Australia Tangkap Kapal Nelayan NTT

135

KUPANG — Petugas keamanan perairan Australia dilaporkan telah menangkap sebuah kapal nelayan asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), karena mencari biota laut di wilayah perairan negara itu secara ilegal.

Kepala Seksi Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT, Muhammad Saleh Goro yang dikonfirmasi di Kupang, Kamis (12/10) membenarkan adanya penangkapan terhadap kapal nelayan oleh petugas perairan Australia pada 7 Oktober 2017.

“Kami telah mendapat konfirmasi bahwa ada penangkapan terhadap sebuah kapal nelayan bersama lima anak buah kapal karena menangkap ikan di wilayah perairan Australia,” katanya.

KM Hidup Bahagia bertonase lima GT itu diamankan oleh petugas perairan Australia itu pada pukul 01.40 AEDT pada Minggu, 8 Oktober di utara AEEZ.

Berdasarkan laporan, kata Saleh Goro, kapal terpantau oleh petugas keamanan negara itu berlokasi di Utara dari Cape Londonderry, Teritorial Utara, sekitar pukul 19.45 waktu Australia pada Sabtu, 07 Oktober 2017.

MBC Dash-8 melihat kapal nelayan Indonesia yang berlabuh di tiga Nautical Mile (3NM), selatan Zona Ekonomi Eksklusif Australia (AEEZ), 125 nm barat-barat laut Cape Van Diemen atau kira-kira 190 nm barat laut Darwin.

Australian Fisheries Management Authority (AFMA) kemudian meminta kapal perang Australia Her Majesty Australia Ship (HMAS) Pirie untuk menangkap dan menemukan kapal ikan Indonesia itu.

HMAS Pirie terus memantau kapal tersebut dan pada jam 08.35 AEDT Minggu, 08 Oktober serta mendeteksi kapal penangkap ikan tersebut 0.15nm di sebelah selatan AEEZ (pos1025.4S 12819.2E), melakukan penangkapan ikan. HMAS Pirie kemudian menahan lima anak buah kapal Indonesia yang semua laki-laki.

Dia menambahkan, tangkapan yang ada di dalam kapal meliputi 100 kg umpan di dek, 200 kg ikan (termasuk hiu utuh), dua main line 2 km dengan 200 mata pancing.

Dash-8, memantau dari 3 nm di sebelah selatan AEEZ. AFMA telah meminta kapal dan nelayan ditangkap dibawa ke Darwin untuk penyelidikan lebih lanjut.

HMAS Pirie telah meminta kapal tersebut beserta lima (5) nelayan Indonesia ke Darwin dengan ETA 1030 AEDT pada hari Selasa 10 Oktober 2017 untuk diserahkan ke Karantina.

Menurut Saleh Goro, saat ini, pihaknya masih menelusuri pemilik kapal serta dokumen pelayaran.

“Kami baru menerima pemberitahuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dan saat ini sedang menelusuri pemilik kapal dan dokumen kapal lainnya, terutama izin beroperasi,” kata Saleh Goro (Ant).

Baca Juga
Pencemaran Laut Timor, ABA Kecam Australia KUPANG - Asosiasi Advokat Amerika Serikat (ABA) mengecam keras tindakan lambat Pemerintah Australia dan PTTEP dalam upaya menyelesaikan kasus pencemar...
Efek Greenback, Pasar Saham Australia, Melemah SYDNEY - Pasar saham Australia dibuka melemah pada perdagangan Kamis, tertekan oleh penurunan saham dan komoditas dalam perdagangan internasional sema...
Memopulerkan Wayang Kulit Dengan Bahasa Inggris di... JAKARTA – Kedutaan Besar Republik Indonesia KBRI Canberra memunculkan terobosan, memopulerkan pagelaran seni wayang kulit dengan bahasa Inggris. Hal i...
Konsulat Jenderal Australia di Surabaya Fokus Peda... SURABAYA - Australia membuka peluang investasi dan memperkuat bidang perdagangan di wilayah Provinsi Jawa Timur (Jatim), setelah meresmikan kantor kon...
Pasar Saham Australia Dibuka Melemah Setelah Harga... SYDNEY --- Pasar saham Australia dibuka lebih rendah pada perdagangan Selasa pagi (17/7/2018), karena sektor energi dan material membebani pasar secar...
Indonesia-Australia Luncurkan Kolaborasi Perubahan... JAKARTA  - Rektor Universitas Griffith, Professor Ian O'Connor dan Utusan Khusus Presiden RI untuk Perubahan Iklim, Profesor Rachmat Witoelar, meluncu...
Pasar Australia Dibuka Hati-Hati di Tengah KTT Tru... SYDNEY --- Pasar saham Australia dibuka datar pada Selasa, naik tipis karena investor tampak berhati-hati di tengah KTT antara Presiden Amerika Serika...