hut

Panggil Kami Pengasuh Gajah!

Na Umuh dengan gajah yang diasuhnya
CENDANANEWS, Panggil kami pengasuh, bukan Pawang Gajah. Pawang konotasinya selalu ke mistik. Sementara kami, merawat gajah tidak ada memakai mistik.
Begitu Na Umuh, asal Medan, Sumatera Utara, salah seorang pengasuh gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) atau sekarang berubah menjadi Pusat Konservasi Gajah (PKG) Minas, Siak, Riau, memperkenalkan diri.
Na Umuh, atau dipanggil Umuh, sudah sembilan tahun bergabung di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Siak, Riau. Ketika awal bergabung, dia tidak memiliki ilmu dasar tentang menjinakan binatang.
“Saya dulu pekerja serabutan, sopir, buruh, anak buah kapal, sebelum bekerja disini,” tutur Umuh.
Dia mulai bergabung ketika PLG masih berada di Sebanga. Di PLG Sebanga itu, dia memulai kerja dari mencari makan gajah, memberi makan gajah, terus meningkat memandikan gajah. Ketika PLG pindah ke Minas, Balai Besar Konservasi Daya Alam Riau yang menjadi pengelola PLG mempercayakan dia untuk merawat se ekor gajah. Penunjukan itu, karena pengelola menilai Umuh sudah dekat dengan gajah-gajah itu.
“Semua proses itu, karena kedekatan dan kasih sayang kepada binatang,” katanya.
Kasih sayang yang diberikan itu, membuat binatang yang dilindungi itu merasa dekat. Dia pun bisa mengendalikannya.
Sekarang tugasnya setiap hari dimulai dengan membawa gajah setiap pagi ke dalam hutan di Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim Minas, Siak. Sorenya, gajah itu dijemput di dalam hutan, dimandikan lalu dibawa lagi ke lokasi gajah ditambatkan dekat lokasi basecamp PLG.
    “Tidak ada jampi-jampi atau bacaan untuk menjinakan gajah itu. Jadi saya rishi juga dipanggil pawang gajah,” ucapnya tertunduk.
Di PLG Minas, disebutkannya dalam menangkap dan menjinakan gajah liar, para pengasuh yang ada di PLG Minas tidak seorang pun yang mempunyai ilmu kebatinan. Ada sekitar 30 orang pengasuh gajah di PLG Minas itu.
Ketika mereka ditugaskan mengusir atau menangkap gajah liar, mereka hanya menggunakan gajah yang jinak untuk mengusir. “Kalau gajah liar besar dan melawan, kami akan menggunakan meriam (senapan besar) untuk mengusirnya. Kalau disuruh untuk menangkap, kami akan menggunakan senapan dengan peluru bius untuk melumpuhkan gajah itu,” tambahnya.
Apakah pernah diamuk gajah, seperti yang terjadi di tempat lain?
“Alhamdulillah, saya belum pernah. Dalam merawat gajah, yang harus diperhatikan adalah tabiat gajah itu sendiri. Ada saatnya gajah itu tidak mood, seperti manusia, ingin dimanja atau tidak ingin diganggu. Pada situasi seperti itu, kita harus pintar-pintar saja mengasuhnya,” ujar Umuh. 
Tapi sebagai perawat gajah, kalau mendengar ada rekan sejawat, apakah itu diluar negeri atau di tempat lain, dia juga ikut sedih.
 
 “Memang kita sedih kalau mendengar ada rekan pengasuh gajah yang tewas akibat gajah yang diasuhnya.  Tapi itulah resiko mengasuh binatang yang beratnya bisa mencapai empat ton ini,” ucap Umuh yang mendapat tugas mengasuh gajah betina usia 40 tahun yang diberinama Indah.

—————————————————

Jumat, 20 Februari 2015
Tulisan dan Foto : Denni Risman
Editor : Sari Puspita Ayu
————————————————–
Lihat juga...