hut

Penyelundupan Telur Diduga Dari Malaysia

 

CENDANANEWS, Pengiriman sekitar 270.500  butir telur ayam eropa dalam 900 egg tray dari kardus  berjumlah sekitar 20 ton berhasil diamankan oleh Balai  Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandar Lampung Wilayah Kerja Bakauheni Lampung Selatan pada Kamis malam (29/1/2015) di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni. Pengamanan tersebut merupakan hasil pemeriksaan rutin petugas BKP bersama dengan anggota Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan Bakauheni Polres Lampung Selatan.
Menurut Penanggungjawab kantor Balai Karantina Pertanian Wilker Bakauheni drh. Azhar, telur tersebut dikirim menggunakan mobil jenis tronton dari Binjai Sumatera Utara menuju Serang Timur, Banten. Telur yang disusun dalam egg tray tersebut dibawa menggunakan truk bernomor polisi BL 8541 AC.
“Kami menahannya karena telur yang jumlahnya ratusan egg tray ini tidak dilengkapi dokumen seperti yang seharusnya diperlukan untuk pendistribusian hasil peternakan sesuai aturan poerkarantinaan,” ujar drh Azhar di Bakauheni Jumat (30/1/2015).
Dokumen yang tak dilengkapi oleh sang pengirim dan tak dibawa oleh sopir, menurut drh Azhar diantaranya uji laboratorium dari provinsi terkait keterangan bebas virus Avian Influenza (AI), Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah setempat sementara sopir hanya membawa surat drop out pengiriman barang dari tempat pengiriman.Bahkan jika barang ini merupakan barang impor maka harus ada izin impor dan pemasukan barang.
“Dari uji fisik dugaan kita sementara telur ini berbeda dengan telur lokal dan dugaan awal informasi telur dibawa dari wilayah Malaysia melalui Kepulauan Riau dan dibawa ke
Sumatera Utara,” ungkap Drh Azhar.
Untuk itu pemilik asli barang tersebut yang mengaku kiriman telut tersebut sesuai prosedur, Azhar mengatakan untuk segera melengkapi dokumen resmi untuk pengiriman komoditas peternakan tersebut dan bisa menunjukkan asal telur tersebut.
“Kita beri waktu selama tiga hingga tujuh hari untuk melengkapi dokumen dari daerah setempat serta bukti telur ini memang hasil dari ternak lokal dan jika tidak ada maka telur ini bisa dikembalikan atau dimusnahkan,” ujar drh Azhar.
Jika terbukti pengiriman telur tersebut tak menyertakan dokumen resmi maka pemilik ribuan butirt telur terancam dikenai pasal 31 ayat 1 UU No 16 tahun 1992 Tentang Karantina Hewan Ikan dan tumbuhan dengan hukuman 1 tahun penjara dan atau denda sebesar 50 juta rupiah.
Sementara dalam pengakuannya kepada petugas sopir bernama Sinaga mengaku membawa telur atas suruhan Ahok yang akan dikirim Tjok di daerah Serang Banten diupah 9 Juta.
Guna penyidikan lebih lanjut mobil beserta ratusan egg tray tersebut kini diamankan di kantor BKP Kelas I Bandarlampung Wilker Bakauheni. Nilai telur dalam truk tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Telur Dari Malaysia Bisa Rugikan Peternak Lokal
Dugaan pengiriman telur dari Malaysia sebanyak 270.500 butir telur ayam eropa dalam 900 ikat karton sekitar 20 ton tersebut dikuatirkan merugikan 
peternak ayam petelur lokal.
Demikian diungkapkan oleh Penanggungjawab Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung  Wilker Bakauheni, Drh. Azhar. Jika terbukti ratusan egg tray telur tersebut didatangkan dari luar Indonesia maka akan merugikan peternak lokal.
“Ukuran telur yang berbeda dari telur lokal dilihat secara fisik oleh petugas BKP menjadi dugaan awal telur ini bukan berasal dari peternak lokal,” ujar drh. Azhar.
Selain merugikan peternak ayam petelur lokal yang bisa merusak harga telur di pasaran, ujar Azhar, tidak adanya dokumen dari dokter hewan setempat terkait uji laboratorium 
membuat telur tersebut dikuatirkan terkontaminasi virus Avian Influenza (AI) yang berbahaya untuk kesehatan konsumen.
“Makanya ketika kita minta sopir menunjukkan dokumen pelengkap seperti yang kita minta sopir tak bisa menunjukkan dengan alasan lupa membawanya,” ujar Azhar.
Dari ukuran telur yang berbeda diperkirakan telur lokal yang satu kilogram bisa terdiri dari 16 butir, setelah ditimbang petugas telur yang diamankan bisa mencapai sekitar 18-19 
butir perkilogramnya.
“Jika dijual dengan harga lebih murah dan telur ini merupakan telur dari luar Indonesia maka selain negara para peternak lokal juga dirugikan,” ungkap Azhar.
————————————————-
31 Januari 2015
Penulis : Hendricus Widiantoro
Editor : Sari Puspita Ayu
————————————————-
Lihat juga...