Perempuan Nelayan Sangat Berperan dalam Ekonomi Perikanan

52
Para perempuan nelayan. Foto: Dokumentasi CDN

JAKARTA – “Perempuan nelayan sangat berperan di dalam rantai nilai ekonomi perikanan, mulai dari periode praproduksi hingga ke tahapan pemasaran,” kata Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Susan Herawati.

“Perempuan nelayan di 10.666 desa pesisir yang tersebar di 300 kabupaten/kota di Indonesia berkontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan protein ikan. Oleh karena itu, keberadaan mereka sangat strategis bagi keberlanjutan generasi bangsa ini,” kata Susan Herawati di Jakarta, Senin.

Menurut Susan, dalam tahap praproduksi, perempuan nelayan berperan dalam menyiapkan bekal melaut, sedangkan dalam produksi, sebagian kecil perempuan nelayan melaut.

Kemudian, ujar dia, dalam tahap pengolahan, nelayan berperan besar dalam mengolah hasil tangkapan ikan atau sumber daya pesisir lainnya. Selanjutnya, dalam tahap pemasaran, peran perempuan nelayan sangat besar mulai dari memilih, membersihkan, dan menjual ikan.

Susan mengingatkan panduan FAO yang menyatakan bahwa negara wajib memperlakukan secara istimewa perempuan nelayan untuk mendapatkan sejumlah hak dasar seperti perumahan yang layak, sanitasi dasar yang aman dan higienis, sumber energi, hingga tabungan, kredit, dan skema investasi.

“Berdasarkan studi tersebut, Kiara mendesak pemerintah untuk segera memperkuat kelompok perempuan nelayan dan memberikan pengakuan kepada perempuan nelayan karena strategisnya peran dan kontribusi mereka bagi bangsa ini,” tegas Susan.

Ia berpendapat bahwa dengan peran perempuan nelayan yang sangat besar itu maka dapat disebut bahwa perempuan nelayan adalah pahlawan pangan.

Senada dengan Susan, Sekretaris Jenderal Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI), Masnuah menyatakan, perempuan nelayan adalah pejuang tangguh.

“Perempuan nelayan berkontribusi luar biasa kepada kebutuhan pemenuhan pangan bangsa ini. Beban yang ditanggung pun luar biasa, perempuan nelayan harus bekerja selama 17 jam per hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga nelayan dan kebutuhan protein bangsa,” tutur Masnuah.

Ironinya, ujar dia, peran strategis perempuan nelayan terancam dengan adanya kegiatan yang berpotensi merampas ruang hidup mereka seperti ekspansi perkebunan sawit di wilayah pesisir Langkat Sumatera Utara, reklamasi di Teluk Jakarta, Bali, Semarang serta Manado, kemudian pertambangan pasir besi di Jawa Tengah, serta ekspansi pariwisata di NTB dan NTT.

Sebelumnya, sebanyak 50 orang perempuan nelayan yang tergabung dalam organisasi Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) berkumpul di Jakarta untuk merumuskan gerakan perempuan nelayan di Indonesia. (Ant)

Komentar