Warga Pudak Manfaatkan Biogas untuk Memasak

50
Pengolah limbah sapi menjadi biogas. -Foto: Charolin Pebrianti

PONOROGO – Kelangkaan gas elpiji sepertinya tidak akan menjadi masalah bagi warga Desa Krisik, Kecamatan Pudak. Pasalnya, di desa tersebut setiap peternak sapi perah memiliki instalasi biogas sendiri bantuan dari pemerintah sejak lima tahun lalu.

Soirin, Ketua Kelompok Ternak Sapi Perah. -Foto: Charolin Pebrianti

Ketua kelompok peternak sapi perah, Soirin, saat ditemui mengatakan, untuk memasak di dua rumah dibutuhkan 10 kg kotoran sapi. “Kotoran hanya perlu dimasukkan ke dalam lubang biogas, nanti ampas kotoran sisa biogas juga bisa dimanfaatkan jadi pupuk,” jelasnya, kepada Cendana News, Senin (25/9/2017).

Soirin menambahkan, desanya memang dikenal sebagai penghasil susu. Karena di sini ada 50 peternak dengan jumlah sapi perah sebanyak 160 ekor. “Sebanyak 80 persen warga desa Krisik berprofesi sebagai peternak sapi perah,” tuturnya.

Awalnya, kotoran sapi hanya dimanfaatkan sebagai pupuk kompos saja. Sampai suatu hari, Kantor Lingkungan Hidup (KLH) berinisiatif memberikan bantuan biogas kepada para peternak sapi perah. Peralatan yang digunakan untuk membuat biogas, ada penampung kotoran dan reaktor. “Perawatan biogas juga mudah, cuma mengganti pipa yang kadang pecah,” cakapnya.

Menurutnya, dengan adanya biogas ini, ia dan keluarganya tidak perlu repot-repot membeli gas elpiji untuk masak setiap hari. “Gas elpiji mahal, kami tidak ambil pusing lagi,” tandasnya.

Setiap hari, Soirin hanya disibukkan mencari pakan sapi, membersihkan kandang dan memerah susu sapi. “Sapi yang sudah tidak produktif, kami jual dagingnya,” pungkasnya.

Komentar