Ada Indikasi Pelemahan dan Penggiringan Opini Negatif Terhadap Pasar Tradisional

IKAPPI saat melakukan pelatihan
CENDANANEWS (Nasional) — Akhir-akhir ini Pasar Tradisional dikepung dengan kabar-kabar duka dan tidak sedap, mulai kebakaran pasar, beras sintetis berbahan plastik hingga bawang impor ilegal. 
Kebakaran pasar terjadi seakan-akan sporadis, tapi bila diperhatikan, lebih dicermati motifnya seringkali mirip diantara pasar satu dan pasar lainnya. “Ada prakondisi lewat isu relokasi” lanjut IKAPPI. Lalu publik dan pedagang dipaksa percaya bahwa penyebab kebakaran adalah adanya konsleting. 
Kebakaran pasar telah membunuh banyak pedagang pasar perlahan-lahan. Aktivitas perdagangan mereka terhenti padahal roda ekonomi keluarga terus berputar. Dampak ekonominya menjalar kemana-mana. Kerugian yang ditimbulkan sangat besar. Lalu, terjadi migrasi pelanggan secara besar-besaran dari pasar tradisional yang terbakar ke ritel modern/supermarket, “ini bom waktu, dan ini fakta, bukan rekayasa” tegas IKAPPI
Menurut IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia), semua kabar duka tersebut muaranya sangat jelas, yaitu pelemahan pasar tradisional dan penggiringan opini negatif. “Jujur saja kami melihat seperti ada skema penggiringan opini negatif terhadap pasar tradisional” tulis IKAPPI melalui akun media sosialnya @DPP_IKAPPI
IKAPPI menyatakan bahwa indikasi ini sudah sejak lama, masih berlangsung hingga kini, bahkan semakin masif. Tetapi IKAPPI mengakui bahwa arus penggiringan opini negatif terhadap pasar tradisional semakin kuat setelah keluarnya Surat Edaran Mendag tentang Moratorium Ritel Modern dan Permendag No. 6 Tahun 2015 
“Tetapi kami tidak ingin menunjuk siapapun yang berkepentingan dalam situasi ini, kami sepakat untuk jadikan semua masalah ini sebagai cermin untuk berbenah” lanjut IKAPPI. 
Begitu juga dengan kasus beras sintetis berbahan plastik, suasana seakan-akan gaduh, pelanggan dibuat khawatir untuk belanja beras di pasar tradisional. “Parahnya lagi banyak pernyataan yang tidak bertanggung jawab dari berbagai pihak yang menyudutkan pedagang pasar tradisional” lanjut IKAPPI
Pernyataan Kapolri, Jendral Badrodin Haiti dan Mentri Perdagangan, Rachmat Gobel, membuat situasi cukup tenang bahwa tidak ada beras plastik beredar di pasar tradisional. “Sikap IKAPPI jelas, apabila ada oknum nakal, tangkap-tindak dan jangan sudutkan pedagang pasar tradisional”
Tetapi ada fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi bahwa isu beras plastik mempengaruhi omzet para pedagang beras di pasar tradisional, “Omzet mereka turun 30%, pertanyaannya, siapa yang mau menanggung kerugian mereka? Negara?” lanjut IKAPPI.
Penurunan omzet tersebut, lagi-lagi membuktikan bahwa penggiringan opini negatif terhadap pasar tradisional akan berdampak terjadinya migrasi pelanggan beras pasar tradisional ke ritel modern/supermarket. Maka, IKAPPI mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali belanja ke pasar tradisional dan sadar untuk selalu memberi produk lokal termasuk beras.
“Kita tidak pernah tahu kapan orkestra opini negatif terhadap pasar tradisional ini berakhir, tugas IKAPPI dan seluruh anak bangsa yang peduli Pasar Tradisional adalah terus mengedukasi agar tetap mempercayai pasar tradisional, maka gerakan Ayo Kembali Belanja ke Pasar Tradisional harus terus diserukan” tutup IKAPPI.
Foto : Pelatihan yang diselenggarakan IKAPPI untuk pedagang 

—————————————————————————————————-
Rabu, 28 Mei 2015
Penulis : Sari Puspita Ayu
Sumber : Abdullah Mansuri – Ketum DPP IKAPPI dan Akun resmi IKAPPI 
Foto : Dokumen resmi IKAPPI
—————————————————————————————————-
Lihat juga...