hut

Usaha Tradisional Pembuatan Kerupuk Ikan

Proses Penjemuran Kerupuk
CENDANANEWS(Lampung)- Siapa yang tak mengenal kerupuk. Kerupuk menjadi makanan teman makan nasi atau berbagai makanan lain bagi kalangan penyuka kerupuk. Pembuatan kerupuk pun sudah mulai dikerjakan oleh para pelaku industri rumahan terutama di daerah dengan bahan baku yang mudah di dapat. Seperti halnya di Lampung Selatan dimana bahan baku tepung tapioka dan tangkapan ikan nelayan mudah didapat.
Hasil tangkapan ikan yang ada di Lampung Selatan Provinsi Lampung menarik minat Dedi Irawan (34) untuk memproduksi kerupuk berbahan dasar ikan. Bersama anggota keluarga serta dibantu beberapa kerabat lainnya Dedi memproduksi kerupuk rasa ikan yang dilakukan dengan cara tradisional.
Menurut Dedi Irawan kepada Cendananews.com, usaha tersebut sudah ditekuninya selama hampir setengah tahun lebih. Bermodalkan uang 10 juta ia mulai membeli peralatan untuk produksi kerupuk serta bahan bahan yang digunakan untuk produksi kerupuk.
“Kami mengambil bahan pembuatan kerupuk berupa tepung tapioka dari daerah Lampung Tengah langsung dari pabrik serta ikan dari nelayan di sini,” ungkap Dedi Irawan, Senin (20/4/2015).
Bersama sang istri serta beberapa kerabat, setiap harinya terutama saat cuaca panas dan sedang tidak hujan, Dedi memproduksi sebanyak 50 kilogram hingga 1 kuintal tepung aci atau tapioka.
Ia mengungkapkan proses produksi kerupuk diawali dengan pembuatan adonan antara tepung tapioka dan bahan tambahan berupa ikan jenis sarden. Kedua adonan yang sudah kalis selanjutnya akan digiling dalam mesin khusus hingga tercampur sempurna. Setelah adonan menyatu berikut perasa kerupuk maka adonan akan dimasukkan dalam tabung khusus yang selanjutnya akan dipres dan disalurkan ke tabung dan pipa pipa.
“Saluran dari pipa tersebut yang akan mengucur dari atas dan para pekerja akan meletakkan cetakan khusus untuk membentuk kerupuk dalam ukuran tertentu,” terang Dedi Irawan.
Setelah cetakan cetakan kerupuk dalam bentuk lingkaran tersebut dibuat selanjutnya hasil cetakan diletakkan dalam wadah khusus yang akan dipindahkan ke alat pengukusan. Proses pengukusan dimaksudkan untuk membuat matang kerupuk tersebut dengan menggunakan suhu tertentu melalui uap air.
“Proses pengukusan menggunakan bahan baku api dari kayu bakar,membutuhkan waktu sekitar lima belas menit sebelum diangkat,” ujar Dedi.
Setelah proses pengukusan maka proses selanjutnya adalah penjemuran. Kerupuk yang masih basah akan diangin anginkan dalam nampan lalu dipindahkan ke alat penjemuran terbuat dari bambu.
Dedi menerangkan proses penjemuran tergantung faktor cuaca,jika cuaca sedang panas terik maka proses penjemuran hanya memerlukan waktu sekitar setengah hari. Sementara jika mendung atau bahkan hujan proses penjemuran dilakukan dengan cara diangin anginkan di dalam rumah. 
“Kalau hujan terus menerus bahkan kami biasanya justru tidak berproduksi sebab akan membuat kerupuk tidak sempurna, biasanya kami istirahat menunggu saat panas,” ungkap Dedi.
Setelah setengah hari kerupuk tersebut diangkat dan dibawa masuk ke ruangan produksi selanjutnya. Kerupuk tersebut akan diopen menggunakan mesin khusus untuk proses pengeringan yang sempurna. Setelah diopen maka kerupuk tersebut masih harus digoreng menggunakan minyak goreng dan digoreng hingga matang.
“Meski sudah diopen kerupuk masih akan digoreng, setelah digoreng kerupuk akan ditiriskan dan dimasukkan dalam kantung kantung plastik khusus,” ujar Dedi.
Proses selanjutnya kerupuk tersebut akan dibawa oleh para pendistribusi kerupuk ke warung warung makan atau warung warung kerupuk yang ada di desa desa. Kerupuk biasanya dimasukkan dalam satu kaleng khusus agar awet. Dalam satu kaleng Dedi mengungkapkan biasanya terdiri dari 40 kerupuk yang dibjual dengan harga Rp 15.000,- per kalengnya.
“Warung warung makan akan diantar kerupuk dari kami dan biasanya tak sampai seminggu kerupuk tersebut sudah habis terutama warung warung makan,” ujar Dedi.
Kerupuk produksi berbahan baku ikan, tepung Tapioka yang diproduksi olehnya dan keluarga pun beberapa waktu lalu sudah ditinjau oleh Puskesmas Penengahan untuk memeriksa kandungan, kebersihan serta bahan bahan yang digunakan. Soal rasa, ciri khas rasa ikan dalm kerupuk buatannya diakui memang menggugah selera untuk teman makan nasi.
“Kebetulan kami memang tidak menggunakan pengawet dan bahan bahan yang digunakan juga bersih, karenanya kami tetap terus berproduksi dan pihak dinas kesehatan tidak meminta kami menutup usaha kami,” ujar Dedi.
Dari usaha pembuatan kerupuk tersebut Dedi mengaku bisa mempekerjakan beberapa pemuda baik untuk produksi maupun untuk para kanvaser yang mengantar kerupuk tersebut ke warung warung. Ia mengaku usaha yang terbilang usaha kecil tersebut memang belum mendapat bantuan dari pihak manapun namun ia tetap terus berproduksi selama bahan baku masih ada dan masyarakat masih menyukai rasa kerupuk hasil buatannya.

Dari pantauan Cendananews.com beberapa warung pecel, warung makan pun menjual kerupuk buatan Dedi Irawan. Warung tersebut biasanya menyediakan kerupuk tersebut untuk teman makan soto ayam ataupun pecel yang menjadi makanan merakyat. 

———————————————-
Senin, 20 April 2015
Jurnalis : Henk Widi
Photografer : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————-

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com