Dermaga Tradisional Desa Canti Lampung Tumpuan Warga Antar Pulau

Aktifitas di Dermaga Tradisional Desa Canti Lampung
CENDANANEWS (Lampung) – Kondisi dermaga Desa Canti Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan Provinsi Lampung masih terbilang sederhana. Kondisi tersebut sudah berlangsung puluhan tahun, bahkan sebelum maraknya Pulau Krakatau menjadi tujuan wisatawan.
Dari pantauan media ini, dermaga sepanjang sekitar 25 meter tersebut merupakan infrastruktur cukup vital bagi masyarakat yang berada di Pulau Sebesi, Pulau Sebuku. Dua pulau tersebut memiliki penduduk yang mayoritas bekerja sebagai pekebun dan nelayan dan tinggal dalam satu desa bernama Tejang Pulau Sebes.
Kondisi yang cukup tua pada dermaga telihat pada tiang tiang pancang yang sudah terlihat besi yang berkarat dan bahkan beberapa tiang yang menghujam ke dasar air laut tersebut diantaranya sudah aus tergerus air laut.
Papan papan sebagai penopang pun jauh dari kesan sempurna sebuah dermaga yang sekaligus menjadi dermaga wisata wisatawan dari mancanegara diantaranya dari Jepang, Korea, Jerman, Inggris, Spanyol itu. Tak ada perahu perahu khusus wisata yang terbuat dari fiber, semuanya merupajan perahu milik nelayan yang digunakan untuk sarana transportasi untuk menuju Pulau Sumatera atau sebaliknya ke Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku.
“Masih perlu perhatian, tapi sebagai masyarakat kecil kita tidak memiliki kebijakan dan hanya menerima, kalau sudah rusak parah mungkin baru diperbaiki lebih bagus, kalau masih bisa dipakai ya dipakai,”ungkap salah satu warga yang menjadi pemilik warung di sekitar dermaga, Muhamad Arsan (45) saat ditemui di warungnya oleh media ini Senin (11/5/2015).
Beberapa kuli angkut terlihat mengangkut hasil bumi dari Pulau Sebesi diantaranya kelapa, kopra, kakao, petai, serta hasil bumi lainnya yang akan dijual ke Pulau Sumatera. Beberapa wisatawan domestik pun terlihat dengan rombongan yang baru bersandar di dermaga Canti setelah mereka berwisata di Pulau Sebesi dan Pulau Krakatau.
“Kami tadi bersama rombongan wisatawan dari Jakarta katanya menginap sejak hari Jumat dan akan pulang ke Jakarta hari ini,”ungkap Solimah, seorang wanita warga Pulau Sebesi yang baru mendarat.
Solimah dan beberapa warga lain mengaku kondisi perairan hari ini cukup bersahabat, namun pada masa masa tertentu kondisi perairan yang bergelombang tinggi membuat penyeberangan dengan perahu tradisional tersebut tidak bisa dilakukan. Warga biasanya menyeberang ke Pulau Sumatera untuk membeli kebutuhan sehari hari yang tidak ada di Pulau Sebesi.
Dermaga tradisional Canti menjadi salah satu penghubung menuju Pulau Sebesi meskipun beberapa ada yang berangkat dari dermaga Boom Kalianda meski jarak tempuh lebih jauh. Pulau Sbesi merupakan sebuah Pulau di Gugusan Gunung Krakatau. Setiap hari ada dua kali jadwal pelayaran dengan kapal tradisional, yaitu pukul 07.30 dari Pulau Sebesi ke Canti dan pukul 13.30 dari Canti ke Pulau Sebesi.
Sementara Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi, Syahroni mengaku mendapat sarana dan prasarana penyeberangan dari Pulau Sebesi, Pulau Sebuku ke Pulau Sumatera masih terbilang sederhana. Ia juga mengaku belum mengetahui sampai kapan kondisi tersebut akan tergantikan dengan adanya sarana kapal yang lebih modern dan bisa sekaligus menjadi kapal untuk para wisatawan.
“Maunya sih ada kapal sejenis kapal roro seperti di Bakauheni-Merak, tapi kalau yang menggunakan hanya warga lokal mungkin tak sebanding biaya operasionalnya sehingga ya masih warga aj yang memiliki kapal tradisional,”ungkap Syahroni. 
Pulau Sebesi adalah pulau berpenghuni yang letaknya paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Perjalanan naik kapal dari Pulau Sebesi ke Gunung Anak Krakatau hanya 1,5 jam (sekitar 36 kilometer). Dari Pulau Sebesi, Gunung Anak Krakatau dapat terlihat samar-samar.
Pulau Sebesi terdiri atas empat dusun yang tergabung dalam satu desa, yaitu Desa Tejung Pulau Sebesi. Desa tersebut masuk Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.
Menurut Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi Syahroni, luas Pulau Sebesi sekitar 2.350 hektar. Jumlah penduduk mencapai 2.727 orang atau sekitar 850 keluarga.  

————————————————-
Minggu, 10 Mei 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto     : Henk Widi
Editor   : ME. Bijo Dirajo
————————————————-
Lihat juga...