Candi Badut, Destinasi Wisata Situs Sejarah

Candi Badut, Malang [Foto:CND]
CENDANANEWS (Malang) – Satu lagi destinasi wisata situs sejarah berupa candi yang dapat anda kunjungi bersama keluarga ketika berada di Malang yaitu Candi Badut. Candi ini terletak di Dusun Badut Desa Karang Widoro Kecamatan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Menurut Hari Juru Pelihara (Jupel) Candi Badut dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan. Candi Badut dibangun pada tahun 760 M abad 8 oleh Raja ke dua yaitu Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan, ujarnya kepada Cendana News Sabtu (28/3/2015).
Penamaan Candi Badut sendiri menurut sejarah diberikan oleh orang belanda yang bernama Dr. Brandes dan Dr.V.D.K. Bosch dikaitkan dengan nama Liswa yang tertulis pada baris ke dua prasasti Dnoyo. Liswa sendiri merupaka nama lain dari raja Gajayana. Dalam kamus bahasa sansekerta kata Liswa memiliki arti anak Kemidi (tukang tari) yang dalam bahasa Jawa disebut Badut.

Hari menjelaskan, Candi Badut ini adalah candi tertua di Jawa Timur. Candi ini berfungsi sebagai tempat pemujaan bagi agama Hindu Siwa, jelasnya.

Menurut Hari sebenarnya Candi Badut ini dulunya merupakan candi yang sudah jadi, namun diperkirakan karena faktor alam (gempa) dan faktor manusia (perang) sehingga candi ini hancur dan tertimbun dan kemudian ditemukan oleh orang Belanda.
Candi Badut ditemukan oleh orang Belanda pada jaman pemerintahan Belanda pada tahun 1921. Saat ditemukan pertama kali candi ini belum berbentuk candi namun berupa gundukan bukit. Namun stelah dilakunkan penggalian ternyata gunduka bukit tadi merupakan pondasi sebuah bagunan yaitu kaki candi. 
Candi sendiri menurut Hari biasanya terdiri dari tiga bagian yaitu Kaki Candi, Tubuh Candi dan Atap Candi. Namun untuk kondisi Candi Badut sendiri pada awal ditemukan dan kemudian dilakukan pemugaran (rekontruksi) pertama oleh pemerintah Belanda pada tahun 1923-1925, hanya terdiri dari satu bagian yaitu kaki candi. Baru setelah dilakukan pemugaran (rekontruksi) ulang untuk kedua kalinya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Mojokerto pada tahun 1990-1993 bangunan candi ini baru bisa terbentuk menjadi dua bagian yaitu kaki candi dan tubuh candi. 

Hari mengatakan bagian atap candi sendiri sebenarnya  ditemukan namun bangunan pendukungnya yang sudah hancur atau tidak ditemukan sehingga candi Badut ini hanya tetap terdiri dari dua bagian saja, jelasnya.
Hari mengaku sebenarnya batu-batu yang terdapat pada candi sekarang ini tidak seluruhnya asli, ada beberapa batu yang diganti dengan batu pengganti karena batu aslinya tidak ditemukan. Menurutnya, batu yang asli terbuat dari batuan Andesit sedangkan batu pengganti terbuat dari batu kali, meskipun sama-sama merupakan batu alam namun jenisnya berbeda.
Batu-batu pengganti ini diberi tanda berupa lubang dan sejenis lem untuk membedakan antara batu yang asli dan batu pengganti. Selain itu penandaan  ini dilakukan sebagai penanda bahwa pernah dilakukan penggantian batu pada tahun tersebut. Penggantian batu ini dilakukan pada pemugaran (rekontruksi) kedua.

