hut

ASDP,Pemprov Lampung Duduk Bersama Bahas menara SIGER

CENDANANEWS, Persoalan penggunaan lahan Menara Siger antara PT ASDP dengan pemerintah Provinsi Lampung diprediksi akan menemukan titik temu dan dicari solusi terbaik.

Asisten II Bidang ekonomi dan Pembangunan Pemporov Lampung Adeham mengatakan pihaknya saat ini telah membuat perjanjian baru dengan PT ASDP. Perjanjian sebelumnya yang mengharuskan Pemprov Lampung membayar tanah sewa sebesar Rp500 juta per tahun tidak mungkin lagi untuk diteruskan.

“Kami tadi sudah rapat membahas tentang kelanjutan menara siger, kita buat perjanjian baru lagi,karena perjanjian lama tidak mungkin diteruskan. Uang Pemprov sedikit sedangkan hasil dari menara siger tidak ada cuma ikon Lampung saja,” kata Adeham ,Rabu (11/2/2015).

Adeham melanjutkan solusi keberlangsungan Menara Siger yang terletak di bukit gamping di dekat areal pelabuhan Bakauheni tersebut  yaitu dengan cari menghibahkan tanah milik ASDP.

“Kami punya dua alternatif yaitu, apakah menara siger kami hibahkan ke ASDP atau tanah ASDP dihibahkan ke kami,” kata mantan Kadiskominfo itu.

Pilihan tersebut, kata dia, nantinya akan diserahkan kepada Gubernur Lampung untuk memilih kedua alternatif tersebut.

“Terserah nanti Gubernur mau pilih yang mana, keduanya ada tingkat kesulitan. Nanti akan dipilih mana yang lebih sedikit tingkat kesulitanya,” ungkapnya.

Ia mentargetkan dua minggu ke depan sudah ada jalan keluar, sebab baik ASDP maupun Pemprov Lampung sama-sama mengkaji usulan tersebut.

“Kita dikasih waktu dua minggu untuk mengkaji. Kita sama-sama melihat apa kelebihan dan kekurangan dari usulan masing-masing,” kata Adeham.

Untuk diketahui, Menara Siger merupakan bangunan dengan bentuk mahkota khusus untuk wanita Lampung yang dikenakan dalam acara acara khusus. Simbol kebesaran tersebut digambarkan menjadi sebuah ikon berbentuk bangunan berwarna dominan kuning dan merah.

Menara Siger juga menjadi lokasi yang kini menjadi tujuan wisata bagi warga di Lampung. Wisatawan bisa melihat kapal kapal di Selat Sunda dari menara pandang atau denagn teropong yang sudah disiapkan dan menjadi lokasi favorit untuk berfoto.

Sementara itu pihak PT ASDP Bakauheni yang menghadiri rapat dengan Pemprov Lampung yakni manager operasional PT ASDP Bakauheni Heru Purwanto, saat dihubungi mengaku kesepakatan belum final.

“Masih dirapatkan nanti jika sudah ada keputusan akan saya beritahu,” ujar Heru Purwanto saat dikonfirmasi melalui telepon.

Menara yang terletak di ujung Pulau Sumatera tersebut memiliki tugu Zero Sumatera yang terletak di area Menara Siger. Menara yang dibuat pada 30 April 2008 tersebut dimaksudkan sebagai titik Nol Sumatera di Selatan.

Kala itu, Gubernur Lampung yang dijabat oleh Sjachroedin ZP yakin Menara Siger akan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) hingga 15%. Angka itu berdasarkan perkiraan jumlah kendaraan 3.500 unit per hari dan 15 juta orang per tahun yang melintasi Pelabuhan Bakauheni. Dengan asumsi 15 persen saja singgah ke Menara Siger, maka setiap tahun akan menghasilkan pendapatan Rp12,5 miliar.

Menara Siger terbangun di atas bukit sebelah barat Pelabuhan Bakauheni. Bangunan tersebut dilengkapi dengan sarana informasi mengenai peta wisata seluruh kabupaten/kota se-Lampung.

Namun akhirnya terjadi polemik terkait sewa lahan yang merupakan milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan dengan kesepakatan awal Pemrov lampung harus membayar sewa untuk lahan tersebut. Namun belakangan saat kepemimpinan Gubernur baru, Ridho Ficardo karena keterbatasan anggaran pihak Pemrov Lampung tak lagi mampu menanggung beban sewa lahan tersebut sehingga sampai hari ini masih terus dicari solusi terbaik untuk pengelolaan Menara Siger.

——————————————
Kamis 12 Februari 2015
Penulis : Henk Widi
Editor : Sari Puspita Ayu
——————————————
Lihat juga...