hut

Monumen Kesetiaan di Puncak Cemara Sawahlunto

CENDANANEWS – Sebuah kota tambang yang merubah diri menjadi kota wisata tambang terus menghadirkan daya tariknya, pembenahan dan penambahan fasilitas juga dilakukan untuk dapat memberikan kepuasan kepada pengunjungnya. Terdapat banyak objek wisata yang ada di “Kota Kuali” tersebut, mulai dari wisata sejarah diantaranya Lobang Mbah Syuro bekas penambangan yang dilakukan secara manual ke dalam perut bumi, hingga arena road race untuk yang menyukai tantangan.
Tidak hanya itu, objek wisata sawahlunto juga menyimpan sebuah pemandangan yang menarik, dari sebuah spot yang berada di pinggang Gunung Pari dengan dikelilingi oleh batang cemara menyuguhkan sebuah pemandangan kota tua dengan berbagai peninggalan tambang hingga bangunan-bangunan yang didirikan oleh kolonial.  Rangkaian besi tempat penyaringan batu bara hingga sebuah cerobong asap yang menjulang tinggi dengan kubah diatasnya dari bekas pabrik serta gudang senjata yang telah berubah menjadi masjid agung di kota tersebut.
Puncak cemara yang sebelumnya hanya sebuah lokasi yang kurang diperhatikan menjadi sebuah lokasi tempat santai dan juga menjadi hotspot untuk photograpy saat ini telahmenjadi salah satu tempat yang dikunjungi oleh warga sawahlunto dan sekitarnya untuk menikmati pemandangan senja dan hiasan lampu dikala malam.
Menambah daya tarik dari lokasi tersebut, pemerintah kota mengadopsi kebiasaan di negeri manara tertinggi, Paris yakni“gembok cinta”.  Namun di Kota Sawahlunto merubahnya menjadi monumen kesetiaan dengan nuansa islami.
Monumen tersebut, akan dihiasi gembok-gembok kesetiaan yang bertuliskan nama kelompok, komunitas, atau semacamnya. Kunci pembuka gembok yang terpasang pada instalasi yang dibuat khusus tersebut, akan dibuang.Sehingga, gembok yang telah  ada di instalasi khusus tersebut, tidak akan pernah terbuka untuk selamanya. Harapannya, kesetiaan kelompok atau komunitas sekuat gembok yang terpasang bersama-sama itu.
Seperti disampaikan Walikota sawahlunto, Ali Yusuf yang menyebutkan monumen tersebut akan segara diresmikan.
“Insya Allah, monumen kesetiaan itu akan diresmikan 14 Februari mendatang, di kawasan Puncak Cemara, yang memiliki view keindahan pusat kota Sawahlunto,” katanya di sawahlunto.
Monumen kesetiaan bernuansa islami itu, akan melengkapi kawasan wisata Puncak Cemara Sawahlunto, yang kini mulai dikembangkan, dan banyak dikunjungi wisatawan ketika sore menjelang.
Ali Yusuf menjamin, monumen kesetiaan yang mirip dengan gembok cinta di Paris itu, tidak akan menjadi tempat maksiat. Sebab, akan dibungkus dengan nuansa islami, sehingga layak dikunjungi seluruh lapisan masyarakat.
Dalam peresmiannya, monumen kesetiaan itu akan dilaunching 23 pelawak nasional, Tarzan dan teman-teman, yang akan mengikrarkan nama komunitas mereka dengan nama Paskiman, dengan gembok kesetiaan.
Yogi, salah seorang pengunjung Puncak Cemara mengungkapkan, kehadiran monumen kesetiaan tersebut, akan semakin melengkapi keindahan kawasan wisata tersebut. Apalagi, jika wisatawan berkunjung di malam hari.
“Keindahan Sawahlunto akan semakin terasa jika dilihat ada malam hari. Kawasan yang berbetuk kuali tersebut dipercantik dengan hiasan ribuan lampu dari rumah warga maupun lampu penerangan umum,” ujar pria yang masih mengaku lajang itu.
Kota sawahlunto yang berpagar perbukitan disekelilingnya sering disebut dengan “kota kuali” atau “Kota Arang” (batubara). Sejak tahun 2003 dari kota idaman telah berubah menjadi Kota Wisata tambang yang berbudaya 2020. Meski masih jauh dari batas waktu, kota tersebut telah menjadi salah satu tempat tujuan di sumatera barat selain padang dan bukittinggi.
Untuk yang ingin menjadikan sawahlunto untuk menjadi tujuan wisatanya tidak perlu memusingkan untuk besarnya biaya, karena banyak diberikan kemudahan dalam berwisata, diantaranya untuk penginapan. Jika ingin menikmati penginapan murah dapat memamfaatkan fasilitas “homestay” (menginap dirumah warga dengan fasilitas laksana hotel). Selain itu terdapat berbagai objek yang gratis serta didukung oleh fasilitas wifi di titik-titik tertentu.
——————————————–
Kamis, 12 Februari 2015
Penulis : Muhsine Piliang
Editor : Sari Puspita Ayu
——————————————–
Lihat juga...