BI: Transaksi Non Tunai Masih Rendah di Indonesia

Seminar GNNT di Balikpapan
CENDANANEWS (Balikpapan) – Bank Indonesia mencatat, transaksi non tunai berbasis pembayaran elektronik di Indonesia masih relatif sangat rendah. Posisi Indonesia berada dibawah negara Malaysia dan Singapura.
“Posisi tahun 2013, transaksi tunai masih mendominasi berkisar 99,4 persen. Negara lain seperti Thailand transaksi tunai di level 97,2 persen sedangkan Malaysia 93,3 persen. Singapura tergolong seimbang karena transaksi tunainya hanya 55,5 persen,”kata Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ida Nuryati saat menggelar seminar di Balikpapan, Jumat (15/5/2015).
Disebutkan, dari data tersebut, pihaknya meminta Perbankan kooperatif untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan transaksi non tunai terkait gerakan nasional non tunai (GNNT) yang digalakkan Bank Indonesia (BI) bersama perbankan. 
“Bank harus kooperatif. Jangan sampai kepercayaan masyarakat turun dalam menggunakan instrumen non tunai dan kembali ke tunai,” ungkap Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Ida Nuryati. 
Ida menjelaskan GNNT digagas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pelaku bisnis dan juga lembaga pemerintah agar menggunakan instrumen non tunai dalam setiap transaksi keuangan karena memberi orientasi kemudahan, efisiensi dan aman. 
Untuk mewujudkan sistem pembayaran yang efisien BI memastikan akan tetap menjunjung aspek perlindungan konsumen, memperhatikan perluasan akses dan kepentingan nasional. Melalui peningkatan elektronifikasi transaksi pembayaran dan peningkatan infrastruktur sistem pembayaran. “Ya salah satunya menyusun sentralisasi pembayaran utility bills dan mendorong penggunaan transaksi pembayaran pemerintah secara elektronik dengan lebih aktif, dan terkoordinasi,” kata Ida Jumat (15/5/2015).
Selain itu, untuk mewujudkan layanan non tunai yang baik pihaknya juga meminta kepada operator untuk memberikan layanan maksimal dan perbankan juga wajib memberikan informasi kepada nasabah tentang manfaat serta risiko dari setiap produk. 
“Harapannya tiap bank memiliki divisi khusus pengaduan yang bisa merespon cepat semua keluhan,” imbuhnya.
Sementara itu terkait transaksi online, saat ini kejahatan yang paling banyak diadukan ke Bareskrim meliputi penipuan. Baik melalui situs ataupun lewat broadcast message. Termasuk melalui email. “Kasus penipuan sudah dipecahkan, baik penangkapan dan penindakan,” ulas Kanit 2 Subdit IT dan Cyber Bareskrim Polri AKBP Sugeng Hariyanto.
———————————————————- 
Kamis, 14 Mei 2015
Jurnalis     : Ferry Cahyanti
Fotografer : Ferry Cahyanti
Editor       : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-
Lihat juga...