Balikpapan Alokasikan 6,9 Persen Dana APBD Untuk Sanitasi

Balaikota Balikpapan
CENDANANEWS (Balikpapan) – Pemerintah Kota Balikpapan mengalokasikan anggaran untuk program sanitasi sebesar 6,9 persen dari Rp3 triliun Total APBD kota. Menurut Walikota Balikpapan Rizal Effendi, program sanitasi salah satu program 342 kota/kabupaten yang sangat penting dan disepakati minimal daerah mengalokasi sekitar 2 persen dari APBD. 
“Sekarang seluruh kota di Indonesia menjadikan program sanitasi salah satu program yang sangat penting.  Kita sepakat minimal tiap daerah alokasikan 2 persen anggaran. Yang hebat pemerintah Jawa Barat mengalokasikan anggaran Rp600 miliar untuk sanitasi, kita baru 6,9 persen dari APBD kota,” papar Walikota Rizal effendi yang juga ketua Aliansi Kota/Kabupaten Peduli Sanitasi, Rabu (27/5/2015).
Disebutkan, Gubernur Kaltim juga telah meminta seluruh kepala daerah kota/kabupaten agar program sanitasi ini menjadi program perioritas.
“Di Balikpapan saya kira sudah tidak ada lagi orang buang air di sungai. Tapi kita masih punya beberapa kawasan kumuh,” katanya.
Balikpapan sebagai kota terbesih di Indonesia dengan 18 piala adipura dan dua diantaranya adipura kencana. Bahkan Balikpapan menjadi kota terbesih di tingkat Asia Tenggara. 
“Kalau budaya bersih, sehat ini tidak melekat di anak-anak kita sedih dan kecewa. Karena itu anak-anak sekalian budaya bersih ini harus kalian tunjukan dalam keseharian. Kalau air dalam kemasan plastiknya itu jangan dibuang sembarang taruhlah di bak sampah,” pintanya saat sambutan acara kesadaran hari Sanitasi di Balikpapan.
Dikesempatan yang sama Direktur PPLP Kementerian PU menyebutkan kerugian akibat kurang baiknya pengelolaan sanitasi di Indonesia mencapai Rp50 trilyun setiap tahunnya. 
“ Bayangkan kerugian sebesar itu. Kalau lingkungan kita, lokasi wisata kita tidak bersih dan sehat, orang tidak akan datang kembali. Itulah kerugian yang harus ditanggung akibat sanitasi terabaikan,” ujar Maliki.
Pemerintah pusat pun telah menargekan pada tahun 2019 akan bebas dari persoalan sanitasi yang tidak baik. “Jadi kita punya prakarsa 100 0 100. 100 persen pelayanan air minum, zero (0) untuk kawasan kumum dan 100 persen untuk pelayanan sanitasi yang layak,” ungkapnya.
Menurutnya program sanitasi tidak cukup dengan hanya program fisik tapi juga program non fisik seperti penyuluhan, edukasi, pengembangan kelembagaan dan bentuk lainnya.
——————————————————-
Rabu, 27 Mei 2015
Jurnalis       : Ferry Cahyanti
Fotografer : Ferry Cahyanti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...