Hari menjelaskan bahwa corak Candi Badut sebenarnya sama dengan corak candi-candi yang ada di Jawa Tengah sehingga pemerintahan Belanda dan BP3 dalam melakukan rekontruksi Candi Badut berkiblat pada candi-candi yang ada di Jawa Tengah. Menurutnya Candi Badut ini cukup unik, karena meskipun becorak seperti candi yang ada di Jawa Tengah namun justru lokasinya berada di Jawa Timur. 
“Terdapat sedikit perbedaan dari segi bentuk, candi di Jawa Timur bentuknya lebih ramping daripada candi di Jawa Tengah”, ujarnya.
Pada Candi Badut tidak hanya candi induk saja yang ditemukan namun juga ditemukan candi pengiring atau disebut candi Purwara yang berada di depan candi induk. Candi Purwara ini berbentuk sama seperti candi induk namun ukurannya lebih kecil.  Namun pondasi candi-candi pengiring ini sudah tidak lagi berbentuk sehingga ada yang kemudian ditimbun lagi dan diberi tanda sebagai pembuktian bahwa ditempat tersebut terdapat candi purwara, namun ada juga candi purwara yang tetap diperlihatkan meskipun sudah tidak berbentuk candi lagi dan malah terkesan berbentuk seperti kolam, terang Hari.
Hari menerangkan, pada Candi Badut hanya terdapat beberapa relif. Pada sebelah kanan kiri pintu masuk candi terdapat relif berbentuk seperti sayap burung  yang menurut pengakuan Hari adalah relief burung Kinara Kinari dan juga terdapat relief Kala Makara yang terdapat di sebelah kanan kiri tangga.
Terdapat banyak relung-relung tempat arca di Candi Badut, namun Arca yang masih tersisa hanya ada satu yaitu Arca Dewi Durga Mahahesa Sura Mardini yang terletak di sebelah Utara. Jika berkiblat dari candi-candi yang ada di Jawa Tengah, relung yang berada di selatan seharusnya berisi Arca Agastia, sebelah Timur berisi Arca Ganesha, dan pada bagian depan yaitu sebelah Barat seharusnya relung berisi Arca Mahakala dan Nandi.
Bangunan Candi Badut memiliki luas kurang lebih 14 m² dan tinggi kurang lebih 8-9 m² dari yang awalnya diperkirakan memiliki tinggi 16-17 m². Candi ini menghadap ke arah Barat. Didalam Candi ini terdapat Lingga Yoni yang merupakan perwujudan Siwa dan Parwati yang digunakan sebagai tempat pemujaan.
Candi Badut saat ini oleh masyarakat yang beragama Hindu rutin setiap tahun digunakan untuk ritual hari raya nyepi seperti ritual Ngembak Geni. Selain itu oleh masyrakat juga sering digunakan sebagai tempat penyucian pusaka, selamatan desa, ritual bulan purnama dan ritual-ritual lainnya.

Namun sayang sekali, saat Cendana News memasuki dan mengelilingi candi ini dapat terlihat jelas cukup banyak pahatan-pahatan maupun ukiran tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang dengan sengaja mengukir nama mereka di batu-batu candi sehingga dapat merusak keindahan dan keaslian dari candi ini.
Hal ini dibenarkan oleh Hari, di batu-batu candi memang banyak terdapat ukiran-ukiran nama dari pengunjung. Hal ini disebabkan dulu ketika candi ini belum di kelolah oleh BPCB trowulan, belum terdapat pagar sehingga siapapun bisa masuk ke area candi dan melakukan apapun tanpa pengawasan. Namun setelah di kelola BPCB dan terdapat JUPEL yang bertanggung jawab atas candi ini, masyarakat tidak bisa lagi seenaknya masuk dan seenaknya melakukan sesuatau yang bisa merusak candi, ujarnya.
Menurut Hari, rata-rata pengunjung Candi Badut ini sekitar 500 orang per bulan yang kebanyakan dari kalangan pelajar. Candi Buka mulai pukul 08.00-16.00 wib. Untuk masuk ke candi tidak di pungut biaya tertulis cukup sukarela saja, tutupnya.

———————————————————-
Sabtu, 28 Maret 2015
Jurnalis : Agus Nurchaliq
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...