Galanggang Silat Nagari Batagak Sumbar Kembali Ramai

Perguruan Silek 
CENDANANEWS (Agam) – Sumatera Barat (Sumbar) yang sangat identik dengan Silat, hampir setiap nagari dan luhak (Daerah Minangkabau) memiliki jurus silat khusus. Sehingga dulunya, setiap nagari di Sumbar memiliki sebuah galanggang (gelanggang tempat beradu silat). Namun kemodernan membuat galanggang mulai sepi.
Beberapa tahun belakangan, silat kembali di giatkan. Nagari-nagari kembali meramaikan galanggang. Tak terkecuali di daerah Batagak Kabupaten Agam. Sebagai sebuah tradisi,  silat menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan suatu nagari di Ranah Minang Sumatera Barat.
Silat tradisi juga merupakan bahagian dari pembangunan karakter Adat Bandi Sarak, Sarak Bansandi Kitabullah ( ABS-SBK) yang merupakan jati diri masyarakat Minangkabau dalam menata diri, kehidupan adat dan budaya ditengah-tengah kehidupan sehari-harinya.
Salah satu Tuo Silek (Sesepuh silat), daerah Kabupaten Agam, tepatnya di Nagari Batagak Kecamatan Banuhampu. Mulai berharap lagi agar, tradisi silat yang ada di Sumbar terkhusus untuk Nagari Batagak bisa kembali berkembang. Haji Kobar namanya, tuo silek ini pernah melatih kopassus RI.
Haji Kobar mulai menaurh harapan pada sebuah galanggang yang dibuka sejak Sabtu (9/5/2015) lalu. Saat dihubungi cendananews pada Senin (11/5/2015) siang. Sangat berharap agar gelanggang ini bisa menelurkan pendekar-pendekar baru dari gelanggang ini.
Pembukaan Galanggang Silek
Meski baru resmi dibuka, galanggang ini sudah ramai dipadati anak-anak dan pemuda yang ingin berlatih silat. Anak-anak ini rata-rata diantar oleh orang tua mereka untuk ikut latihan silat yang digelar setelah Maghrib.
“Pada pembukaan galanggang silat tradisi Silih Berganti Sabtu lalu, juga dihadiri Wagub (Wakil Gubernur) Muslim Kasim, Tokoh Tuo-tuo  Silat, baik yang dari Agam, Lintau, Maninjau dan  yang lainnya. Besoknya semakin banyak yang datang mengantarkan anaknya. Rata-rata masyarakat sekitar nagari Batagak,” ujar Haji Kobar, Senin (11/5/2015).
Tak lengkap rasanya jika menjadi minang, tanpa pandai bersilat. Karena bagi masyarakat minang, silat bukan saja sebuah tradisi. Tapi sudah menjadi jati diri. Karena belajar silat, berarti belajar mengendalikan diri dari sifat buruk, belajar memilih yang lebih baik.
“Dalam silat, akan diajarkan bagaimana membentuk karakter, membangun nilai solidaritas, belajar bersiasat, bertaktik, berhitung kekuatan lawan dan belajar menyusun strategi serta kesabaran,” jelas Haji Kobar.
Selain itu, Haji Kobar juga berkisah tentang kejayaan silat saat menghadapi penjajah.
“Tanpa pesilat dan pendekar pada masa penjajahan, tentulah tidak ada perlawanan. Karena pada masa itu, kita hanya punya keahlian beladiri, bukan senjata. Sehingga banyak para pendekar yang menjadi ancaman serius bagi penjajah, bukan pendekar lelaki saja. Siti Manggopoh, siti Aisyah Kamang dan perempuan minang lainnya mampu membuat Belanda kelabakan,” lanjut Haji Kobar.
Wagub Menyalami Tetua Silek
Meski begitu, ia masih cemas dengan tradisi silat yang semakin terpinggirkan. Generasi muda sudah terlena dengan kemajuan teknologi. Padahal silat bukan soal beladiri secara fisik saja, namun juga beladiri secara akal dan hati.
“Sedikit sekali para tuo silek yang menurunkan ilmunya, ini karena jarang ada yang menuntut ilmu dan belajar bersungguh-sungguh. Saya sangat takut, tradisi silat ini akan dibawa mati bersama para tuo-tuo sileknya. Jika satu pendekar meninggal, maka itu sama saja dengan satu generasi silat habis. Kami sangat berharap agar dengan adanya sasaran ini bisa menjadi salah satu upaya untuk melestarikannya,” pungkas Haji Kobar.
————————————————-
Senin, 10 Mei 2015
Jurnalis : Muslim Abdul Rahmad
Foto     : Muslim Abdul Rahmad
Editor   : ME. Bijo Dirajo
————————————————-
Lihat juga...