Bupati Biak Papua Diduga Lakukan Pemukulan Terhadap Wartawan

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Patrige Renwarin
CENDANANEWS (Jayapura) – Victor Parlembangan, wartawan surat kabar harian Cenderawasih Pos (Cepos) diduga kena “tonjok” dari Bupati Biak, Thomas Ondi, saat wartawan tersebut tengah jalani tugas jurnalistiknya.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Patrige menilai kasus yang dialami salah satu wartawan cetak di Kabupaten Biak merupakan suatu tindak pidana. Pihaknya juga akan menindaklanjuti setiap laporan masyarakat yang merasa menjadi korban tindak pidana.
“Prinsipnya setiap laporan warga akan kami tindaklanjuti, siapa-pun korbanya dan tidak memandang siap yang dilaporkan,” tegas Patrige, Senin (11/05/2015).
Wartawan Cepos Pegang Pamflet Ditujukan ke
Bupati Biak
Sementara itu, wartawan surat kabar harian Cepos, Viktor Palembangan, korban penganiayaan itu mengaku kejadian terjadi di Komplek Perumahan SKB Ridge Biak, tepatnya di Posko korban kebakaran Pasar Inpres, Sabtu (9/5) pukul 15.15 WIT. Mulanya, Viktor dipanggil oleh salah satu pimpinan SKPD Biak untuk meliput peninjauan Bupati di Posko Korban kebakaran.
Usai pertemuan dengan Kepala BPBD, Ia berinisiatif mewawancarai Bupati, namun ditolaknya. Bahkan, menurut Viktor, dirinya malah dimarahi dan diancam oleh Bupati apabila tidak memuat pemberitaan tentang penanganan korban kebakaran oleh Pemda Biak.
Tak hanya itu, Viktor juga mengaku dianiaya oleh Bupati dihadapan para korban kebakaran, hingga menyebabkan memar dan lebam diarea bibir bagian kanan.  Paska kejadian, Viktor mengku sudah melaporkannya ke Polres Biak Numfor  atas perlakuan Bupati Biak tersebut.
”Waktu dipukul saya sempat sempoyongan, kemudian Bupati menyampaikan jika saya tidak memuat berita penanganan Pemkab Biak, maka saya akan dihilangkan,” terang Viktor.
Pimpinan Redaksi Cepos, Yonathan saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut dan pihaknya telah melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib. “Kami sudah laporkan kasus penganiayaan ini ke Polres Biak Numfor dan kemungkinan penanganannya dilimpahkan ke Polda Papua. Jadi kami serahkan semua prosesnya ke polisi,” kata Nathan sapaan akrabnya.
Saat ini, lanjut Nathan, pihaknya masih fokus dengan proses hukum dan memperhatikan keamanan Fiktor dan keluarganya di Biak. “Untuk sementara Viktor dan keluarga sudah kami evakuasi ketempat yang aman,” ujarnya.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura, Victor Mambor berikan komentar terkait insiden tersebut, ia katakan tindakan Kepala Daerah tersebut sudah dianggap menghalangi tugas jurnalistik. Pihaknya juga menyarankan korban maupun perusahaan yang menaungi korban melakukan bantuan advokasi.
“Siapapun tidak dibenarkan melakukan pemukulan terhadap wartawan, baik itu Bupati atau Presiden sekalipun. Sebab, wartawan bekerja dilindungi Undang-Undang, maka itu perlu adanya advokasi dari perusahan tempat korban bekerja,” kata Viktor.
Senada hal itu, Ketua Indonesian Journalist Network (Jaringan Jurnalis Indonesia) Papua,  Roberth Vanwi menuturkan pemukulan seorang pejabat itu adalah kejadian memalukan, dimana, menurutnya insiden tersebut terjadi disaat kunjungan Presiden ke Papua. “Seperti mau tunjuk jago saja,” kesal Vanwi.
Tindak kekerasan yang di alami wartawan harian Cepos itu, lanjutnya, diduga dilakukan Bupati Kabupaten Biak Numfor, Thomas Alfa Edison yang mengakibatkan korban Viktor mengalami luka pada mulut.
“Dengan tegas saya mengecam aksi premanisme seorang abdi negara dantak patut di contohi dan kami mengecam sejumlah oknum Satpol PP Biak Numfor yang mengancam korban dan keluarga,” ujarnya.
Pihaknya juga mendesak aparat kepolisian sebagai aparatur negara segera menangkap Bupati dan sejumlah pengikutnya yang  telah bersama sama menganiaya dan mengancam korban dan keluarganya.
————————————————-
Minggu, 10 Mei 2015
Jurnalis : Indrayadi T Hatta
Foto     : Indrayadi T Hatta
Editor   : ME. Bijo Dirajo
————————————————-
Lihat juga...