Beras Plastik, Teguran untuk Lebih Perhatikan Petani

Beras Sulawesi
CENDANANEWS (Renungan Sore) – Beras plastik atau sintetis, merupakan sebuah kasus perdagangan yang marak terjadi dibeberapa daerah di Indonesia, terutama Kota-kota Besar. Beredarnya beras tersebut menjadi sebuah teguran disaat pemerintah melupakan komitmennya untuk tidak mengimpor beras dan melupakan janji lebih memperhatikan petani.
Disaat sebuah kebijakan berlaku, dikala pemerintah kembali melakukan impor beras, sebuah berita mengejutkan datang dari pasar yang ada di daerah Bekasi dan Bogor, kasus beras plastik muncul ke permukaan dengan bantuan informasi dari berbagai media, dan hal ini menimbulkan kekhawatiran dari konsumen.
Kekhawatiran yang sangat beralasan, beras plastik yang dikonsumsi akan berdampak kepada kesehatan konsumen, dampak jangka pendek akan mengakibatkan sakit perut, mual, karena tidak bisa langsung dicerna, sedangkan untuk jangka panjang akan menyebabkan kanker.
Beras plastik yang diduga dari hasil impor tersebut, merupakan teguran kepada pemerintah untuk tidak melupakan janjinya. Janji akan menjadikan Indonesia Swasembada beras, janji tidak akan mengimpor beras.
Belajar dari kesalahan, kasus tersebut bisa menjadi cambuk bagi pemerintah, agar lebih memperhatikan nasib petani yang saat ini berada di ambang keterpurukan ekonomi. Keluarga petani yang telah banyak melahirkan Sarjana, Intelektual hingga Wakil Rakyat, bekerja tanpa mengenal lelah dibawah terik mentari dan ditengah kesulitan dalam himpitan ekonomi.
Banyak hal yang dihadapi petani, diantaranya, lahan pertanian yang perlahan telah berubah fungsi, hingga harja jual gabah yang terus menurun namun bertolak belakang dengan harga pupuk yang mahal serta langka. 

Meski banyak yang menyebutkan, lahan pertanian terus meningkat, namun dari fakta dilapangan, lahan pertanian telah banyak beralih fungsi. Selain itu, perekonomian berada didalam ambang memprihatinkan, Dari data BPS, pendapatan petani hanya Rp.1,82 juta hingga Rp.3,27 pertahun. itu sangat miris jika dibandingkan dengan kerja yang mereka lakukan.
Dengan minimnya penghasilan dan banyaknya perubahan fungsi lahan, membuat keluarga petani berubah haluan, dari data Data BPS, rumah tangga tani pada tahun 2013 berjumlah 14,1 juta rumah tangga turun 0,1 juta dari tahun 2003. Namun jika diambil dari data sensus pertanian, penurunan rumah tangga tani mencapai 16, 23 persen. yakni sensus tani 2003 berjumlah 31,23 juta keluarga menjadi 26,14 juta keluarga tani pada tahun 2013.
Tentunya hal ini berbanding terbalik dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat. Sebuah pertanyaan yang harus dicarikan solusinya. kenapa rumah tangga tani menjadi berkurang. 

Pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh petani sangat besar, yakni, sewa lahan (untuk yang tidak memiliki lahan), Pupuk, dan yang paling tragis, saat panen, harga beras langsung anjlok akibat banyaknya stok dan juga ditambah dengan kebijakan Pemerintah untuk impor beras.
Jika melihat ke 25 tahun yang lalu, petani mendapatkan masa jayanya. pupuk murah, peralatan dan penyuluhan disediakan pemerintah. banyak sarjana-sarjana yang lahir dari keluarga petani. 
Sudah saatnya pemerintah dan pihak terkait sadar dan kembali membangun pertanian yang ada di Indonesia. Jangan sampai seperti pepatah, Kacang lupa kulitnya, yang melupakan jasa petani yang telah membantu perekonomian Indonesia.
Setiap masalah tentunya ada jalan keluar, tergantung dari keinginan untuk menyelesaiakan masalah. Jalan keluar sebenarnya telah ditunjukan dengan jelas, tergantung keinginan dari pihak terkait untuk memakainya.

Sebagai salah satu jalan keluar, yang langsung diperlihatkan pasar, dengan maraknya isu beras plastik, masyarakat kembali menaruh kepercayaan kepada beras lokal. Hal ini dapat dimamfaatkan pemerintah untuk kembali menumbuhkan keluarga petani yang setiap tahun terus berkurang. Tentunya dengan kajian-kajian yang lebih menyeluruh untuk kembali menuju kejayaan pertanian di Indonesia
——————————————————-
Jumat, 29 Mei 2015
Penulis     : ME. Bijo Dirajo [Editor]
Foto         : Ferry Cahyanti
——————————————————-
Lihat juga...