Pembela Tamim Pardede Hadirkan Dua Orang Saksi dalam Sidang Ke-9

137
Muhamad Tamim Pardede tengah berdialog dengan Thowaf Zuharon, aksi ahli dalam bidang peneliti sekaligus penulis tentang komunis atau kekejaman PKI di Indonesia/Foto: M. Fahrizal

JAKARTA — Tim Advokasi Tampar sebagai pihak pembela Muhamad Tamim Pardede, terdakwa dari kasus Hatespecht dan UU ITE menghadirkan dua orang saksi ahli. Yakni Rizal Umri yang didatangkan dari Surabaya dan Thowaf Zuharon, dari Yogyakarta, saksi ahli dalam bidang peneliti sekaligus penulis tentang komunis atau kekejaman PKI di Indonesia.

DR. Sulistyowati, SH, MH, Koordinator Tim Advokasi Tampar, menyebutkan, sidang kali ini bisa dikatakan awal pencerahan untuk terdakwa dikarenakan dari pihaknya menghadirkan para saksi ahli terkait dengan kasus yang menimpa kliennya.

“Adanya saksi saksi yang kita hadirkan sekarang ini merupakan pembuka jalan untuk kelangsungan klien kami selanjutnya, kami yakin dalam waktu dekat akan dinyatakan bebas dengan bantuan keterangan para saksi yang kita hadirkan,” sebutnya.

Disebutkan juga, tidak hanya dua saksi ini saja yang dihadirkan, pihaknya sudah menyiapkan saksi-saksi lainnya yang memang berkompeten atau ahli dalam bidang yang terkait dengan kasus tersebut.

“Kita berencana akan menghadirkan saksi-saksi lain seperti psikolog, serta ormas yang peduli tentang bangsa ini, yakni ormas anti komunis,” jelasnya.

Tim Advokasi Tampar dalam persidangan kasus Hatespecht dan UU ITE/Foto: M. Fahrizal

Rizal Umri dalam memberikan kesaksiannya menjelaskan secara detail perkenalan dirinya dengan terdakwa di media social FaceBook (FB) sampai akhirnya terdakwa memposting gambar sampul buku dan beberapa isi dari buku tersebut di FB dengan caption voice dari terdakwa yang meminta agar masyarakat membeli buku tersebut untuk selanjutnya di amankan dengan tujuan agar generasi bangsa khususnya anak-anak tidak terkena atau terkontaminasi dengan isi buku tersebut.

“Siapapun akan marah dan tentunya terpancing emosinya dengan melihat isi dari buku yang diberitahukan terdakwa. Dalam buku tersebut dapat dikatakan sudah mengarah ke paham komunisme, dan tentunya itu juga sudah mengubah isi dari Pancasila,” jelasnya di persidangan.

Sementara Thowaf Zuharon, lebih menitik beratkan kepada kapasitasnya sebagai saksi ahli mengenai tentang bahaya dan kekejaman komunisme khususnya di Indonesia sejak tahun 1920 sampai dengan 1968.

“Saya disini kapasitasnya bukan sebagai saksi yang meringankan. Jika dikaitkan dengan kasus terdakwa tentu ada kaitannya dengan buku yang saya tulis yakni buku dengan judul Ayat-ayat yang disembelih menceritakan tentang kekejaman komunis,” sebutnya.

Dalam persidangan kali ini, dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak banyak memberikan pertanyaan kepada kedua saksi karena penjelasan kedua saksi sudah cukup jelas bagi mereka terkait dengan kasus terdakwa.

Komentar