hut

Soak Ngalam Salah Satu Alternatif Oleh-oleh dari Malang

Saok Ngalam

CENDANANEWS (Malang) – Selain buah apel dan keripik tempe saja yang bisa dijadikan oleh-oleh, Produk satu ini juga dapat menjadi salah satu buah tangan dari wisatawan yang menginjakan kaknya di Kota Malang.  
Jika Bali terkenal dengan T-Shirt (kaos) Joger dan Jogja dengan Kaos Dagadunya. Maka Malang juga memiliki kaos sendiri yang diberi nama “Soak Ngalam”.
Berawal dari ide semasa kuliah, Tjandra Purnama Edhi (46) berhasil membuat Soak Ngalam menjadi salah satu oleh-oleh khas Malang yang banyak di buru wisatawan. Hal tersebut dikarenakan masih minimnya jenis oleh-oleh dari daerah tersebut menjadikan Kaos Malang mudah mendapatkan tempat dihati wisatawan.
“Pilihan oleh-oleh khas Malang yang ditawarkan kepada wistawan masih kurang, dan saya ingin membuat oleh-oleh selain makananan,  dan terciptalah ide untuk membuat oleh-oleh kaos,”katanya.
Tjandra Purnama Edhi

Awal tahun 2009 Tjandra mencoba merealisasikan idenya tersebut dengan membuat kaos yang bercirikan Malang dengan label “Soak Ngalam”, produk tersebut dititipkan di toko Arema untuk melihat tanggapan masyarakat. Ternyata tanggapan masyarakat cukup bagus sehingga pada bulan Desember 2009 dan Soak Ngalam makin berkembang.

“Soak Ngalam ini merupakan pengembangan dari usaha garmentnya. Nama Soak Ngalam sendiri sebetulnya diambil dari Bahasa walikan khas Malang, Soak yang artinya Kaos sedangkan Ngalam artinya Malang”, ujarnya.
Malang sebenarnya memiliki dua bahasa khas, yang pertama yaitu Bahasa Walikan “Osob Kiwalan” (kata-kata yang cara membacanya dari belakang ke depan) dan yang kedua yaitu Bahasa Malangan (hampir sama denga Bahasa Jawa tetapi ada beberapa frasa kata yang berbeda). Dua Bahasa ini yang sekarang rupanya mulai di tinggalkan oleh masyarakat Malang. 
“Melalui media kaos tersebut saya menuangkan kata-kata yang mungkin bagi anak-anak sekarang sudah tidak pernah di dengar. Harapan saya dengan adanya kaos Soak Ngalam yang berisi bahasa khas Malang, nantinya semua Masyarakat Indonesia terutama Masyarakat Malang sendiri bisa mengetahui bahwa Malang sebenarnya memiliki Bahasa daerah sendiri yaitu Bahasa Walikan maupun Bahasa Malangan” harapnya.
Tjandra menceritakan bahwa saat usaha kaosnya mulai berkembang, banyak orang terutama anak muda yang kemudian “mengekor” usaha kaosnya dengan menggunakan Bahasa walikan. Namun dirinya tidak khawatir dengan hal tersebut, karena kaos Soak Ngalam mempunyai ciri khas sendiri.
Ciri khas kaosnya yang petama yaitu kata-kata yang dia gunakan dalam desain kaosnya menggunakan pakem bahasa walikan yang biasa digunakan. Sedangkan orang lain hanya asal membolak balikkan kata dan tidak menggunakan pakem bahasa walikan yang sesuai, padahal tidak semua frasa kata bisa di balik. Yang kedua yaitu, bahan kaos yang dia gunakan adalah Cotton Combed 32 S yang tipis, dingin dan padat ketika dipakai. Sedangkan bahan kaos yang digunakan orang lain kebanyakan mereka menggunakan Cotton 20 S yang bahannya agak tebal dan agak kasar, urainya.
Untuk pemasarannya kaosnya, selain melalui toko dia juga memasarkannya melalui media online. Harga untuk kaos dewasa dipatok dengan harga Rp. 70.000-80.000,- sedangkan untuk kaos anak-anak dibanderol dengan harga Rp. 50.000-60.000,-. Selain kaos, dia juga menjual kemeja dan jaket dan juga Mug.
“Dengan berjalannya waktu Alhamdulillah selama beberapa tahun ini minat masyarakat Malang maupun wisatawan luar kota dan luar negeri terus meeningkat sehingga sampai sekarang saya suda membuka lagi dua toko Soak Ngalam baru yang berada di Jalan Raya Mulyoagung No.3 Sengkaling Malang dan di Museum Angkut Batu dengan Omzet masing-masing toko sekitar 30-60 juta per bulan,” tuturnya.

Mengenai persaingan, Tjandra mengatakan bahwa “sampai sekarang saya merasa tidak punya pesaing, karena saya punya prinsip yaitu saya harus berjalan ke depan, kalau saya merasa bersaing berarti saya masih menoleh ke belakang. Karena saya merasa harus terus berjalan ke depan, jadi yang ada hanya optimisme”, tuturnya.
“Saya menggap pesaing sebagai ide inspirasi untuk membuat sesuatu yang berbeda dari mereka yang tentunya akan membuat saya terus bisa melangkah ke depan,” tambahnya.

———————————————
Rabu, 29 April 2015
Penulis : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor : ME.Bijo Dirajo
———————————————

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!