mushala, wisatawan juga bisa liburan sambil mandi ke objek wisata Sesaot.

Untuk bisa sampai lokasi, dari Bandara Lombok Internasional Airport, wisatawan terlebih dahulu ke Mataram, dari Kota Mataram menuju lokasi bisa menggunakan motor atau mobil ren-car atau memesan jasa kendaraan secara online, dengan jarak tempuh sekitr 20 kilometer dari kota Mataram.

Komentar