Perayaan 1 Suro Upaya TMII untuk Pelestarian Budaya

125
Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Sri Hartati/Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA — Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Sri Hartini mengatakan, malam 1 Suro 1951 sangat istimewa dengan kemeriahan Kenduri dan Kirap Agung yang selalu diperingati di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) setiap tahunnya.

“Ini suatu hal yang sangat ditunggu, ritual melestarikan tradisi dan menjunjung tinggi nilai budaya 1 Suro 1951. Apresiasi TMII yang memfasilitasi para penghayat dan kegiatan kebudayaan,” ungkap Sri dalam sambutannya pada perayaan malam 1 Suro 1951 atau Tahun Baru Islam 1439 Hijriah di Pondopo Sasana Utama TMII, Jakarta, Rabu (20/9/2017) malam.

Menurutnya, perayaan 1 Suro ini adalah pelestarian tradisi yang masih hidup dan berkembang di masyarakat.TMII sebagai wahana pelestarian budaya selalu memperingati warisan leluhur ini.

Sri menghimbau agar kita berdoa untuk seluruh negeri melalui berbagai refleksi.Karena ditegaskan dia, inti dari peringatan 1 Suro adalah introspeksi diri, membersihkan hati, dan mawas diri. Agar apa yang akan kita lakukan ke depan lebih baik dan memberi manfaat bagi sesama.

“Intropeksi ini bukan untuk diri sendiri, tapi untuk kepentingan sesama, lingkungan, bangsa dan negara. Menyelesaikan permasalahan didukung dengan komponen ketentraman hati,” tegas Sri.

Meskipun dirinya menilai perayaan ini terlihat sepi dan berkurang peserta, tapi dia berharap tidak meninggalkan makna 1 Suro. Seperti acara ini, dijelaskan Sri, tidak sekedar seremonial tapi ada tumpeng lengkap dengan lauk pauknya yang mengandung makna luar biasa.

“Tumpeng ini berdiri tegak dikelilingi lauk pauk menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya,” kata Sri.

Kemudian lauk pauk sekitar tumpeng itu, di antaranya urap, tempe dan tahu, serta telur rebus, ayam goreng juga perkedel kentang. Itu menggambarkan hubungan manusia dengan manusia, ada kebersamaan dan gotong royong.

“Coba kalau makan cuma nasi saja tidak terasa. Makan tumpeng memberi makna hidup membangun kebersamaan,” ujar Sri.

Untuk membangun budaya bagi generasi muda, Sri akan terus mensosialisasikan dan edukasi mereka tentang apa itu 1 Suro.

Pada kesempatan ini, Direktur Utama TMII, Bambang Soetanto menyampaikan, TMII akan terus mengembangkan 1 Suro.Karena makna perenungan dan introspeksi diri sangat penting untuk menegakkan kesatuan bangsa.

“TMII sebagai wahana pelestarian budaya, telah memfasilitasi sarana ibadah para penghayat. 1 Suro ini tradisi, warisan leluhur harus dikembangkan dan lestariakan,” ungkap Bambang.

Perayaan 1 Suro ini merupakan agenda rutin dilaksanakan TMII setiap tahunnya dengan dimeriahkan gelaran wayang kulit purnomo Suro dan kirap benda pusaka.

TMII, kata Bambang, akan terus mengembangkan budaya leluhur ini dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan (Kemenbudpen) dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

Dukungan itu akan memperkuat jaringan kerjasama untuk mengenalkan kepada masyarakat terutama generasi muda. Agar cinta seni budaya Indonesia tidak beralih ke budaya asing.” Kami tetap lestarikan budaya benda dan tak benda di TMII,” ujar Bambang.

Direktur Budaya TMII, Sulistyo Tirtokusumo menambahkan, 1 Suro ini peringatan umat bagaimana kita menguatkan jati diri.Oleh karena TMII sebagai wahana pelestarian budaya bangsa memberi ruang perayaan 1 Suro 1951 bagi para penghayat, dan juga masyarakat pada umumnya.

“Penganut kepercayaan itu derajatnya sama dengan warga negara lainnya, termasuk perayaan budaya bermakna bagi mereka yaitu 1 Suro. Ini menunjuukan eksistensi sebagai penganut kepercayaan dalam pelestarian budaya warisan leluhur,” tutur Sulistyo.

Dalam hal peribadatan, TMII memfasilitasi Sasono Adirasa bagi para penghayat. Sulistyo berharap para penghayat bisa memanfaatkan Sasono Adirasa untuk eksistensi dan pengembangan kegiatan.

“Mereka hanya bertemu setiap Selasa Kliwon.Yakni setiap 35 hari sekali, padahal dalam sebulan itu ada 30 hari. Saya kira eksistensi masih kurang sehingga perlu ditingkatkan mengembangkan kegiatan,” pungkas Sulistyo.

Direktur Utama TMII, Bambang Soesanto, pada peringatan 1 Suro di Pendopo Sasana Utama TMII, Jakarta, Rabu (20/9/2017)/Foto: Sri Sugiarti.
Direktur Budaya TMII, Sulistyo Tirtokusumo pada perayaan 1 Suro di TMII, Jakarta, Rabu (20/9/2017) malam/Foto: Sri Sugiarti.
Keris Pusaka TMII diarak keliling area TMII pada perayaan 1 Suro 1951 atau Tahun Baru Islam 1439 Hijriah, Rabu (20/9/2017)./Foto: Sri Sugiarti.

Komentar