Cagar Alam Krakatau Miliki Kekayaan Hayati yang Unik

CENDANANEWS– Sekretaris Dinas Kabupaten Lampung Selatan Sutono mengungkapkan cagar alam Krakatau memiliki keanekaragaman  alam hayati yang cukup unik. Sutono mengungkapkan telah melakukan pendataan spesies yang ada di Gunung Anak Krakatau. Dari pendataan di Cagar Alam Gunung Krakatau tercatat sekitar 154 spesies binatang yang ada di wilayah tersebut.
Menurutnya rentang waktu dari erupsi Krakatau pada tahun 1883 hingga 2013 sudah 100 tahun sejak letusan awal. Rentang waktu hingga ratusan tahun tersebut menurut Sutono menjadi masa suksesi di lereng Gunung Anak Krakatau baik tumbuhan maupun binatang.
Cagar alam Krakatau sendiri menurutnya meliputi Gunung Krakatau Purba, Pulau Panjang, Pulau Sertung serta Gunung Anak Krakatau. Terletak di gugusan Kepulauan Krakatau, Pulau Sebesi yang masuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung.
Dari sekitar 154 spesies binatang diantaranya jenis burung, mamalia, serta reptil penghuni habitat pantai. Beberapa burung yang sudah terdata oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam ujar Sutono seperti  burung Kacer, Kutilang, Raja udang, Punai, berbagai jenis burung pantai.
“Artinya dalam waktu tertentu datang jenis burung, mamalia, kadal, biawak,  yang tinggal dan menjadi komuintas di habitat Gunung Anak Krakatau ini, ” terangnya Minggu (15/3/2015).
Selain binatang tumbuhan pun menjadi kekayaan hayati yang ada di Cagar Alam Gunung Anak Krakatau. Beberapa tanaman tersebut didominasi tanaman pantai seperti Cemara, Ketapang, Waru, Pandan, Pinus, Laban, Mengkudu dan tanaman lain yang bisa beradaptasi dengan kondisi  hutan pantai yang tanahnya berstruktur pasir.
Rata rata tumbuhan yang ada di cagar alam Gunung Krakatau terang Sutono  adalah spesies yang bisa beradaptasi dengan kondisi habitat pantai dengan tanah berpasir.
“Spesies tumbuhan sekitar 53 spesies yang tidak mengalami suksesi permanen sebab Gunung Anak Krakatau juga terkadang erupsi seperti 2 September 2012 yang merusak sebagian tanaman di sini, ” ungkap Sutono.
Ia berharap spesies yang ada di Cagar Alam Gunung Anak Krakatau bisa menjadi bahan penelitian baik mahasiswa, atau peneliti lainnya. Penelitian tersebut bisa menjawab kekayaan alam hayati yang semakin beragam di wilayah cagar alam Krakatau yang semakin bertambah dari tahun ke tahun. Ia juga menyayangkan justru banyak wisatawan yang datang dari wilayah Banten padahal Gunung Anak Krakatau masuk wilayah Lampung Selatan.
“Ini menjadi pemikiran Pemkab Lamsel untuk menyelenggarakan Festival Krakatau dengan mengemas acara sedemikian rupa agar lebih menarik dari Festival Krakatau yang sebelumnya, ” terangnnya.
Ia berharap agar BKSDA Lampung bisa menginventarisir spesies yang ada di cagar alam Gunung Krakatau. Sebab kekayaan cagar alam tersebut tidak hanya yang ada di daratan tetapi yang ada di perairan terutama alam bawah laut.
Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No 85/Kpts-II/1990 tanggal 26 Februari 1990, Kepulauan Krakatau ditetapkan sebagai Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau dengan luas 13.735,1 ha (11.200 laut dan 2.535,1 ha darat) yang dikelola BKSDA II Tanjungkarang.
Sebelumnya sejak tahun 1919, Pulau Sertung, Krakatau Besar dan Krakatau Kecil juga sudah ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan SK Gubernur Jenderal Belanda No. 83 Stbl 392 tanggal 11 Juli 1919 Jo No 7 Stbl 392 tanggal 5 Januari 1925.
Secara geografis cagar alam laut ini terletak antara 105 derajat 20’15” sampai 105 derajat 28”22” bujur timur dan 06 derajat 03’25” hingga 06 derajat 10’43” lintang selatan. Secara administratif, cagar alam ini masuk ke dalam Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Di Pulau Sertung banyak tumbuh jenis kayu kilangir (Chriscocheton mierecorpus), ketapang (Terminalia catapra), mara (Macaranga fanarius), cemara (Casuarina aquisetifolia), melinjo (Gnetum gnemon) dan dadap (Ficus ampelas).
Di Pulau Krakatau Besar terdapat kilangir, cemara, dadap, ketapang, waru,mara, bisoro (Ficus hispida), dan cangkudu (Morindo catrifalia). Sementara di Krakatau Kecil ditumbuhi kilangir, waru, dadap, dan mara.
Selain flora, fauna juga banyak mendiami cagar alam ini. Di Palau Sertung misalnya, ditemukan biawak (Varanus sp), burung troco (Plegadis facinellus), tikus (Rattus rattus), burung raja udang (Halcyon funebris) burung kacer (Copsychus sp), burung podang (Oriolus chinearis), wili-wili (Esacus magnirostris), ular sanca (Phyton sp), ular dahan (Phyton sp), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hujan
Sementara itu keanekaragaman jenis hewan, tumbuhan yang ada di Cagar Alam Gunung Karakatau ini menarik  minat salah seorang pemerhati lingkungan asal Inggris Michell(50). Sebagai pemerhati lingkungan terutama satwa satwa yang mulai terancam kepunahannya Michell mengaku tertarik jauh jauh datang dari London ke Indonesia terutama Lampung untuk melihat konservasi satwa Gajah di Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur dan juga Lumba lumba di Teluk Kiluan Kabupaten Pesawaran.
“Saya membuat catatan catatan yang akan saya bukukan untuk melihat bagaimana cara konservasi dan juga keanekaragaman satwa yang ada di Indonesia,” ujar Michele pada Cendananews.com beberapa waktu lalu.
Kunjungannya ke Pulau Sebesi, Pulau Krakatau merupakan kunjungan ekspedisi pertama kalinya. Ia berencana akan mengunjungi Krakatau dalam lain kesempatan bersama rekan rekannya dari Inggris.

———————————————————-
Minggu, 15 Maret 2015
Jurnalis : Henk Widi
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...