Eropa Desak Kamboja Batalkan Rencana Pembubaran CNRP

54
Ilustrasi Kamboja – Foto: Istimewa

PHNOMPENH – Uni Eropa meminta pemerintah Kamboja mempertimbangkan kembali keputusannya membubarkan partai oposisi utama Partai Penyelamatan Bangsa Kamboja (CNRP). Pengacara pemerintah mengajukan tuntutan hukum untuk pembubaran pada Jumat (6/10/2017)

Pengajuan pembubaran tersebut dilakukan se telah pemimpin CNRP ditangkap dan diadili dengan tuduhan pengkhianatan. Sementara Eropa menyebut, rencana pembubaran partai oposisi tersebut, membuat Perdana Menteri Hun Sen tidak tertandingi dalam proses pemilihan umum depan.

Dengan demikian Hun Sen disebut dapat memperpanjang kekuasaannya setelah lebih dari 32 tahun berkuasa. Pesaing utama Hun Sen adalah pemimpin CNRP Kem Sokha yang telah ditangkap pada 3 September.

Kem Sokha dituduh berencana mengambil alih kekuasaan dengan bantuan orang Amerika Serikat. Utusan Uni Eropa di Phnompenh menyatakan upaya pembubaran CNRP sangat mengkhawatirkan. Langkah semacam itu akan merusak alur menjelang pemilihan umum pada tahun mendatang.

“Kami mendesak pemerintah Kamboja mempertimbangkannya kembali,” ujar utusan Uni Eropa di Myanmar, Selasa (10/10/2017).

Uni Eropa adalah salah satu penyumbang keuangan terbesar bagi panitia pemilihan di Myanmar. Sebelumnya, badan itu menyerukan pembebasan Kem Sokha, namun ditolak pemerintah.

Juru bicara pemerintah, Phay Siphan, menyatakan upaya pembubaran CNRP itu adalah karena pemimpin partai tersebut dicurigai melakukan pengkhianatan. “Jika dinyatakan bersalah melakukan pengkhianatan, tidak ada yang bisa menghentikan alurnya,” katanya.

Dalam tuntutan mereka pada Jumat, pengacara pemerintah mengatakan oposisi bersekongkol dengan orang asing untuk menggulingkan pemerintah, dengan mengutip cuplikan video pada 2013, yang menunjukkan Kem Sokha berbicara tentang rencana mengambil alih kekuasaan dengan bantuan orang Amerika Serikat.

Pendukung Kem Sokha mengatakan bahwa ia hanya membahas siasat merebut kekuasaan melalui pemilihan umum, bukan revolusi atau kudeta. Hun Sen, mantan komandan Khmer Merah, yang membelot dari kelompoknya dan membantu menjatuhkannya dari kekuasaan pada 1979.

Hun Sen disebut-sebut bersekutu dengan China, yang sejauh ini adalah penyumbang dan pemodal terbesar di Kamboja. (Ant)

Komentar