hut

Sendiri, Menjaga Pulau Dari Abrasi

CENDANANEWS, Menginjakkan kaki di Pulau Rimau Balak, ada sosok yang langsung menyita perhatian. Bukan karena cantik, bukan karena tampan tapi karena renta. Setelah berkenalan, Abdurachmin yang berumur sekitar 57 tahun ini mengisahkan tentang keasyikannya memungut biji-bijian yang berada di lumpur, dan ternyata biji-biji yang dipungut adalah Mangrove atau biji Bakau. 
Menurut Abdurachmin yang mengaku asal Banten dan menetap di Pulau Rimau ini ia prihatin melihat pohon pohon Bakau yang kini hampir hilang dari Pulau Rimau Balak. Tanpa diminta, tanpa perintah siapapun ia berinisiatif menanamnya setelah kian hari dilihatnya pohon kelapa yang ditanamnya tumbang diterjang hempasan air laut. Penanaman pun dilakukan ketika dirinya sedang tak bekerja di kebunnya yang berada di pulau tersebut. Hasilnya ribuan Mangrove tumbuh subur dan terlihat hijua berjajar rapi. Ia mengaku sengaja menanamnya seperti pagar agar saat besar bisa menjadi pagar hidup dari terjangan air laut.
Apa yang dilakukan oleh Abdurachim sangatlah berbeda dengan apa yang dilakukan oleh beberapa masyarakat di wilayah Lampung yang mendapatkan uang ratusan juta untuk menanam Mangrove dari pemilik resort sebagai bentuk tanggung jawab pemilik resort terhadap pelestarian lingkungan sekitar resortnya dibangun. Abdurachim yang menanam Mangrove tanpa dukungan dana dari pihak manapun dan ia kerjakan sendiri bisa menghasilkan barisan Mangroove yang tumbuh subur, sementara mereka yang didukung ratusan juta justru hanya menghasilkan Mangrove yang mati. 
Mengapa uang ratusan juta tersebut tak diberikan saja kepada laki laki tua yang tak mengharapkan publisitas ini. Laki laki yang menanam dengan kesadarannya akan pentingnya menjaga pulau dari abrasi. Ia pun tak memberiku banyak teori. Memintaku ikut memunguti biji biji Bakau dan menanamnya. Mangrovisasi bukan semata publisitas tapi kesadaran warga pesisir pantai yang apinya tak akan padam meski hidup terasa berat tanpa fasilitas listrik, air bersih dan infrastruktur memadai seperti jalan serta dermaga yang memprihatinkan.
Lewat Abdurachmin, kesadaran untuk berbuat bagi lingkungan seharusnya bukan karena ingin mendapat pujian. Bahkan meski ia sempat dibilang kurang kerjaan namun Bakau yang ditanamnya usia tahunan pun sudah subur ditambah dengan bakau bakau usia bulanan yang akan menjadi saksi kegigihan laki laki tua ini. Semoga api semangat bagi para pecinta lingkungan tanpa pamrih sepertinya akan terus menyala.
—————————————–
Senin, 2 Februari 2015
Penulis : Henk Widi
Editor : Sari Puspita Ayu
—————————————–
Lihat juga...