Di Pasaman, Diplomatic Tour West Sumatera Disambut “Lukah Gilo”

Tarian Lukah Gilo

CENDANANEWS (Padang) – Sebanyak 30 orang perwakilan dari 24 negara yang mengadakan diplomatic tour ke Sumatra Barat (Sumbar). Telah sampai di Kabupaten Pasaman. Mereka meninjau otensi panas bumi yang ada di kabupaten tersebut. Mereka yang sampai pada Sabtu (30/5/2015) pagi disambut dengan tradisi dan kesenian “Lukah Gilo”.
Lukah Gilo adalah sebuah kesenian untuk mengendalikan sebuah alat penangkap ikan/bubu atau dalam bahasa minang bernama Lukah. Yang unik dari kesenian ini adalah bahwa bubu atau lukah tersebut sudah diberi mantra oleh para pawang atau yang dikenal masyarakat dengan Kulipah, sehingga dapat bergerak sendiri seperti melompat atau bahkan menari dengan sendirinya, sesuai dengan keinginan dari kuliphanya.
Untuk itulah kesenian ini diberi nama Lukah Gilo. Selain untuk melestarikan budaya, kesenian ini juga dimaksudkan untuk mengembangkan dan menguji ketangkasan anak-anak dalam nagari itu sendiri. Apalagi dalam upaya menggaet para investor yang tengah berkunjung mencari potensi dan peluang apa yang bisa ia investasikan di Sumbar.
Pada umumnya kesenian Lukah Gilo ini menyebar di beberapa Nagari yang ada di Sumatera Barat. Salah satunya yang ada di Pasaman. Di kabupaten ini, tradisi lukah gilo biasanya dipertunjukan dalam pesta anak nagari. Dari beberapa sumber dan data yang ada, kesenian Lukah Gilo sudah ada sejak jaman Raja Adityawarman memerintah di kerajaan Minangkabau. Kala itu, banyak sekali tradisi magis yang berkembang. Lukah gilo salah satunya.
Sampai pada masa kaum Paderi, kesenian ini sempat menghilang dan kembali lagi di munculkan oleh sebagian masyarakat yang peduli dengan cara kembali menggelarnya pada beberapa acara serta mewariskan ilmunya secara turun-temurun.
Namun dari masa kemasa, kesenian ini mulai hilang dan jarang dimainkan. Pada kesempatan diplomatic tour ini, lukah gilo ditampilkan dan membuat para calon investor itu berdecak kagum dan kaget. Pada awal pertunjukkan tiga orang muncul ke tengah lapang. Seorang kulipah dan dua orang yang memegang Lukah atau biasa mereka di sebut Peladen. Lukah ini terbuat dari rotan yang memiliki panjang sekitar 50-60 Cm dan didandani menggunakan kain hitam lalu baju berwarna merah. Lukah besar ini didandani menyerupai manusia, lengkap dengan batok kelapa untuk kepala dan dua buah kayu untuk tangannya.
Dua peladen memegang lukah sambil duduk bersila, lalu kulipah membacakan mantranya. Ketika mantra sudah selesai di baca, lalu kulipah  menggerakkan rotan yang ada di tangannya. Setiap kulipah menggerakkan rotannya sambil membaca mantra, lukah pun bergerak mengikuti irama ayunan dari kulipah.
Membuat semua yang menonton terkesima dan keheranan, tak terkecuali para dubes dan investor tersebut. lukah pun akan bergerak semakin menggila tak terkontrol. Tugas sang peladen pun mulai berjalan, yaitu berusaha memegangi lukah agar tidak terjatuh ke lapangan. Beberapa kali, lukah hampir mengenai penonton.
Peladen yang semakin kewalahan memegangi lukah yang semakin menggila tersebut. Kulipahpun semakin menghentakkan rotannya ke lantai, maka lukah pun akan semakin menggila bergerak kesana kemari dengan cepatnya. Sampai di akhir acara kulipah kembali menjinakkan lukah yang menggila tersebut. Yang unik lagi ada mitos yang berkembang saat ada orang lainnya yang berusaha menjinakkan lukah ini, maka mereka dipastikan akan kerasukan. Untung saja tidak ada yang mencobanya saat itu.
Begitulah sepenggal penyambutan oleh masyarkat Pasaman untuk Program diplomatic tour west sumatera yang  merupakan rangkaian dari update  from the region. 80 kantor perwakilan duta besar yang ada di Indonesia, sekitar 24 negara datang ke Sumbar, seperti Bulgaria, Irak, Papua Nugini, Maroko, Ukraina, Swiss, Venezuela, Yaman, Singapura, dan lain-lain.
Seusai meninjau potensi geothermal yang ada di Pasaman ini, para rombongan akan ke Batu Sangkar. Pada Ahad (31/5) para rombongan akan menuju ke kawasan wisata bahari Mandeh, Pesisir Selatan.
Kunjungan Diptolatic Tour West Sumatera merupakan sesuatu yang langka dan momen ini bisa dimanfaatkan oleh kepala daerah yang dikunjungi sebaik meungkin. Selain menyiapkan potensi yang tersedia sebaik mungkin, momen itu dinilai efektif untuk mempromosikan daerah baik dari segi pelayanan dan perizinan serta mempersiapkan cendramata yang akan diberikan kepada para dubes berikut perwakilan yang datang.
Dari data yang diberikan  pihak Protokol, Drs. Kuswandi, MM tentang acara Diptolatic Tour West Sumatera yang berkunjung ke Sumbar diantaranya 17 Dubes yaitu Peru, Laos, Bulgaria, Ukrania, Sudan, Libya, Finlandia, Croatia, Hungary, Fiji, Irak, Mexico, Swiss, Repulik of Korea, Jordan dan Solomon Islan serta Papua Nugini. Sedangkan delapan perwakilan yaitu dari negara Venezueka, Suriname, Yaman, Singapura, Uni Emirat Arab (UEA), Laos dan Mozambique, serta utusan Wakil Asosiasi Internasional Parlemen Asia (AIPIA).

Tari Pasambahan

——————————————————-
Sabtu, 30 Mei 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad, 
Fotografer : Istimewa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...